7 Hal Menakjubkan yang Bisa Dilakukan Selama Berlayar di Kepulauan Komodo


Traveling- it leaves you speechless, then turns you into a storyteller- Ibn Battuta

Sejak Kepulauan Komodo dinobatkan sebagai New Seven Wonders of Nature tahun 2012, semakin banyak jumlah wisatawan yang mengunjungi Pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini.
Walaupun budget yang dikeluarkan tidak sedikit, dari tahun ke tahun jumlah wisatawan terus saja meningkat. Kepulauan Komodo sudah terkenal hingga mancanegara. Pembaca akan lebih banyak menjumpai bule di Bandara Komodo, yang akhir Desember 2015 lalu telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, ketimbang wisatawan domestik sendiri. Penerbangan keLabuan Bajo 60 % nya didominasi oleh wisatawan asing.
Salah satu wisata yang sedang populer 3 tahun terakhir ini adalah “Sailing Komodo”. Sailing Komodo adalah paket wisata yang menawarkan wisatawan untuk berlayar dan tinggal di dalam kapal atau bahasa kerennya “Live On Board”. Wah, asyik sekali bukan? Di dalam kapal? Iya, operator paket wisata di Labuan Bajo akan merekomendasikan paket yang sesuai dengan budget dan itinerary yg kita miliki. Bisa paket 2 hari 1 malam, 3 hari 2 malam, bahkan bisa 5 hari 4 malam. Semua aktivitas seperti makan, minum, mandi, hingga tidur tersedia di dalam kapal. Saat traveling kemarin, kapal yang menjadi penginapan saya saat itu memiliki panjang 30 meter dengan 8 kamar yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, lampu, selimut, dan fasilitas lainnya. Tentu sebuah perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup ketika mengarungi Laut Flores dalam yang birunya menyejukkan mata dan perbukitan tandusnya menyerupai Afrika.

Selama berlayar itu apa saja yang bisa kita lakukan? Berikut 7 hal yang menantang yang bisa dilakukan selama "Live On Board".
1. Bertemu Komodo di Pulau Rinca
Pulau Rinca atau yang disebut juga Loh Buaya merupakan salah satu tempat hidupnya komodo. Pulau tidak berpenghuni ini bisa didatangi mulai Pukul 07.00 – 17.00 WITA. Selama kita berada di Pulau ini, kita akan ditemani oleh petugas yang biasa disebut ranger. Para ranger ini akan menemani kita menuju area di mana komodo itu hadir. Jumlah ranger yang menjadi pemandu kita disesuaikan dengan jumlah peserta yang datang saat itu. Di Pulau Rinca, hidup kurang lebih 2000 ekor komodo. Karena Rinca tidak berpenghuni, akan mudah bertemu binatang yang oleh penduduk setempat ini disebut buaya, dibandingkan di Pulau komodo. Yang menarik adalah Pulau Rinca memiliki wisma yang bisa disewa oleh wisatawan yang ingin merasakan lebih dekat lagi dengan binatang langka ini. “Kami menginap di sini semalam kak,” ujar tiga orang pemuda asal Jakarta dan Bandung yang sore itu sedang santai di beranda wisma. Selama di pulau ini Pak Syaiful sebagai ranger grup kami menjelaskan bagaimana komodo bertelur hingga memangsa musuhnya. Komodo hanya makan sekali dalam sebulan. Namun saat melahap mangsanya dia bisa makan hingga tak berbekas. Berbanggalah Indonesia memiliki satwa langka yang tidak bisa dijumpai di negara manapun di dunia ini.

Komodo di Rinca

2. Trekking di Pulau Padar
Pulau Padar, pulau yang fotogenik ini pastikan masuk dalam itinerary kamu selama Live On Board. Letaknya secara geografis di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Ketika pembaca sudah sampai di puncak, akan terlihat bahwa Padar adalah pulau yang berkontur. Jika ingin mendapatkan best sunrise, turunlah dari kapal, jam 04.15 WITA dan memulai pendakian jam 04.30 WITA. Kemiringan 60 derajat, tanah tandus, bebatuan, kerikil serta medan yang sedikit licin adalah tantangan yang dialami selama proses pendakian sebelum mencapai puncak bukit. Setelah 45 menit mendaki, pemandangan di bawah ini akan didapatkan sebagai upah bersusah payah tadi. Menakjubkan bukan? Iya, menakjubkan karena ini masih di Indonesia lho. “Saya hampir menyerah mendaki, tapi tinggal sedikit lagi jadi sangat sayang jika tidak sampai puncak,” ujar Merischa, teman seperjalanan saya saat itu. Gunakan sepatu khusus trekking atau sandal gunung selama trekking agar tidak licin ketika digunakan di jalan menurun medan yang miring.


Padar nan penuh pesona

3. Menikmati Matahari Terbenam di Gili Laba
Salah satu tempat hits yang harus didatangi selama perjalanan mengelilingi Laut Flores ini adalah Gili Laba. Kadang banyak juga orang yang menyebutnya Gili Lawa Darat. Bukit dengan kemiringan 45 derajat ini ditempuh selama 45-60 menit pendakian. Jika ingin memilih jalur yang tidak ekstrim, bisa berjalan santai di sisi kiri Gili Laba. Apa yang dicari? Mau sunset? Pemandangan di sana bagus sekali. Mau sunrise? Ciamik juga. “ Tidak sia-sia saya mendaki dua kali di Gili Laba ini. Betul-betul menakjubkan,“ kata Pak Iben, travelmates saya yang sudah berusia senior ini. Berlabuh selama semalam di Gili Laba membuat saya bisa mendapatkan pemandangan matahari terbenam dan matahari terbit keesokkan harinya. Perairan Gili Laba yang biru tosca , dipadu dengan perbukitan dan sabana yang tandus membuat kita seakan berada di Afrika. Salah satu hal yang langka yang saya dijumpai selama di Gili Laba adalah bertemu rusa. Ahh, bahagia sekali melihat fauna ini makan dan minum di sepanjang garis pantai Gili Laba. Jika bermalam di pulau ini, jangan sungkan meminta acara barbeque kepada koki kapal. Ikan bakar segar hasil tangkapan dari laut diberi dengan bumbu-bumbu yang tersedia adalah menu makan malam yang tidak terlupakan.


Gili Laba meyerupai Afrika

4. Snorkeling di Pink Beach
Keindahan bawah laut Pink Beach membuat wisatawan tidak sabar bermain dengan ikan-ikan cantik, terumbu karang berwarna merah muda, dan satwa bawah laut lainnya. Sebelum kapal bersandar di Pink Beach, teman-teman saya sudah lengkap dengan alat snorkeling, pelampung, dan mulai turun ke laut satu persatu. Karena saya tidak snorkeling, yang saya lakukan adalah bermain pasir dan berjemur di pinggir pantai yang pasirnya putih bercampur merah muda ini. Ternyata warna merah muda pada pasir dihasilkan oleh pecahan-pecahan koral yang berwarna merah muda. Walaupun garis pantainya tidak panjang, namun Pink Beach ini dikelilingi oleh gugusan karang yang memang mempesona bagi pecinta wisata bawah laut. Nanda, travel blogger dari Jakarta juga memiliki pendapat yang sama. “Karangnya bagus, tadi ketemu banyak ikan kecil warna warni, “ ujarnya sambil melepas peralatan snorkeling. Ketika snorkeling di perairan yang surut dan kakimu bisa menyentuh karang, jangan berdiri di atas karang, karena bisa merusak biota laut tersebut. Jangan pula memegang karang karena ujungnya yang tajam bisa melukai tangan.

5. Menyapa Bintang Laut di Kanawa
Di sini, bintang laut bisa dengan sangat mudah kita jumpai ketika kapal megah yang membawa kita bersandar di Pulau Kanawa. Ingat ya, Pulau Kanawa, bukan Pulau Kenawa. Karena diawal trip ini, banyak yang salah sangka termasuk saya. Jika Pulau Kanawa letaknya di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Pulau Kenawa letaknya di perairan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Menempuh pelayaran 1,5 jam dari pelabuhan laut Labuan Bajo, kamu akan melihat Kanawa sebagai one complete package, karena pulau ini dilengkapi dengan resortyang dikelola oleh warga Italia. Walaupun terumbu karang di bawah laut Kanawa tidak terlalu bagus, namun ikan-ikan unik di sana mudah dijumpai. Bintang laut berwarna-warni bisa kita jumpai di pinggir pantai. Ada bintang laut berwarna biru, merah bata bahkan berwarna yang sama seperti pasir pantai. “Wow ini bintang laut bisa jadi objek foto yang menarik,” ujar Yudas, photographer kami saat itu. Jika tidak ingin snorkeling, ajaklah teman-temanmu untuk berenang dan bermain voli pantai. Laut di sekitar Kanawa terkenal aman untuk berenang karena letaknya yang landai dan tidak diterpa ombak. Sore itu saya dan teman-teman menyempatkan bermain voli pantai selama satu jam. Permainan seru dan riang ini membawa kebahagiaan sendiri bagi kami.


Birunya Bintang Laut

6. Menanam Bakau di Papagarang

Tiga jam berlayar dari Gili Laba, tibalah kami di sebuah Pulau bernama Papagarang. Pulau yang secara geografis ini terletak di Kabupaten Manggarai Barat ini dihuni oleh 1000 jiwa, atau kurang lebih 300 keluarga. Aktivitas kami di pulau ini dalam rangka aksi kegiatan sosial yang disponsori oleh salah satu perusahaan minuman kemasan. Kering, panas, dan tandus, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pulau yang perairannya berwarna biru langit bercampur tosca ini. Panasnya mentari terasa menyengat menyentuh pipi tatkala speed boat yang saya tumpangi sampai di dermaga. Padahal dengan kerudung, topi dan kaca mata hitam harusnya melindungi muka dengan maksimal. “Di sini sedang musim kering, dan kami kesulitan air bersih sehingga harus beli air di Labuan Bajo,” ujar pemandu lokal yang menyapa kami. Jam 11 WITA, kami menyusuri garis pantai sejauh 500 meter di wilayah yang terdiri dari empat kampung, tiga sekolah, dan empat masjid ini. Setelah tiba di area hutan bakau dan mendengar pengarahan dari koordinator yang bertanggung jawab atas taman hutan lindung itu, kami mulai menanam bibit bakau yang telah disediakan. Dengan tumbuhnya bakau, artinya kita turut serta menambah pasokan air bersih di masa yang akan datang. “Jika datang ke sini lima tahun lagi, sudah jadi hutan bakau,” ucap bapak yang memandu saya menanam bakau siang itu penuh pengharapan.
Menanam Bakau di Pulau Papagarang

7. Ngopi Cantik di Cafe In Hit
Setelah tiga hari dua malam berada di laut, tidak afdol rasanya jika tidak menjelajah Kota Labuan Bajo, di mana sailing Komodo bermula. Datanglah ke Cafe in Hit untuk mencicipi nikmatnya Kopi Flores yang melegenda itu. Cafe yang dibuka setiap hari dari jam 07.00 – 22.00 WITA ini menawarkan aneka minuman kopi yang rasanya khas di mulut. Suasana interior cafe yang berwarna hitam ini juga dilengkapi berbagai buku dan majalah yang membuat pengunjung betah berlama-lama untuk sekadar ngobrol ataupun membaca buku. Cafe yang di lantai atasnya difungsikan sebagai hotel ini menyajikan pemandangan laut yang membuat nyaman pengunjung. Jam di pergelangan tangan saya telah menunjukkan pukul 21.55 WITA ketika kami melihat para barista mengemas peralatan mereka. Dengan berat hati saya buru-buru menyeruput cappuccino hangat yang masih setengahnya tersisa di cangkir sambil berjanji dalam hati suatu hari nanti saya akan kembali.


Ngopi Cantik di Cafe in Hit

Iya, meskipun harus menguras sedikit tabungan, Kepulauan Komodo sangat layak untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal. Datang ke sana membuat hati merasa bangga menjadi orang Indonesia. Sesuai dengan namanya “Flores” yang dalam Bahasa Portugis artinya cantik. Flores memang cantik. Baik daratan, laut, bukit, udara, hingga penduduknya dan saya pun jatuh cinta pada Flores. Ayo kunjungi Flores! :)






You Might Also Like

12 comments

  1. indahnya kak, mau juga akh ke sana. Banyak banget tempat kece untuk nenangin pikiran. Menjauh dari kerjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya rom, nanti TBK kita boyong ke sana..seemuaanyaa..

      Delete
  2. Duh biki mupeng lah kak jadi nak ke komodo, blom kesampaian hiks kerenn banget nih kak infonya, catet ah next semoga segera bisa ke komodo

    ReplyDelete
    Replies
    1. kuy..nanati kita atur sekapal TBK semuaa..pasti serruuu bingitt

      Delete
  3. Aaaaaakkkk, seru banged pasti ya. Ada varian paketnya juga sesuai budget hmmmm. Tahun ini pengen kesituuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. adaa cit..budget bisa menyesuaikan..kita cari yg terjangkau tapi tetepp serruu

      Delete
  4. mupeng dah. dari dulu emang pengen ke sini tapi belom kesapaian. BTW gua jadi ingat kisah kak fitri jatuh. di pulau padar ya kak? ckckckxk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah..iya jatuh di Pulau Padar nan berkesan,,aku kalo jalan2 gak afdol kalo gak jatuh bang zack.. nanti kita rame2 ke sini ya..

      Delete
  5. Aku mupeng kalo dah liat padar..tak tau kapan bisa melalak kesana..mehong kali bah...tak cukup hepeng aku ..:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha masih cukup waktu kak, semangat nabung,, nanti aku temenin kakak sampe puncak kalo bisa..hahahah

      Delete
  6. Hheeeemm, pengen pake bgt deh liat komodo lgs ke pulaunya. Smg bisa kesampean liburan kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didoain kesampean bu dewan..ajak qeela ke sana nanti, kita rame-ram biar seru..

      Delete