ALF

5 Festival Literasi Yang Akan Membuatmu Semakin Jatuh Cinta Dengan Sastra di Indonesia


Festival literasi beberapa tahun terakhir ini sangat marak di Indonesia. Dari Barat hingga Timur Indonesia, tiap-tiap daerah menyuguhkan perayaan sastra yang meriah, menggema, dan sarat makna. Literasi dan kepenulisan di Indonesia saat ini semakin dicintai kaum muda hingga lansia. Berbeda sekali dengan festival-festival literasi di luar negeri yang mayoritas didatangi oleh pecinta literasi berusia senior.
Berikut 5 festival literasi yang akan membuatmu semakin jatuh cinta dengan sastra di Indonesia dan sudah pasti tak boleh dilewatkan.
1.        Ubud Writers and Readers Festival
Sebagai festival literasi yang pertama di Indonesia, keberadaan UWRF selalu dinantikan penikmat dan pecinta literasi dari berbagai belahan dunia. Ubud Writers and Readers Festival pertama kali hadir tahun 2004 sebagai upaya bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali setelah porak poranda karena bom.
Janet De Neefe, seorang warga negara Australia yang sangat peduli mengenai Bali dan budayanya, bermaksud membuat Pulau Dewata kembali semarak dan ramai. Menurutnya kala itu, hanya literasi dan kepenulisan yang membuat orang ingin datang lagi ke Bali.

Sederetan penulis ternama seperti Seno Gumira Aji, Dewi Lestari, Eka Kurniawan turut berpartisipasi dalam festival ini. Tercatat ratusan penulis ternama dan ribuan relawan dari berbagai negara berpartisipasi dalam acara tahunan yang tahun 2016 akan diadakan pada 26 -30 Oktober ini.

2.        Asean Literary Festival
Di bawah naungan Muara Foundation, Asean Literary Festival pertama kali hadir di Jakarta tahun 2014. “Anthems for Common People” yang terinspirasi dari perjuangan Wiji Thukul saat itu diambil menjadi tema. Sebagai founder Asean Literary, Abdul Khalik mengatakan bahwa festival ini lahir dengan latar belakang kondisi, sosial, budaya yang sama di wilayah Asean. 
“ALF ingin menjadi wadah yang mempertemukan sastrawan dan karya-karya sastra khususnya di ASEAN” ujar jurnalis senior sebuah media cetak ini. Acara tahunan ini biasanya diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, dihadiri oleh sastrawan lebih dari 20 negara dan ribuan pengunjung.

3.        Makassar International Writers Festival
Di bawah komando jurnalis senior Lily Yulianti Farid, Makassar International Writers Festival adalah satu-satunya festival sastra terbesar di Timur Indonesia. Tahun 2015 adalah tahun ke lima penyelenggaraan MIWF.
Mengangkat kisah Karaeng Pattin Galloang sebagai Perdana Mentri Kerajaan Goa dan Tallo abad 17 adalah misi festival ini tahun lalu. Bertempat di Benteng Fort Rotterdam, kehadiran MIWF mampu menarik pecinta sastra dari berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara untuk hadir di bumi Angin Mamiri tersebut. Aan Mansyur, Trinity, Seno Gumira Aji, dan Leila Chudori adalah beberapa penulis tanah air yang mengisi acara festival tahunan yang diorganisir oleh Rumata Art Space ini.


4. Padang Literary Biennale
Diselenggarakan pertama kali tahun 2012, Padang Literary Biennale hadir dalam rangka kritik terhadap minimnya apresiasi kepada para penulis dan sastrawan asal Ranah Minang di kota sendiri. Padahal Sumatra Barat sedari dulu terkenal dengan tokoh-tokok kesusastraan yang melegenda. Siapa yang tidak kenal dengan Marah Rusli, pengarang buku kisah cinta klasik “Siti Nurbaya”, atau Buya Hamka penulis novel fenomenal “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”.
Tahun 2014 Padang Literary Biennale hadir dengan jumlah penulis lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Ayu Utami dan Okky Madasari adalah penulis wanita Indonesia yang meramaikan diskusi berbobot tentang literasi saat itu.
5.        Festival Sastra Selaparang  
Festival yang digagas oleh Komunitas Dusun Flobamara di Kupang ini pertama kali hadir di Nusa Tenggara Timur tahun lalu. Festival ini hadir bertujuan mengobarkan kembali semangat berkomunitas kaum muda dan masyarakat NTT umumnya dan membangun jaringan antar komunitas tersebut.
Pecinta dan penikmat literasi merasa “surprise”, karena akhirnya hadirlah sebuah festival literasi di sebuah kota kecil yakni Kupang. Bekerja sama dengan Komunitas Salihara–Jakarta, festival ini berhasil mendatangkan ratusan pengunjung. Setiap sesi diskusi dihadiri oleh banyak orang yang memang menyukai dunia literasi atau ingin menambah wawasan mengenai literasi. Berbagai komunitas literasi dari Kupang, Maumere, Rote, Ruteng dan Ende datang untuk memeriahkan Festival Sastra Santarang ini. Tahun ini belum mendapatkan informasi lagi kapan digelarnya festival yang tahun lalu mendatangkan Ayu Utami, Hasif Asmini, dan AS Laksana sebagai pembicara ini.

Mari merayakan literasi Indonesia sebagai wujud mencintai budaya dan karya-karya anak bangsa. Karena dengan mencintai literasi artinya kita melestarikan akar-akar kebudayaan para pendahulu kita.
Salam literasi.


You Might Also Like

0 comments