Jadi Anak Perantauan Itu Asyik Kok. Kamu Akan Menemui Keseruan-Keseruan Berikut Ini


Jadi anak perantauan di berbagai kota dan provinsi menjadikan saya atau teman-teman yang lain menjadi lebih mandiri, berempati, memiliki kemampuan adaptasi yang cepat hingga memiliki cara sendiri untuk tetap menjaga diri sebaik mungkin.

Hidup sebagai anak perantauan itu susah-susah gampang. Kenapa demikian? Tidak semuanya mudah dilakukan, tapi tidak mustahil juga untuk dijalankan. Berbelas tahun menjadi anak perantauan di berbagai kota dan provinsi menjadikan saya atau teman-teman yang lain menjadi lebih mandiri, berempati, memiliki kemampuan adaptasi yang cepat hingga memiliki cara sendiri untuk tetap menjaga diri sebaik mungkin. Lepas dari itu semua, percaya bahwa ada Allah SWT yang selalu melindungi kita setiap waktunya.



Dunia anak rantau biasanya seputar kampus, kantor, teman-teman, gebetan atau pasangan, dan makanan. Namun, pengalaman sebagai anak perantauan tidak hanya itu saja. Bertemu dengan banyak orang-orang baru, dikerjain dengan bahasa daerah atau makan mi instan ala anak kos, tentu saja familiar di telinga anak-anak yang jauh dari orang tua ini.
Sedih? Tidak juga, 7 hal seru berikut ini akan kamu lalui selama menjadi anak perantauan di berbagai tempat.
1.Mandiri jadi anak kos
Bagi yang awal-awal menjadi anak kos, tentu saja menjadi satu keunikan tersendiri. Di satu sisi, merasa bebas karena lepas dari omelan papa mama atau bisa pergi ke mana saja tanpa ada yang melarang. Di sisi lain, kamu harus belajar untuk menjadi mandiri dari segala lini. Bangun lebih pagi adalah salah satu contohnya. Kuliah pertama yang dimulai jam 7 pagi bisa membuatmu bangun lebih pagi, setelah salat subuh kamu bisa membuka lagi mata pelajaran yang kemarin telah dipelajari atau membaca bahan presentasi untuk mata kuliah hari ini.

Photo credit: vemale.com

Makan tepat waktu juga salah satu hal yang harus diperhatikan ketika kamu menjadi anak perantauan. Maag dan typus adalah penyakit langganan anak-anak perantauan. Makan makanan yang sehat, mencari tempat makan yang bersih dan makan teratur adalah salah satu cara agar kamu tetap sehat.

2. Mengelola keuangan sendiri
Mungkin ketika masih tinggal bersama orang tua, kamu telah diberi kepercayaan untuk mengelola uang jajan secara mingguan. Nah, sebagai anak perantauan, kamu akan diamanahkan uang jajan secara bulanan. Perlu trik dan tips khusus tentunya agar uang yang jatahnya 30 hari ke depan itu tidak habis dalam 10 hari saja.
Kamu perlu membuat daftar prioritas kebutuhan dan keinginanmu. Dahulukan yang benar-benar penting kebutuhan membayar uang kos, makan sehari-hari, transportasi ke kampus atau ke kantor, uang pulsa, menabung, sedekah, dan lain-lain.

Credit photo :www.rd.com

Setelah itu baru kamu membuat budget untuk keperluan nonton di bioskop atau sekadar ngumpul dengan teman-teman di kafe. Mengelola keuangan di masa muda itu penting untuk menjadikan kita mengontrol pemasukan dan pengeluaran setiap bulan, jangan sampai seperti pepatah “Lebih besar pasak dari pada tiang”.
3. Bergaul dengan teman-teman
Sebagai anak perantauan, tentu saja kita ingin memiliki banyak teman-teman di sekitar kita. Tak mau dicap kuper, kan? Perluas pergaulanmu dengan mengikuti berbagai ekstra kurikuler di kampus, klub olahraga, atau mengikuti kursus bahasa di kota itu. Kamu akan mendapatkan teman-teman seru dan asyik yang bisa kamu ajak diskusi, bertukar pikiran, atau minimal teman ngobrol sehari-hari.

Credit to :www.okezone.com

Hati-hati dalam memilih teman, kita tidak tahu karakteristik teman kita sebelum kita akrab dengannya. Jika sekiranya temanmu membawa pengaruh negatif untukmu, ada baiknya menjaga jarak dengannya. Berteman itu penting, tapi kita juga harus selektif untuk memilih orang baik yang berteman dengan kita.

4. Cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar
Sebagai anak rantau yang pernah berpindah-pindah kota, kemampuan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar harus dimiliki oleh kita. Pernah merantau di kota Bandung, menjadikan saya harus menurunkan volume suara saya yang terbiasa kencang menjadi halus dan lembut. Karena teman-teman saya baik laki-laki dan perempuan, berbicara dengan tutur kata yang lembut. Mempelajari sedikit kosa kata dalam bahasa daerah adalah hal yang saya lakukan, agar kita juga mau mengenal seperti apa warga asli daerah tersebut berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Credit to : www.jobstreet,com

Pindah ke sebuah kota terpencil dengan mayoritas penduduk bersuku Melayu, membuat saya juga harus segera beradaptasi dengan teman-teman dan lingkungan kerja saya. Waktu kerja yang panjang di hari Senin hingga Sabtu, tidak membuat saya kesulitan mengajak teman-teman untuk bermain ke pantai di hari Minggu.

5. Hidup Dalam Keterbatasan

Namanya juga hidup, kadang kita berpunya, kadang tidak berpunya. Kadang sehat, kadang sakit, kadang sedih, kadang bergembira. Ya namanya proses dalam menjalani kehidupan ya seperti itu. Jalani saja dengan sebaik-baik mungkin. Ketika saya merantau di sebuah kota terpencil, di sana tidak ada mall/pusat perbelanjaan, akses listrik dibatasi hingga jam 18.00 WIB, setelah jam 18.00 WIB biasanya menggunakan genset dan air bersih yang terbatas.

www.huffingtonpost.com

Beberapa kali mandi dengan menggunakan air dalam kemasan galon, tidak membuat saya jadi bersedih. Lain waktu ketika krisis Bahan Bakar Minyak (BBM), antrian di SPBU selama 4 jam pun dialami oleh penduduk satu pulau. Setelah kita sampai pada antrian, pembelian dibatasi hanya 10 liter saja untuk kendaraan roda empat. Jika ingin membeli eceran, 1 liter premium dihargai Rp 50.000. Jalani saja semua yang ada, karena ketika kita memutuskan untuk merantau, kita sudah siap dengan semua konsekuensi yang ada.

6. Mengikuti Kegiatan Positif
Kursus bahasa, kegiatan pengajian, klub menulis, klub traveling, kegiatan sosial atau klub fotografi bisa kamu ikuti untuk menambah pengetahuan, menambah skill, ataupun menambah jaringan pergaulanmu di kota perantauan. Sekarang hampir setiap Minggu berbagai kegiatan positif diadakan di berbagai tempat dengan biaya terjangkau, bahkan gratis. Nah tinggal dengan segala kemauan dan waktu yang luang, kamu bisa mengikuti berbagai kegiatan itu.

Credit photo : enertia.com

Kamu tinggal buka media sosial, tinggal cari dalam waktu dekat ini ada kegiatan apa saja yang sesuai dengan bakat dan minatmu. Tentu saja setelahnya kamu akan mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan juga berkenalan dengan teman-teman baru.

7. Menjaga diri dengan baik
Salah satu hal yang cukup penting menjadi anak perantauan adalah bagaimana kita menjaga diri dengan baik. Menjaga diri ini maksudnya luas. Bisa jadi menjaga diri dari hal-hal kejahatan yang bisa dijumpai di mana saja. Waspada terhadap orang-orang baru yang dikenal atau menghindar dari banyaknya kerumunan massa yang melakukan demonstrasi belakangan ini. Jika kamu menggunakan transportasi umum dalam kegiatan sehari-hari ada baiknya berbusana yang sepantasnya dan tidak menggunakan perhiasan yang mencolok yang bisa menimbukan orang lain berbuat kejahatan. Pulanglah dalam batas waktu yang wajar di malam hari. Jika kamu pulang agak larut dikarenakan ada keperluan, pulang dengan transportasi yang aman dan nyaman.

Credit photo :quotestagram.com

Hindari bertemu dengan orang yang baru kamu kenal di media sosial di tempat-tempat sepi. Hal ini untuk mencegah terjadinya kejahatan yang belakangan marak di dunia maya. Simpan nomor-nomor penting di dalam kontak ponselmu jika sewaktu-waktu diperlukan.

Ya itulah yang mesti dilewati sebagai anak perantauan. Merantau membuat kita lebih menghargai waktu, kehidupan, orang lain, dan mengasah rasa empati yang kita punya. Kamu siap untuk jadi anak perantauan?



You Might Also Like

0 comments