Sensasi Live on Board 4 Hari 3 Malam Di Laut Flores dan Labuan Bajo #1



“Hai Paras, aku udah sampe terminal tiga ya” kukirimkan pesan singkat itu ke Paras, yang mengkordinir keberangkatanku pagi itu ke Labuan Bajo. Ya ini perjalananku bersama Komunitas Getlost Family yang pertama kali. Majalah Getlost mengadakan “Open Trip” saat itu ke Labuan Bajo yang pas sekali dengan jadwalku untuk bisa izin dari kantor.


Bandara Labuan Bajo Yang Kece


Setelah transit di Denpasar, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandara Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur selama 1,5 jam dengan menggunakan maskapai Wings Air. “Wah Bandara Komodo lebih keren ya sekarang” ujar Mas Yudas, rekan perjalananku yang sudah pernah menginjakkan kaki di Labuan Bajo sebelumnya. Ya bandara megah ini baru saja selesai pembangunannya ketika  pertama  kali kakiku menginjakkan bumi Flores ini. Panasnya mentari siang itu langsung menyapa pipiku, topi lebar dan kaca mata hitam yang kugunakan ternyata belum mampu menghalau rasa panas di siang hari itu.   Setelah seluruh rekan-rekan trip yang berjumlah 25 orang ini berkumpul di depan bandara, kami segera menuju pelabuhan yang jaraknya hanya 20 menit saja ditempuh dari Bandara Komodo. Yak, kami akan mengarungi Laut Flores selama 3 hari loh!


Kota Labuan Bajo


Hari Pertama, bertemu Sang Komo di Pulau Rinca
Tepat Pukul 15.00 WITA kapal megah yang kami naiki mulai berlayar mengarungi Laut Flores. Laut berwarna biru tua ini akan menjadi sahabatku selama beberapa hari ini. Dengan ridho allah kupanjatkan doa agar perjalanan kami lancar dan selamat. Tak henti-henti ku mengagumi lautan luas ciptaanNya ini. Fasilitas kapal phinisi ini cukup lengkap, ada 6 kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur, kamar mandi, tempat bersantai, dapur, dan ruang berkumpul. Sinyal ponsel semakin jauh semakin hilang dari peredaran. Setelah 90 menit pelayaran pertama ini, kapal kami sampai ke Pulau Rinca, salah satu pulau yang merupakan rumah bagi Komodo, hewan buas khas Indonesia yang sangat dilindungi. Perasaan campur aduk kurasakan ketika ingin berjumpa hewan istimewa ini. Kami berkumpul dan ditemani oleh ranger yang akan memandu kami selama berada di area Pulau Rinca.  Waktu sudah senja ketika kami bertemu Big Dragon ini, melata di atas tanah dengan gerak pelan tapi pasti. Big Dragon dengan mudah mengumpulkan teman-temannya untuk berkumpul. Jantungku semakin tak karuan berdebar diantara perasaan gembira, takut dan was-was. Tidak ada penduduk di kawasan pulau ini, namun ada wisma/penginapan miliki pemerintah daerah yang di bisa disewa di sini. Wah sungguh berani sekali jika ada wisatawan yang menginap di sini.  Ketika kami akan keluar dari Pulau Rinca, berjumpalah kami dengan 3 orang pemuda yang memang akan menginap di wisma milik pemerintah tadi. Wow  banget nih mas-masnya.


Kapal Phinisi nan Megah

Sang Komo nan lincah


Hari Kedua, memanjat tiga per empat Pulau Padar -  Snorkeling di Pink Beach dan Menjemput sunset di Gili Lawa
Setelah mengunjungi Pulau Rinca, kami melanjutkan pelayaran kembali malam ini. Malam diisi dengan menyantap sejumlah makanan lezat yang menggugah selera seperti goreng udang balado, tumis kangkung seafood, gulai cumi-cumi serta aneka buah-buahan segar. Angin malam menyapa sangat kencang, tapi keriuhan di ruang makan masih terjadi hingga larut malam, apa yang terjadi? Main kartu rupanya pembaca. Seru sekali reman-temanku ini bermain kartu. Hingga kami merasa sudah sampai di sebuah tempat, karena sudah tengah malam, kami tidak tau persisnya dimana merapat.

Sebelum subuh kami dibangunkan untuk segera bersiap-siap hiking ke Pulau Padar yang merupakan salah satu spot terpenting dalam pelayaran kali ini. Cukup menantang ternyata hiking menuju puncak Pulau Padar, perjuangan mencapai puncaknya dilakukan selama 45 menit hiking dengan medan yang terdiri dari pasir, batu-batuan dan rumput-rumput kering. Pemandangan yang ditawarkan di puncak memang sangat menakjubkan. Kamu harus ke sini loh pembaca.

Turun dari Puncak Padar, makanan lezat telah menunggu kami di kapal, sarapan pagi kami kali ini nasi goring, mie goreng, telur dadar, dan ditutup oleh mangga manis yang dimasak sepenuh hati oleh chef handal kapal kami. Sungguh suatu berkah yang sangat patut disyukuri, menyantap sarapan pagi dengan pemandangan laut Flores yang biru.


Tiga Per Empat Padar


Pelayaran kami laksanakan kembali di bawah matahari yang bersinar terang dan angin yang mulai kencang. 2 jam kemudian sampailah kami ke salah satu spot snorkeling yang wajib dikunjungi oleh wisatawan, yaitu Pink Beach. Dari tengah lautan teman-temanku mulai satu persatu terjun ke laut untuk snorkeling, melihat mereka dari atas kapal kelihatannya bahagia berjumpa ikan-ikan nan cantik serta koral-koral Kepulauan Komodo yang telah mendunia. Pink Beach memiliki pasir-pasir yang berwarna putih bercampur pink yang disebabkan oleh plankton-planktor berwarna pink yang hidup di sana. Cuaca terik di pukul 12.00 WITA siang itu tidak menyurutkan semangat teman-temanku untuk terus menyatu dengan lautan Flores. Yang kulakukan adalah duduk manis di pinggir pantai bersama teman-teman lain yang tidak ingin snorkeling siang itu.


Pink Beach di siang hari


Setelah puas menikmati bawah laut area Pantai Pink, pelayaran dilanjutkan kembali, kali ini pelayaran kami cukup panjang dari siang, baru kira-kira jam 4 sore kami sampai di Gili Lawa. Rencananya kami pun akan bermalam di pulau ini loh. Pendakian ke puncak gili lawa memakan waktu tempuh selama 90 menit, bukit berundak-undak dan medan trekking yang cukup ringan dibandingkan Pulau Padar memudahkan teman-temanku untuk sampai di puncak pulau tidak berpenghuni ini. Kami memang mengagendakan melihat mentari kembali ke peraduan di Gili Lawa ini. Selain di puncak, sisi kiri Gili Lawa juga tak kalah menarik untuk di jelajah. Sisi kiri ini tidak terlalu tinggi untuk didaki, tapi pesona menikmati matahari terbenam di sini memiliki keistimewaan tersendiri. Jarak matahari sangat dekat terasa dengan air laut, jadi kombinasi biru tosca, kuning jingga dan oranye menjadi satu.


Sisi Kiri Gili Lawa


Hari sudah senja menjelang magrib, perut sudah lapar dan malam ini menu makanan lezat sudah menanti, dengan nikmat kami santap udang balado, goreng cumi tepung, gulai sayur labu dan buah-buah segar. Entah lah, selama dua hari berlayar ini semua makanan yang disajikan punya rasa yang luar biasa enak. Porsinya pun banyak, kami tidak merasa kekurangan dengan makanan-makanan di kapal keren ini.


Sunset di Gili Lawa


Hari semakin malam, lautpun tenang kemudian Mas Anton tour guide kami mengajak kami kembali ke daratan untuk berkumpul dan bersantai menikmati malam di Pulau Gili Lawa ini. Kegiatan kami selain ngobrol santai yaitu memasak udang, cumi dan ikan bakar yang segar. Sungguh sebuah nikmat mana lagi yang kamu dustakan.

----Bersambung



You Might Also Like

1 comments