Sepenggal Kisah Karel Boscha di Pangalengan



Pangalengan, sebuah ibukota kecamatan di selatan Kota Bandung ini ditempuh dalam 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan beroda empat. Perjalanan panjang dan hijau ini di dominasi oleh jalanan turunan, tanjakan dan kelokan yang tajam. Dengan rute Bandung – Dayeuh Kolot – Banjaran, Pangalengan bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, bis umum, maupun angkutan pedesaan. Pintu utama kecamatan Pangalengan adalah Pasar Pangalengan yang legendaris. Pangalengan bersuhu 16C - 18C setiap harinya, jika musim penghujan tiba suhu di Pangalengan bisa mencapai 10C saja.


Credit to : www.infobdg.com


Pangalengan terkenal dengan kebun teh yang luas yang dikelola oleh PTPN VIII, kebun  teh di sini tidak kalah cantik dengan kebun teh di Rancabali Ciwidey. Ada beberapa kebun teh di wilayang Pangalengan yaitu Malabar, Kebun Teh Kertamanah, Kebun Teh Cukul, Kebun Teh Pasir Junghunh , Kebun Teh Pasir Malang dan Kebun Teh Purbasari.

Tahun 1890 dimulai pembukaan Kebun Teh Malabar oleh seorang Belanda bernama Kerkhoven, namu popularitas kebun teh ini menanjak di tangan sepupu Kerkhoven yaitu Karel Albert Rudolf Boscha tahun 1896. Boscha berperan besar bagi perkembangan Bandung kala itu, ia membangun Institut Teknologi Bandung yang saat itu bernama Technise Hooge School dengan fasilitas laboratoriumnya yang lengkap. Karel Boscha juga membangun Sterrenwacht atau tempat penoropangan bintang di Lembang, Gedung Merdeka, dan PLTA Cilaki.


Karel Boscha, seorang Belanda yang cinta Indonesia
Credit to : www.wikipedia.id


Museum Boscha masuk ke dalam  area Perkebunan Teh Malabar. Untuk masuk ke area ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun jika ingin menggunakan guide, museum ini menyediakan guide dan traveler bisa membayar seiklasnya. Guide akan menjelaskan mengenai sejarah berdirinya rumah Boscha.




Jika ingin bermalam di area ini, traveler bisa menyewa Villa Boscha. Villa dengan latar belakang Gunung Nini ini sangat unik karena didominasi interior kayu. Pasti traveler merasakan sensasi yang segar, sejuk, dan alami menginap disini karena tempat ini dikelilingi oleh kebun teh. Harga villa permalamnya variatif antara Rp. 750.000 – Rp. 1.000.000 permalam sudah termasuk dengan sarapan.

Boscha sangat mencintai Pangalengan, Bandung dan Indonesia, sehingga ketika ia wafatpun, jasadnya ingin dikuburkan di area Kebun Teh Malabar. Makamnya yang unik, didominasi oleh cat berwarna putih berbentuk mini kubah. Tertulis nama lengkap beliau dan tanggal kematiannya di nisan yang setiap akhir pekan tempat ini ramai dengan kunjungan wisatawan.

Tidak jauh dari Makam Boscha ada tempat pemandian air panas bernama Cibolang Hot Spring, letaknya di Desa Wayang Windu. Wayang Windu sendiri adalah nama dua gunung yang berada di daerah Pangalengan.  Objek wisata ini sudah dikenal sejak tahun 1985, kemudia dikembangkan terus menerus dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Air Panas Cibolang terletak di 1450 mdpl, dengan suhu 23C - 25C dan memiliki luas 2 Ha.  Tidak heran setiap akhir pekan ramai dikunjungi wisatawan, selain berendam air panas di kolam-kolam yang telah disediakan, pemandangan sekitar pemandian ini sangat indah. Ada beberapa jenis kolam yang disediakan untuk pengunjung, ada untuk anak-anak, maupun dewasa. Ada kolam diperuntukkan umum wisatawan, ada juga private pool atau kolam renang pribadi yang disewakan.

Nah itulah sepenggal kisah tentang seorang konglomerat asal Belanda Karel Albert Rudolf Boscha di Tanah Pasundan. Namanya tetap harum karena sifatnya yang dermawan terhadap rakyat Indonesia masa itu. Pastikan para traveler mampir ke Pangalengan jika berkunjung ke Jawa Barat ya.

You Might Also Like

0 comments