​Duka dan Laraku Untuk Banten dan Lampung Selatan




Minggu pagi ketika membuka ponsel pukul 08.15 WIB beberapa teman mengabarkan tentang tsunami yang terjadi di Banten dan Lampung Selatan.

Aku berpikir ini masih biasa saja, ternyata setelah membaca berita di twitter, nonton youtube, dan langsung menonton televisi, dampak tsunami ini parah sekali. Malam minggu itu karena ngantuk, aku tertidur jam 21.15 yang katanya tsunami menerjang bibir pantai pada 21.22 Wib
.




Sejumlah orang meninggal bahkan berita terbaru menyebutkan ratusan jiwa, ribuan orang mengungsi, dan masih ada juga yang hilang. Sejumlah public figur meninggal dunia ketika menjadi bintang tamu acara family gathering sebuah BUMN terkemuka miliki negeri. Sebut saja anggota band seventeen, aa jimmy dan keluarga.

Duka ku untuk negeri ini tak hingga, hingga aku menemukan bahwa sejumlah daerah di Kalianda, Rajabasa (Lampung Selatan) juga terkena dampak tsunami. Aku mengontak Zahra di Kebangsaan. Kebetulan dia sedang pulang ke Bandar Lampung. Sekolah pun aman, namun Kota Kalianda, Teluk Betung dan sejumlah daerah di Rajabasa luluh lantak tersapu tsunami malam Minggu itu.

Aku mengontak mantan atasanku yang kulihat di sosial medianya sedang bepergian, ternyata dia menuju rumah sakit di Kalianda membantu mengantarkan kakaknya yg dokter. RS Bob Bazar Kalianda kekurangan dokter yang berdinas di hari itu. Bencana memang tidak mengenal libur. Pada saat kejadian, liburan natal dan akhir tahun, baru saja dimulai. Bertepatan dengan liburan anak-anak sekolah.

Desa Kunjir, 45 menit dari SMA Kebangsaan di Penengahan pernah jadi pelipur laraku ketika bosan melanda pada siang itu.  Ketika ku meminta meeting di pantai beberapa bulan lalu. Ketika dengan senang hati Wempi, Arfan, dan Zahra menemaniku untuk sedikit bersantai di pinggir pantai Desa Kunjir. Pantai yang langsung menghadap Selat Sunda itu airnya sangat biru. Batu-batu pemecah ombak hadir agar pengunjung tetap mematuhi peraturan yang telah ada. Jalan menuju Desa Kunjir cukup baik, jalanan beraspal mulus itu sengaja dibangun karena daerah ini merupakan daerah wisata.
Desa Kunjir Sebelum Terdampak Tsunami
Photo Credit to : www.kaliandanews.com



Banyak bale- bale tersedia di pinggir pantai agar wisatawan bisa bersantai menikmati angin yang sepoi-sepoi. Setelah memberikan materi training ke Zahra di bale-bale pinggir pantai, Arfan memesankan segelas es campur dan semangkuk mie rebus. Tak terasa hari menunjukkan pukul 16.00, saatnya kembali ke sekolah. 45 menit di lalui dengan pemandangan indah khas pesisir, pohon kelapa yang berdiri tegak serta birunya laut sejauh mata memandang.

Kini ku tak bisa membayangkan kondisi Desa Kunjir sekarang, Zahra mengatakan kondisi bangunan-bangunan yang rata dengan tanah serta banyaknya warga yang jadi korban ,baik yang wafat maupun yang luka-luka. Tak terasa air mata meleleh di pipi, bale-bale pinggir pantai, ibu warung yang jualan es campur, dan warga di pinggir pantai. 


Desa Kunjir Setelah Terdampak Tsunami
Photo Credit  to : www.lampungpost.com


Semoga allah melapangkan jalan mereka menujuNya. Refleksi untuk kita, manusia yang hanya hidup sementara di dunia. 


You Might Also Like

1 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...