Sungguh Berkesan Berkelana di Penang Selama 3 Hari 2 Malam


Pernah mendengarkan lagu ‘Antara Jakarta dan Penang’ di masa kecil, membuatku bertanya-tanya ada apa aja sih di Penang. Tempat ini begitu populer di kalangan orang-orang Indonesia sebagai tempat berobat. Katanya selain harganya bersahabat, teknologi rumah sakit, dan dokternya juga handal dibandingkan negeri ini. Katanya loh ya, bukan kataku.


Old Town di George Town
Salah Satu Bangunan Tua di George Town



Alhamdulillah aku bisa menginjakkan kaki di Pulau Penang atau Pinang atau Pi-neng menurut orang lokal di sana yang sejak tahun 2008 menjadi salah satu warisan budaya dunia atau yang lebih kerennya World Heritage dari Unesco bersama Malaka, salah satu kota favorit wisawatan lainnya di Malaysia. Secara umum Penang terbagi menjadi dua wilayah, wilayah daratan dengan Butterworth sebagai kota utama, dan wilayah pulau dengan George Town sebagai Ibu Kota. Antara Butterworth dan George Town terhubungan dengan jembatan yang konon merupakan jembatan yang terpanjang se Asia Tenggara.

Ngapain aja sih selama 3 Hari 2 Malam di Penang? Aku ceritakan ya, boleh dong disimak dengan baik

Salat  Zuhur di Kapitan Keling Mosque

Tak jauh dari hotelku menginap, terdapat halte bus yang menyediakan Bus gratis yaitu CAT. Dengan naik bus tersebut, kami membutuhkan 15 menit saja menuju Masjid Kapitan Keling yang terletak di kawasan Little India. Masjid buatan seorang Kapten yang berasal dari India ini terlihat asri dengan taman yang ada di dalamnya. Masuk ke dalam masjid, di sisi kiri terdapat menara masjid yang di bangun pada tahun 1801 ini. Tak lama kemudian saya menuju area tempat salat wanita, salat zuhur dan beristirahat sejenak di dalam masjid ini. Karena akhir pekan, cukup banyak jamaah wanita yang datang untuk menunaikan salat zuhur di masjid yang letaknya di kawasan Harmoni Street ini.


Kapitan Keling Mosque
Zuhur di Kapitan Keling

Resto Kapitan untuk makan siang yang mengenyangkan

Terletak di Jl. Chulia, letak Resto Kapitan ini kurang lebih hanya 200 meter dari Masjid Kapitan Keling. Restoran India ini buka selama 24 jam, jadi jika tengah malam kamu kelaparan di George Town, singgahlah ke sini. Siang itu pesanan makanku Nasi Briyani dan segelas es teh tarik. Rasanya nikmat sekali loh, dan sepertinya restoran ini adalah resto favorit banyak orang. Terbukti pengunjung yang datang siang itu ramai sekali loh. Alhamdulillah tidak sulit untuk mencari kursi.

Resto Kapitan For Lunch
Nasi Briyani dan Teh Tarik


Kota Tua George Town nan instagrammable

Setelah mengisi energi dengan nasi briyani kesukaan, aku dan mba Uri berjalan kaki di sekitar bangunan-bangunan tua yang ada di George Town, seperti bangunan pusat pemerintahan, bank, toko-toko, pusat informasi turis dan lainnya. Gedung-gedung ini tak jauh berbeda seperti di Kota Tua Jakarta, hanya saja lebih terawat dan eye catching. Jalan raya yang tidak sepadat Jakarta memudahkan saya untuk berpoto di depan gedung-gedung tersebut. Terasa sekali bebas hambatan ketika berpoto di tengah jalan raya yang terdapat bangunan tua yang menarik.


Kota Tua George Town
Old Town at George Town

Wonderfood Museum yang wonderful

Jika kamu mencintai dunia kuliner, kunjungan ke Wonderfood Museum sangat aku rekomendasikan. Dengan membayar tiket sebesar 25 MYR, kita bisa mempelajari sejarah dunia kuliner Penang, Melayu, dan berbagai makanan yang di negara kita juga bisa kita temukan. Aneka makanan tadi hadir dalam bentuk yang sangat mirip dengan aslinya seperti cendol, teh tarik, onde-onde, nasi kandar, hot dog, dan lain sebagainya. Terdapat juga diorama yang menjelaskan sejarah dan kebiasaan-kebiasaan serta cara makan penduduk Suku Melayu pada umumnya dan Penang pada khususnya. Wonderfood Museum terletak di Lebuh Pantai George Town

Museum Wonderfood
Tiket Masuk Wonderfood Museum


Pinang Peranakan Mansion

Rumah salah satu taipan asal tiongkok ini telah berdiri sejak tahun 1890 milik seorang penambang timah Tionghoa yang bernama Chung Keng Kwee yang menikah dengan penduduk asli Pulau Pinang. Untuk masuk ke salah satu rumah peninggalan budaya ini kita diwajibkan membeli tiket seharga 20 MYR. Kita akan diberi stiker yang diletakkan di tangan yang menandakan kita adalah pengunjung.

Pinang Peranakan Mansion
Sore Hari di Pinang Peranakan Mansion


Selama berada di Pinang Peranakan Mansion suasana kuno dan artistik rumah ini sangat terasa. Guci-guci khas Tiongkok memenuhi setiap ruangan. Perabotan atau furniture masa itu juga diimport dari Tiongkok sehingga tahan lama hingga sekarang. Rumah ini terdiri dari dua lantai. Wisatawan diharuskan melepaskan sepatu untuk menjelajahi setiap jengkal dari rumah ini.

Penang Hill yang berkabut

Siang itu kedatanganku ke Penang Hill disambut kabut pekat setelah pagi-paginya memang mendung menggayut di bawah langit Penang. Dengan Bus 201 dari Komtar menuju Bukit Bendera dengan tiket seharga 2,7 MYR aku dan Mba Uri menempuh perjalanan kurang lebih 60 menit. Cukup jauh ternyata perjalanan ini, hampir sama dengan keluar kota jika di Indonesia. Setelah datang di hari Minggu dengan antrian yang mengular, hari Senin ketika datang antrian hanya beberapa orang saja.

Bukit Bendera
Penang Hill yang hits


Pukul 09.00 waktu setempat aku telah berdiri membeli tiket trem seharga 30 MYR menuju puncak Penang Hill. Pemandangan yang wow aku lihat sepanjang kurang lebih 5 menit berada di trem tersebut. Hijaunya pemandangan khas perbukitan yang didominasi oleh pohon-pohon cemara dan pohon lainnya ini adalah sisi lain dari Penang yang dikelilingi oleh laut. Letak Penang Hill 800 mdpl ini sangat direkomendasikan untuk didatangi ketika matahari terbit pukul 06.30 pagi atau jelang matahari kembali ke peraduan pada pukul 19.00 malam.

Banyak yang bisa dilakukan di Penang Hill, selain bisa duduk bersantai, pengunjung juga bisa datang ke Owl Museum, Camera Museum, The Habitat, Little Village dan wahana wisata lainnya. Siapkan uang yang cukup ya. Karena aneka wahana ini diharuskan untuk membeli tiket lagi jika kita ingin menikmatinya.

Penang Hill
George Town dan Butterworth dari Penang Hill

Batu Ferringhi nan anggun saat senja

Dengan Rapid Penang dari Komtar, aku dan Mba Uri sore itu menuju Batu Ferringhi untuk bersantai sembari menikmati senja. Pantai ini adalah pantai favorit bagi wisatawan untuk melihat sunset, bersantai, bahkan menikmati sea sport seperti banana boat, parasailing dan lainnya. Sore yang cerah setelah hujan di siang hari, aku mendapatkan sunset yang sangat cantik banget. Selain berpoto dipinggir pantai, duduk-duduk di atas pasir putih yang lembut serta bermain air adalah bahagia yang sederhana di sore yang ciamik itu.

Sunset at Batu Ferringhi
Senja di Batu Ferringhi


Tiket bis dari Komtar menuju Batu Ferringhi ini hanya 2,7 MYR saja loh dengan Bis 201 Rapid Penang, dan pantai Batu Ferringhi ini letaknya di pinggir jalan, sehingga kita tidak perlu membeli tiket. Kamu juga bisa jalan-jalan ke pasar malam sekitar pantai untuk mencari oleh-oleh dan makan malam. Aneka sea food segar, kwe tiaw, dan makanan khas Penang lainnya hadir di pasar malam.

Senja di Batu Ferringhi
Lembayung Senja di Batu Ferringhi

Street Art Penang yang hits

Salah satu dari sekian orang berkunjung ke Penang adalah untuk nampang di mural-mural khas jalanan di Penang yang beberapa tahun belakang menanjak popularitasnya. Saking populernya, ketika tiba di Bandara Internasional Penang, ada peta yang memberikan informasi dimana saja mural-mural kece, hits dan sangat instagrammable itu bisa kita temukan. Tentu saja peta ini luar biasa memberikan manfaat bagi para pengunjung.

street art at George Town
Mural Brother Sister


Mural-mural di George Town ini telah hadir 6 tahun yang lalu, diciptakan oleh seorang seniman asal Lithuania bernama Ernest Zacharevic. Penyebaran mural-mural keren ini ada di Muntri Street, Weld Quay, Lebuh Leith, Armenian Street, Ah Quee Street dan banyak lagi di tempat lainnya.

Nah itulah beberapa tempat yang aku kunjungi selama 3 Hari 2 Malam di Penang. Masih ada beberapa tempat lagi yang belum di datangi. Aku jatuh cinta dengan suasana George Town ini, kota nan kecil ini membawa kedamaian dan tidak terlalu padat. Suatu hari aku akan datang kembali.



You Might Also Like

1 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...