​Silaturahmi Di Wilayah Terdampak Tsunami Demi Mengembalikan Secercah Harapan Kehidupan.


“Dan kerjakanlah amal kebaikan agar kalian beruntung” [QS, Al Hajj :77]

Kurang lebih tiga minggu menggalang donasi melalui All Community for Humanity, hari yang dinanti tiba jua untuk berkunjung ke lapangan. Tujuan kami tak lain untuk mendistribusikan donasi yang telah dihimpun oleh para donatur berhati mulia.




Yang Hujan Turun Lagi

Dengan point meeting di Merak bersama Mas Anton,dan Mas Andre, perjalananku dari kantor dimulai dengan drama hujan yg tiada kunjung henti hingga pukul 16.30. Padahal aku telah merencanakan akan pulang satu jam lebih awal dari kantor. Tak cukup sampai disitu, setibanya di Halte Busway Kemanggisan pada pukul 17.00, hujan deras mengguyur kembali. Sehingga aku tidak bisa keluar dari halte dan membiarkan saja beberapa bis menuju Merak berlalu.

45 menit telah berlalu, celana panjangku udah basah sampai lutut. Akhirnya hujan dengan volume deras lama-lama menjadi gerimis. Kuliat di pergelangan tangan menunjukkan 17.45 WIB, setelah menunggu kurang lebih lima menit, ada bis Arimbi tujuan Merak lewat. Horeee akhirnya dapat juga busnya. 

Cilegon for unplanning stop

Setelah 3 jam perjalanan, sampai jua aku di Cilegon pukul 21.00 Wib. Loh kok ke Cilegon? Padahal kan janjian awal di Merak ya. Karena ku tak kuasa menolak ajakan Mas Anton makan duren. " Kalo mo duren, turun di Cilegon aja Fit. Nanti Tunggu di gerbang PCI" ktnya. Kuberanikan diri turun di pinggir jalan tol yang gelap. Sok akrab sama mba yang turun bersama dari Arimbi. Alhamdulilah dia ke arah PCI juga, jadi bisa naik angkot yg sama. Ga sampai 10 menit sampai jua di PCI. Fyi, PCI itu singkatan dari Pondok Cilegon Indah, sebuah komplek perumahan di pusat kota Cilegon.


Makan Durian di Cilegon


45 menit kemudian, Mas Anton, Mas Andre dan Mas Mamad datang menjemputku dan kami langsung ke tempat jual durian. Empat buah durian langsung tuntas dalam waktu tak kurang dari 15 menit. Nikmat rasanya, walaupun ada beberapa biji yg kurang manis. Setelah itu kami meneruskan perjalanan menuju Merak yang berjarak tempuh 30 menit saja dari Cilegon.

Tiba di tempat tujuan

Selama pelayaran 3 jam aku tertidur sangat pulas di kapal. Tepat pukul 02.00 kami tiba di Pelabuhan Bakauheni. Perjalanan menuju tempat penginapan memakan waktu satu jam, sesuai dengan peta yang diberikan Kak Indra, rekan kami yang berasal dari Bandar Lampung. 

Tim Relawan All Community for Humanity


Tepat pukul 03.00 kami tiba di Desa Cempaka Lampung Selatan. Setelah berkenalan dengan teman-teman dari Lampung. Aku segera masuk kamar bersama Zizah dan Maul. Ya di sebuah kamar dengan tempat tidur ukuran King dan ngantuk teramat sangat aku sukses tidur dini hari itu setelah cuci muka, sikat gigi dan ganti baju.

Terbangun pukul 05.45 tepat ketika seorang ibu membangunkanku untuk shalat subuh. Untung matahari belum terbit pikirku. Mata masih susah untuk diajak kompromi, dan menyambung tidur kembali adalah hal terbaik. Sebelum memulai perjalanan sembari menunggu rekan-rekan dari Bandar Lampung, kami sarapan dengan nasi uduk yang sangat enak dibuatkan oleh Ibu. Ibu adalah orang tua teman Kak Indra pemilik rumah besar nan nyaman ini.

Poto bersama Ibu yang baik hati

Silaturahmi Tiga Desa
Jam 11 kami memulai perjalanan dengan tiga kendaraan dan 1 truk menuju Desa Way Muli. Sepanjang jalan yang langsung berhadapan dengan Selat Sunda, terpampang nyata sisa-sisa ganasnya Tsunami menerjang desa 4 minggu yang lalu. Bebatuan yang letaknya berantakan, puing-puing rumah dan sekolah yang rata dengan tanah ,pepohonan yang hancur hingga pinggiran laut yang tadinya indah menjadi tidak teratur bentuknya. Hatiku miris melihat kenyataan ini. Teringat malam dimana aku tidur dengan cepat dan pulas, sementara warga disini bertaruh nyawa.

Distribusi Bantuan di Desa Way Muli

Tiba di tujuan pertama, kami menyambangi sebuah rumah berwarna pink yang dihuni oleh beberapa keluarga. Mereka baru saja pulang bberapa hari lalu ke rumah ini setelah 3 minggu mengungsi di perbukitan.

"Di atas masih ada beberapa keluarga mba. Mereka masih trauma dan belum bersedia kembali ke rumah" ujar seorang warga.

Aku dan rekan-rekan mulai menurunkan beras, gula, susu, handuk, selimut dari truk bumbble bee kami. Anak-anak kecil yang baru pulang sekolah tersenyum dan sangat senang ketika kami bagikan susu. Setelah ngobrol dengan tuan rumah dan warga, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Kunjir yang berjarak 10 menit saja dari Desa Way Muli. Di Desa Kunjir kami melihat hal yang kurang lebih sama dengan sebelumnya. Pepohonan yang rusak, rumah yang rata dengan tanah serta sekolah yang dindingnya runtuh. Tak kutemukan lagi bale- bale sepanjang pantai tempat ku dahulu bersantai dengan Wempy, Arfan dan Zahra. Semuanya luluh lantak diterjang tsunami setinggi 6-8 meter malam itu.

Kami mulai menurunkan lagi logistik dari dalam truk. Hari telah beranjak pukul 12.00 saat banyak anak-anak berkumpul. Kami aja anak- anak bernyanyi-nyanyi dengan riang. Balonku , Pelangi, Cicak Di Dinding hingga lagu Indonesia Raya siang nan terik itu kami nyanyikan bersama-sama. Anak-anak polos ini bahagia sekali ketika kami memberi mereka sekotak susu, boneka, bola dan mobil-mobilan yang telah kami siapkan. Dua rumah jaraknya dari tempat kami membagikan bantuan terdapat lima rumah yang rata dengan tanah.

desa kunjir
Kak Maul Mengajak Anak-Anak Bernyanyi

" Satu keluarga meninggal dunia yang terdiri dari ayah ,ibu, anak, menantu dan cucu" ujar seorang warga. Hatiku langsung meringis membayangkannya. "Semoga warga di sini tetap tabah ,iklas dan kondisi segera pulih ya pak" ujarku seraya bingung harus berucap apa lagi.

Setelah pamit pada warga, kami menuju tempat terakhir yang menjadi agenda kami hari ini. Masih terletak di Desa Kunjir kami bertandang ke sebuah posko pengungsian yang berjarak 5 meter saja dari bibir pantai. Bangunan rumah rata dengan tanah, batas antara laut dan daratan masih dipenuhi sampah-sampah, barang-barang seperti kursi tamu, meja bahkan yang lainnya. Aku sedih tak terkira melihat pemandangan itu. Ku hapus air mata yg tak terasa mengalir di pipi. 

warga di desa kunjir
Distribusi Bantuan di Desa Kunjir


Kemudian ku beranjak menuju truk bumblebee dan membantu menurunkan kembali beras, gula, susu, selimut, baju, mainan, dan yang lainnya untuk kami berikan kepada kordinator posko. Nanti kordinator yang akan membagikan seluruh barang-barang ini kepada seluruh warga yang membutuhkan.


Menyerahkan bantuan kepada kordinator posko


It's A Wrap, Mission Accomplished & Whats Next?

Sesi pertama distribusi donasi untuk terdampak tsunami Selat Sunda ini selesai. Sebenarnya kami melakukan kegiatan ini pararel, artinya tim kami yang lainnya juga sedang mendistribusikan donasi di area Pandeglang, Sumur di Propinsi Banten

Nah sesi kedua insha allah akan diadakan pada pertengahan Februari 2019 dengan tujuan Pandeglang, Anyer, Sumur dan sekitarnya. Jadi jika pembaca masih ingin berdonasi, ACFH masih menerima segala bantuan dan bagi rekan-rekan yang ingin langsung ke lapangan sebagai relawan tentu saja bisa banget untuk berpartisipasi. 

relawan all community for humanity
Relawan ACFH siap ke Pandeglang di Februari 2019


Ini adalah gelaran ke tiga All Community for Humanity dilaksanakan, sebelumnya turun juga mendistribusikan donasi untuk area terdampak Gempa Lombok dan Gempa & tsunami Palu. So yang mau ikutan mendistribusikan donasi, ditunggu ya pembaca.



You Might Also Like

5 comments

  1. Yuk yang ingin berpartisipasi ke Banten di februari..

    ReplyDelete
  2. Cobaan berat bagi mereka yang terkena musibah ya, semoga mereka bisa ikhlas dan bangkit dari trauma, karena saya rasa dari seluruh indonesia siap mengulurkan tangan membantu mereka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak..semoga kondisi segera pulih seperti sedia kala..amin

      Delete
  3. Wuihhh keren nih kegiatannya, semangat kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you bang asad,,msh ada sesi ke dua bulan ini..

      Delete

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...