​1200 Paket Seragam Untuk Senyum Anak-Anak Banten


When you find yourself in the position to help someone, be happy! because Allah swt is answering that person’s dua through you. – Nouman Ali Khan

Sebulan yang lalu ACFH telah mendistribusikan bantuan logistik di area terdampak tsunami di Kab. Lampung Selatan, dan bulan ini seperti yang telah disepakati kami akan bertandang ke sekolah-sekolah di Prop. Banten untuk mendistribusikan seragam.

Paket seragam ini kami targetkan hanya 200 saja, mengingat waktu kami tidak panjang untuk menghimpun donasi. Ketika kita berbuat kebaikan, Allah membukakan segala pintu agar doa  diijabah. Tiba-tiba kami kedatangan 20 karung paket seragam sekolah dari Mas Taufik. Tak tanggung-tanggung jumlah 20 karung tersebut berisikan 1000 pasang seragam sekolah, baik itu seragam SD, SMP, SMA maupun Pramuka.

Persiapan Keberangkatan

Dengan personel relawan lebih banyak dibandingkan ketika berkegiatan di Lampung. Kali ini memilih Cilegon sebagai meeting point. Kami memilih rumah Mba Tati sebagai basecamp. Dengan gak tau malu, aku yang belum pernah berjumpa dengan mba Tati meminta izin agar bisa menumpang istirahat di sana. Alhamdulilah Mba Tati bersedia. 

Jumat sepulang kerja ku bergegas naik Trans Jakarta menuju Slipi Jaya. Aku udah janjian sama Devina untuk berjumpa di Hotel Amaris Cilegon. Devin yang baru 10 hari pindah ke Cilegonpun dengan senang hati ku ajak. Tiba pukul 21.30 WIB di rumah Mba Tati, aku dan Devin bertemu Mas Anton, Mba Beti dan Lala. Wah udah lama sekali gak berjumpa dengan Mba Beti. Kami ngobrol-ngobrol asik sekali. Tak lama kemudian Mas Anton dan Mba Beti pamit pulang.

Kolabs dengan GA Circle
Waktu tak terasa bergulir, jam tangan menunjukkan pukul 23.15 WIB menit ketika Kak Indra dan Kak Derry mengabari bahwa sebentar lagi akan tiba. Kakak-kakak relawan kece dari Lampung ini datang dengan perjalanan jalur laut dari Bandar Lampung. Bersamaan dengan Kak Indra dan Kak Derry, teman-teman dari GA Circle juga tiba di rumah Mba Tati. Tentu saja ada Kak Kent sang pilot, ada Kak Jaka sang ahli seribu tepuk, Devi, Nadia, Pia, Vivi dan Anggun di malam itu. 

Ini ada rombongan pertama GA Circle. Rombongan berikutnya akan sampai subuh hari. Seperti biasa kondisi udah mulai riuh dengan bercandaan ala kak indra sambung menyambung lagu hingga dini hari tiba.

ACFH X GA Circle
All Community For Humanity X GA CIRCLE


Hari H Yang Dinanti-nanti

Perjalanan kami dimulai dengan briefing dan berdoa pada pukul 05.45 hingga pukul 06.30 wib pada hari Sabtu 23 Februari 2019. Perjalanan bertambah seru dengan kehadiran Om Zulman, yang udah ku kenal sejak jaman kemah di Pangalengan, serta perubahan rencana karena Kak Tom baru akan terbang dari Makassar menuju Cengkareng di subuh itu. 

06.45 Wib kami mulai berjalan menuju sekolah pertama di SDN Caringin 02. Aku belum tau berapa lama perjalanan ini sampai ke SD Caringin. Sempat berhenti di beberapa point seperti pom bensin, supermarket dan toilet, kami tiba pada pukul 09.00 Wib di SD Caringin 02. Sepanjang perjalanan kami melihat sisa-sisa bangunan sekolah, rumah dan penginapan yang letaknya di pinggir pantai hancur karena tsunami.

Di SD Caringin 02 Kami Asik Bermain
Setelah dua kali putar balik, akhirnya kami menemukan SD Caringin 02 yang memang letaknya tidak dipinggir jalan. SD ini letaknya bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk. Setelah beramah tamah dengan kepala sekolah. Kami mengajak adik-adik yang berjumlah kurang lebih 250 bermain di lapangan. Kegiatan ini dibawakan oleh Kak Indra dan Kak Jaka untuk memandu segala macam tepuk. Aku dan Nadia ditunjuk sebagai fasilitator anak-anak kelas dua SD. Biarpun kelas dua, mereka cukup kompak loh. Buktinya ketika main persamaan dan kebalikan tidak pernah salah. Kegiatan berikutnya di sekolah ini yaitu mengumpulkan sampah-sampah plastik dalam wadah recycle yang dibawa oleh rekan-rekan dari GA Circle.

SDN 02 Caringin Labuan
SDN 02 Caringin bersama relawan


Di SDN 3 Teluk  Air Mataku Menetes
Aku tidak menuntaskan kegiatan di SD Caringin 02, dikarenakan harus berkunjung segera ke SDN 3 Teluk yang terletak di Jl. Karet Desa. Teluk, Labuan. Aku, Kak Indra, Mba Beti, Mba Tati bersama driver kami langsung meluncur membawa stok logistik berupa seragam, susu, dan kerudung untuk dibagikan. Para pelajar SDN 3 Teluk saat kami datang sedang mengadakan lomba menyanyi. Kami disambut anak-anak dan guru-guru dengan hangat.

Kami mengumpulkan adik-adik yang berseragam pramuka ini di tengah lapangan. Mereka sangat senang ketika kami beri susu kotak aneka rasa. Ketika seragam dan kerudung kami bagikan, salah seorang guru mengatakan jika dua org kakak beradik adalah yatim piatu. Mereka telah lama menjadi anak yatim, dan karena tsunami menjadi anak piatu. Ibu mereka menjadi korban tsunami pada 22 Desember lalu. Air mataku tak mampu kutahan. Seketika merembes di pipi, begitu juga dengan Mba Tati, Mba Beti dan Kak Indra. Penuh haru sekali kami berpamitan meninggalkan sekolah ini.
Mengharu biru di SDN 03 Teluk

Di MI Mathlaul Anwar kami berjumpa dengan mahasiswa STBMKG

Mentari cukup terik ketika kami tiba di MI Mathlaul Anwar yang beralamat di Jl. Perikanan 1 Desa Teluk, Labuan yang letaknya tidak jauh dari SDN Teluk 3. Padahal waktu masih jam 10.00 wib loh. Walaupun panas, tak menyurutkan semangat kami sebagai relawan untuk menuntaskan misi ini. Ketika kami datang ke sekolah ini, ada mahasiswa-mahasiswi STBMKG yang sedang KKN dan mengajarkan mitigasi bencana kepada anak-anak. 

Bermain di MI Mathlaul Anwar


Kami berbagi waktu dengan mahasiswi STBMKG tersebut. Aku, kak Jaka dan anggun masuk ke kelas 5 dan 6 yang digabungkan menjadi satu kelas. Kami bermain aneka tepuk dan fun games di dalam kelas. Anak-anak sangat senang dengan permainan ini. Di akhir kunjungan kami membagikan juz amma, peci, kerudung dan susu untuk mereka. Kami pamit tepat pukul 11.00 WIB.

Desa Teluk - Tsunami Banten 2018
Berbagi keriaan bersama


Bu Entin Seafood yang yahud

Dehidrasi dan kelaparan, itu yang kami rasakan setelah berpanas-panas ria bersama adik-adik di lapangan. Semuanya berakhir dengan perut kenyang, hati puas, dahaga terlepaskan setelah menyantap menu-menu enak di RM Bu Entin. Segelas es kelapa muda yg dicampur gula jawa udah habis diminum sebelum menu utama datang ke meja panjang kami. Air kelapa yang segar, bercampur gula dan asam jawa itu perpaduan yang pas di tenggorokan ketika tak sengaja kulihat jam menunjukkan pukul 11.40. Pantesan udah lapar, tadi pagi sarapan saja pukul 05.45 Wib pikirku.

Menu utama berupa ikan bakar, sate udang, cumi bakar, urap, tumis pare ikan teri bersama nasi bakul datang ke meja dalam porsi yang besar. Tentu saja kami makan dengan lahap sekali mengisi energi untuk melanjutkan perjalanan ke desa sumur selama dua jam.

Mengharu Biru di Desa Sumur

Tepat pukul 16.00 Wib kami tiba di Desa Sumur. Rusak parah! Dua kata itu yang menggambarkan kondisi desa yg langsung menghadap ke laut ini. Tak.jauh dari pinggir laut terlihat Pulau Umang yang dahulu ramai akan wisatawan, kini sepi bagai tak berpenghuni.

Kami tiba-tiba mengetahui  kehadiran Awkarin, youtuber terkenal itu juga hadir di Desa Sumur sore itu. Lokasi yang sama membuat kami harus memindahkan tempat pembagian seragam dan kebutuhan anak-anak lainnya. Sekolah yang kami kunjungi ketika itu bernama SDN Sumber Jaya. Selain seragam, kami berbagi peci, hijab, susu dan biskuit kepada anak-anak setempat.

Desa Sumur - Pulau Umang
Mobil Kak Tom pengangkut logistik

Kampung Cimenteng, tujuan pamungkas kami
Setelah menginap semalam di rumah Sersan Gonon yang nyaman, hari Minggu pagi kami memulai kegiatan pada pukul 09.00 WIB di Desa Cimenteng, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Dari rumah Sersan Gonon perjalanan memakan waktu 20 menit dengan medan jalan yang cukup menantang dikarenakan jalan yang kami lewati berbatu, tanah basah dan sempit. Mobil satu persatu dengan lambat tapi pasti berhenti di sebuah rumah yang memiliki lahan yang cukup untuk menampung 4 mobil.


Kampung Cimenteng
Bersama anak-anak di Kampung Cimenteng

Ketika sampai kami menurunkan segala logistik seperti seragam, mainan anak-anak, susu dan biskuit. Kami bermain dan menyanyi dengan adik-adik dengan riang gembira. Menyanyikan lagu 'Happy Birthday' untuk Kak Indra yang merayakan pertambahan usia hari itu dengan seru. Akhir kegiatan kami membagikan mainan kepada adik-adik dan memungut sampah plastik yang bertebaran di halaman rumah penduduk.

Happy Birthday Kak Dunia Indra
Happy Birthday Kak Indra!


Cimenteng adalah akhir tujuan kegiatan All Community for Humanity. Tak terhingga kami ucapkan terima kasih kepada para donatur yang mulia, kakak-kakak relawan, pihak sekolah yang menyambut hangat, Sersan Gonon sekeluarga yang ramah serta penduduk yang menyambut kami dengan baik. Semoga Banten bangkit dari kondisi ini dengan segera.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...