Cara Mengagumi Bosmu Dengan Asik di Kantor


“I don't have to agree with you to like you or respect you.” ― Anthony Bourdain

Suatu siang ketika jam istirahat

“Bu, ini aku rekomendasikan beberapa hotel yang sesuai budget kantor, saran aku sih An**” ujarnya sembari mengirimkan pesan berupa nama-nama hotel.
“Kenapa harus di sana?” tanyaku
“Makanannya enak loh, favorit resto hotel banyak orang” katanya.
“Okeh deh, trims ya” jawabku
“ Nanti aku temani sarapan ya bu, aku antar ke tempat meeting sekalian” ujarnya
“Sip “ ujarku menutup pembicaraan kami malam itu.

Ya, mendadak aku harus dinas ke kota sebelah. Keputusan yang hanya diambil satu hari saja oleh atasanku untuk mengurusi beberapa hal terkait SDM di kantorku.

Aku belum lama mengenalnya, baru 2,5 bulan sejak ku masuk di tempat kerja ini. Ya, dia adalah atasanku di kota sebelah yang hangat, pintar, baik dan juga dikaruniai wajah bak seorang model (ingat... wajah bak model). Aku dikenalkan oleh atasan langsungku di Jakarta untuk berkordinasi dengannya.



Berkenalan dengan kegiatan kantor melalui email, berlanjut ke kontak lewat telepon dan pesan pribadi. Orangnya yang enak diajak ngobrol, memiliki selera humor yang baik, serta ramah. Hal itu membuatku bukan seperti baru mengenalnya, serasa sudah lama kenal dengan orang ini seperti teman akrab saja.

Padahal dari sisi posisi tugas dan tanggung jawab di kantor dia lebih tinggi dariku. Hanya dua minggu dari perkenalan itu aku ditugaskan ke kantor provinsi sebelah, dan saat itu akhirnya kami bertatap muka. Jabat tangan yang hangat dan senyum simpul yang manis menyapaku pagi itu setelah berkendara tiga jam melewati track jalan lintas Sumatra yang wow medannya.

Ketemu Langsung dengan Si Dia Setelah Virtual Phone

Bukan hanya medan lintas Sumatra aja sih yang wow, tapi si dia pun juga wow. Mengagumi seorang bos seperti dia itu biasanya akan membuat orang canggung kan. Apalagi kalau baru pertama kali ketemu setelah sekian lama kontak via aplikasi atau dunia maya seperti saya

Tapi...
Tiada canggung yang kurasa setelah kita banyak membahas pekerjaan yang hari itu menjadi agenda penugasanku ke provinsi selatan di Pulau Sumatra itu. Hari itu kami hanya bicara yang formal-formal saja dikarenakan waktuku tidak lama. Kunjunganku berakhir singkat di sore hari nan hujan rintik-rintik itu.



Bulan berikutnya aku kembali bertugas, penugasan kali ini berlangsung selama tiga hari. Aku riang sekali karena bisa mendapatkan kesempatan dinas dan piknik sekaligus (dan melihat sosok yang membuatku terkagum-kagum itu).

Tawaran darinya berupa memilihkan hotel terbaik sangat ku apresiasi karena dia menjalankan tugas sebagai tuan rumah yang baik. Semuanya menjadi mendadak berubah ketika banyaknya kejutan-kejutan yang aku terima, menemani sarapan dengan obrolan ringan yang menarik membuatku mengetahui bahwa dia adalah orang cerdas, memiliki gaya kepemimpinan yang khas, serta low profile.

He is my role model in career

Kepemimpinannya tak perlu diragukan lagi. Mendadak kagum sama orang ini, serasa berhadapan dengan kamus berjalan. Segala topik menjadi bahasa obrolan kami dari mulai pekerjaan, objek wisata, perekonomian Indonesia hingga sedikit politik.
Ya padahal bahasan politik adalah bahasan yang paling aku hindari jika berbicara dengan orang lain. Tetapi entah mengapa, aku mengikuti saja alur pembicaraan yang dia mulai mengenai politik negeri ini.

Kejutan lainnya adalah tempat makan malam yang ia pilihkan untuk kami malam itu.

“Hello ini perjalanan dinas, bukan romantic dinner date” ujarku dalam hati. “Ahh receh banget sih kamu Fit.. Ge er berat aja” dalam hatiku mengatakan seperti itu.

Sebuah resto di atas bukit dengan pemandangan laut dihiasi kembang api di langit malam menjadi lokasi pilihannya untuk mengisi perut yang tadi sudah kriuk-kriuk karena kelaparan.

“Tell me its a dream” my heart say like that.

Sudah selesaikah kejutannya? Ternyata belum, jelang sampai ke hotel malam itu, aku menerima satu kardus berisikan oleh-oleh darinya. Akupun tidak bisa berkata apa-apalagi selain terima kasih tak terhingga. Ada yang tidak beres dalam perjalanan dinasku kali ini.

Sekali lagi, tell me its a dream. Ah kenapa perlakuannya begitu manis? Tak kuasa aku mencerna segala yang terjadi hari itu. Yang jelas sepulang dinas aku merasa bahagia dan riang. Ahh pernahkah kalian merasa ada yang tidak beres dalam hati ketika berhadapan dengan atasan? Bisa kacau nih pekerjaan jika dicampur aduk dengan urusan hati dan perasaan.

Sepulang dinas itu seperti biasa kami masih saja kontak melalui telepon dan pesan pribadi, kadang dia menemaniku lembur melalui telepon. Ada saja yang menjadi bahan obrolan kami selama satu – dua jam berbicara jarak jauh seperti itu. Terkadang kami menertawakan kebodohan karena pernah dimarahi oleh atasan bersama-sama.

5 Cara Mengagumi Atasan di Kantor (Tanpa Baper)

Ahh pernahkan pembaca mengalami sepertiku? Memiliki atasan di kantor yang seperti ini, muda, baik, berwibawa dan ganteng? Ataukah pernah grogi berhadapan dengan atasan berduaan karena dia super baik, dan ganteng? Nah berikut ada lima tipsnya:

1. Jadilah Diri Sendiri

Jangan pura-pura jaim di depan atasanmu, jadilah diri sendiri. Jika memang kamu orangnya suka melucu, lemparkan humor-humor kecil agar bisa meghangatkan suasana dan tidak garing.

2. Pisahkan antara Urusan Pekerjaan dan Pribadi

Jika bertemu dalam urusan pekerjaan, bahaslah urusan pekerjaan yang mesti diselesaikan dengan segera. Jika bertemu dalam urusan casual dan non formal, bisa membahas apa saja yang ringan-ringan seperti makanan, hobby, tempat gaul, dan hal yang lainnya.
Gampang? Gak. Seriusan, apalagi kalau kamu seperti saya yang mengagumi atasan di kantor hingga hampir mendekati yang namanya suka (baca: jatuh hati). Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

3. Tetaplah Menjaga Sopan Santun

Biarpun orangnya enak diajak berbicara ataupun bercanda, tetap jagalah sikap kita terhadapnya. Bagaimanapun dia tetap atasan kita di kantor. Jaga ucapan, dan etika sebaik-baiknya, agar penilaiannya pada kita baik secara pekerjaan maupun pribadi tetap positif.


4. Tetap Profesional dalam Pekerjaan

Walaupun merasa memiliki hubungan yang akrab dengan atasan, tetaplah menjadi seorang yang profesional. Selesaikan pekerjaan yang tetap menjadi tanggung jawabmu.


5. Hindari Baper yang Berlebihan

Masih ingin “bersama-sama” dengannya dalam suasana kerja yang nyaman dan obrolan pribadi yang hangat kan? Hindari baper yang berlebihan atau posesif yang tidak jelas alasannya. Ini untuk kebaikanmu juga loh.

Kalau Kamu Gimana?

Ya itu sih 5 cara mengagumi atasan di kantor yang saya lakukan. Secara saya masih ingin bekerja di sana, jadi harus jaga diri juga kan? Kalau kamu gimana? Sudah siap mengagumi atasan terbaik di kantormu?




You Might Also Like

0 comments