​Pesona Ujung Barat Pulau Jawa Yang Ciamik


Look deep into nature and then you will understand everything better – Albert Einstein

Ujung Kulon, tidak pernah terpikir olehku untuk datang atau berkunjung ke wilayah konservasi taman nasional yang dikenal sebagai tempat bermukimnya Badak Bercula Satu ini.

Tidak ada juga dalam bucket list ku untuk bisa trip ke daerah yang secara geografis terletak di Provinsi Banten ini. Hingga bulan lalu ketika All Community For Humanity mengadakan kegiatan ke Lampung Selatan dan bulan Februarinya ke Banten, Mas Anton mengusulkan kita untuk ambil cuti 1 hari di tanggal 22 Februari agar sempat bertandang ke Ujung Kulon. Namun ternyata, pada tanggal 22 Februari itu banyak kakak-kakak relawan yang masih bekerja di siang hari. Karena jadwal kunjungan ke beberapa sekolah dan lokasi pengungsian padat, sepertinya tidak jadi berkunjung ke sana.

Entah mengapa tiba-tiba keluar itinerary terbaru di grup, dan muncul jadwal kita akan menginap di daerah Ujung Kulon yakni di rumah penduduk, dikarenakan hari Minggu pagi kita akan berkegiatan di desa yang berbatasan langsung dengan taman nasional yang telah diresmikan oleh UNESCO pada tahun 1991.




Akhirnya sampai di Tugu Badak


Pucuk dicinta ulampun tiba, begitu kata pepatah yang menggambarkan kondisi kami sebelumnya. Aku excited sekali melakukan perjalanan ini. Walaupun tidak jauh dari Ibu Kota, Anyer, Carita, Labuan, Sumur hingga Ujung Kulon adalah lokasi-lokasi wisata yang belum pernah kukunjungin sama sekali.

Nah di sela-sela kegiatan bakti sosial kami, ada beberapa lokasi yang memang kece dan ciamik yang sempat kami datangi. 

Desa Sumur yang tetap menyisakan birunya ombak


Desa Sumur adalah salah satu wilayah terdampak tsunami yang cukup parah bulan. Desa ini ditempuh dalam perjalanan 4 jam dari kota Cilegon atau 2 jam dari Labuan dengan kondisi jalanan tanpa aspal, hanya batu-batuan dan jalan tanah.


Di atas beton berguling-guling


Kendaraan hanya bisa melaju 10-20 km/jam saja. Tiba di Sumur, ku lihat  dan ku tatap pinggir pantai yang rusak. Pinggir pantai yang tadinya cantik, lautnya biru, dan pasir putih nan halus yang langsung berhadapan dengan Pulau Umang yang terkenal. Pulau yang telah lama terkenal dengan resortnya yang asri dan keren ini tampak sepi bagaikan kuburan. Seperti yang telah diketahui 4 hari sebelum tsunami terjadi, tepatnya 18 Desember 2018 Pulau Umang Resort terbakar dan memang ditutup untuk sementara.

Sunset di Cinibung Resort yang tak terlupakan

Tak jauh dari Desa Sumur, kurang lebih 20 menit berkendara kami menemukan sebuah resort yang rusak. Resort yang langsung menghadap ke laut ini bernama Cinibung Resort. Bangunan penginapan ini tampak hancur di area depan ,pot-pot tanaman masih berserakan di halaman, beberapa dinding runtuh. Ketika mobil kami lewat, matahari akan kembali ke peraduan. Golden sunset terpampang nyata di depan mata. Sungguh menakjubkan mahakarya sang pencipta ini.




Tidak jauh dari Cinibung Resort, hamparan sawah yang hijau dengan langit yang jingga kemerah-merahan menyambut kami di pertengahan jalan. Tiba-tiba Mas Anton meminta driver kami untuk berhenti, Mas Anton membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kamera. Karena baterai drone habis, Mas Anton meminta Om Zulman yang ada di mobil Kak Tom untuk mengeluarkan drone agar bisa diterbangkan mengabadikan senja yang mengagumkan sore itu. Kami cewe-cewe kece diminta untuk berjalan di pematang sawah. Ah senang senang sekali kami berjalan sore dipematangan sawah sembari diabadikan lewat drone milik Om Zulman.


Senja yang mengagumkan



Rumah Sersan Gonon Yang Nyaman

Setelah berkendara memasuki desa yang gelap gulita, tepat pukul 19.00 Wib kami tiba di rumah Sersan Gonon. Kak Indra dan Kak Tati telah lebih dahulu tiba, driver mereka melaju kencang di kegelapan malam, sementara kami tadi sempat kehilangan petunjuk mereka berada. 

Ketika tiba, bapak dan ibu mempersilahkan kami masuk dan duduk. Tidak lama ibu kembali ke ruang tamu dengan piring, nasi, ayam bakar, sambal, lalap dan mie goreng. Ibu tau aja jika kami butuh asupan energi ketika tiba. Masakan Bu Gonon enak sekali, terutama sambalnya ,mantap pisan.

Sinyal smart phone hilang selama di desa, kecuali satu provider yang berwarna kuning itu. Kami pasrah menikmati malam tanpa bintang, eh maksudnya tanpa sinyal. Setelah makan kami bersenda gurau, saling bercerita dan istirahat. 

Sementara itu Kak indra, dan Mba Tati ke dapur memasak ikan dan cumi segar yang kami beli di Pasar Sumur tadi sore. 1 jam kemudian terhidang di ruang tamu pindang simba dan cumi rica-rica, makan lagi dong ya. Tak disangka Kak Indra selain jago ngemsi, juga lihai dalam memasak. #BukanMerotiYaKak

Melipir Ke Tugu Badak Taman Nasional Ujung Kulon

Setelah menuntaskan kegiatan di Desa Cimenteng pagi itu, kami konvoi 4 mobil menuju Tugu Badak yang menandakan bahwa kami telah tiba di Gerbang Taman Nasional Ujung Kulon.

Ternyata dari Desa Cimenteng butuh 1 Jam 15 menit sampai ke Tugu Badak ini dengan kondisi jalan tanah, becek dan berbatu. Terdapat pusat informasi dan konservasi di Tugu Badak ini, kantor ini cukup bersih dan nyaman. Tidak lama kemudian, Kak Tom mengajak kami  para genk cewe untuk off road ke area dalam TNUK hingga kami tiba di area kantor Yayasan Badak.


Di Tugu Badak
'Wah terdengar debur ombak' pikirku. Kami menjumpai Mas Rifky, petugas penjaga TNUK yang telah 4 tahun mengabdi di sini. Selain Mas Rifky, ada juga tiga orang petugas lain yang ada di lokasi tersebut. 50 meter dari area kantor tersebut, kami menemukan pantai yang landai yang memiliki pasir pantai berwarna hitam dan halus. Kemudian yang kulakukan adalah berduduk santai di area kantor yang berbentuk rumah panggung, berusaha memejamkan mata sejenak di tengah hutan nan asri ini.

Menyusuri Hutan Mangrove, Makam Keramat dan Pantai

15 Menit saja setelah memejamkan mata, datanglah kehebohan. Ternyata genk cowo-cowo telah tiba di TNUK setelah dijemput oleh mobil keren Kak Tom. Mereka baru saja merasakan sensasi Off road dan duduk di kap mobil. Setelah disuguhi salak hutan nan manis,asam, sepat, kami bersama-sama menyusuri hutan bersama Mas Rifky sebagai pemandu. Katanya 500 meter berjalan kaki, kami bisa menemukan spot Hutan Mangrove.


Keseruan di hutan mangrove


Baru 300 meter berjalan, aku yang berjalan di barisan tengah merasakan sesuatu yang aneh ketika Kak Ken dan Kak Indra berbelok ke arah kiri. 'Sssstt ada makam keramat' ujarnya pelan-pelan. Kami memasuki area makam keramat yang terdiri dari 3 kuburan dilapisi marmer berwarna putih. Makam ini dikelilingi oleh bebatuan yang cukup tinggi. Mas Rifky mengatakan batu ini adalah batu alami, dan banyak yang datang ke makam ini untuk berziarah. Konon katanya makam ini adalah makam orang-orang dahulu / yang telah lama berdiam di TNUK ini.

200 meter dari makam keramat, kami tiba di tujuan. Hutan Mangrove yang memiliki jembatan kayu ini cukup teduh, dan terdengar Mas Rifki menjelaskan bahwa di sini ada buayanya. Hihhh bergidik aja mendengar kata-kata hewan seram itu.

Setelah menemukan hutan mangrove


Tak lama kemudian Mas Anton mengambil video kami berjalan perlahan-lahan di atas jembatan. Syuting ala-ala gitu deh. Segala gaya dicobain seraya drone Mas Anton dan Om Zulman berputar-putar di langit nan biru itu. Setelah heboh dengan gaya berbaring, photoshoot ala-ala dan lainnya. Kami menuju pinggir pantai landai yang berpasir putih. Semua sontak kegirangan, karena dipinggir pantai ada sinyal smart phone pemirsah.

Ku tak afdol jika tidak berbasah-basahan di pinggir pantai. Turun ke pasir, menyapa ombak, memainkan pasir dengan kaki, berjalan dan berlari kecil di pinggir laut, biasanya hal itu yang aku lakukan. Sementara teman-teman yang lain menjadi background dari video klip dari lagu Cantik yang dengan keren dinyanyikan oleh Kak Indra feat Kak Ken.

Celana corduroy abu-abu yang kukenakan telah basah hingga lutut, yang penting bahagia pikirku. Aku masih punya celana ganti nanti sekalian bebersih di Kantor Konservasi. Setelah kembali dari pantai kami pamit pulang kepada Mas Rifky dan bapak- bapak petugas di TNUK. Hari telah menunjukkan pukul 12.30 WIB dan perjalanan pulang masih panjang.

Ternyata Banten memiliki kekayaan alam dan pariwisata yang sangat fantastis. Badak bercula satu yang hanya tinggal 60 ekor saja harus kita lestarikan. Semoga provinsi ini lekas bangkit dari Tsunami, dan infrastrukturnya bisa lebih baik lagi di masa yang akan datang.




You Might Also Like

1 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...