Mengunjungi Turki Di Musim Semi 2019 #1



If the earth were a single state, Istanbul would be its capital – Napoleon Bonaparte



Landing di Ataturk International Airport


“ Pukul 10.45 waktu Istanbul dan tidak ada perbedaan antara waktu Istanbul dengan waktu Jeddah”  begitu kata Pramugari yang bertugas di Saudia Air ketika kami mendarat.

Alhamdulillah setelah perjalanan panjang Cengkareng – Jeddah 9,5 Jam, transit di Jeddah selama 4,5 jam, dan perjalanan Jeddah- Istanbul selama 4 jam, tiba jua di salah satu bandara tersibuk di dunia ini, Ataturk International Airport yang terletak di Kota Istanbul Turki.

Yay akhirnya menginjakkan kaki jua di salah satu kota bersejarah di Turki ini yang secara geografis berada di Benua Eropa. Wah tidak terbayang sebelumnya dibenakku akan datang kesini loh.

Kunjungan ke Turki ini membuatku pasrah mengingat aku tidak membawa outfit baju hangat, sarung tangan atau apapun itu dengan segala keriweuhan menjelang keberangkatan. Boro-boro mau membeli, mau meminjam ke temen saja tidak terpikir dalam benakku.



Landing di Ataturk Interantional Airport - Istanbul
Aku pasrah setelah melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan jaket tebal ataupun scarf yang melilit di leher. Walapun musim semi baru saja menyapa Istanbul, namun yang kutau suhu di luar sana masih berkisar 5 C  - 7 C, suhu yang tidak lazim untuk negara tropis seperti Indonesia. Apalagi kami punya agenda mengunjungi Uludag [Gunung Salju]. Bener-bener pasrah deh aku, ku yakin jaket yang kubawa dari Jakarta tidak mampu melindungiku dari suhu -1 C di ketinggian 1100 mdpl.

Ataturk International Aitport sangat luas, bersih, menawan, serta ramai sekali. Setelah tertahan selama dua jam karena Visa tour leader kami mengalami masalah, akhirnya kami bisa merasakan udara Istanbul yang sebenarnya cukup dingin, 7 C tertera di ponselku pada pukul 13.00 Waktu Istanbul.


Bertandang ke Bursa

Agenda kami siang itu adalah bertandang ke Bursa, yang merupakan salah satu Provinsi yang berada di Turki. Perjalanan siang itu terhadang macet di sepanjang Laut Marmara menuju Jembatan Fatih Al Mehmet yang termasyur itu. Jembatan ini menghubungkan Istanbul di Benua Eropa dengan kota-kota lainnya di Turki yang berada di Benua Asia.

Miss Amine, adalah tour leader kami yang fasih berbahasa Indonesia ini berasal dari Bursa. “ Saya pulang kampung nih “ ujarnya kepada kami ketika di dalam bis. Bahasa Indonesia dan aksennya dia pelajari di Yogyakarta selama empat bulan. Tak heran dia cukup fasih dan tanpa kendala berkomunikasi dengan kami.

menuju Bursa
Perjalanan menuju Bursa
Bursa merupakan kota terbesar nomor empat di Turki setelah Istanbul, Ankara dan Izmir. Kota ini pernah menjadi Ibu kota pertama Kesultanan Ustmaniyah pada tahun 1326 – 1365. Zaman dahulu bursa terkenal dengan perkebunan zaitunnya saja, lama-lama Bursa berkembang menjadi kota Industri besar di Barat Turki. Pabrik-pabrik pengolah buah zaitun berdiri di kota ini sehingga menyerap banyak tenaga kerja. Bursa juga terkenal dengan julukan “Green Paradise” karena hijaunya kota ini yang dikelilingi oleh hutan-hutan yang cukup luas.

Bermain Salju di Uludag
Uludag yang berarti Gunung Agung atau Gunung besar merupakan pegunungan bersalju yang berada 1 jam saja dari Kota Bursa. Pegunungan ini memiliki tinggi kurang lebih 2500 mdpl dengan ski resort yang berada di puncaknya. Hari telah senja ketika kami tiba di Uludag, langit berwarna merah jingga dan es tebal menyambut kami di ketinggian 1100 mdpl Gunung Uludag ini. Kami tidak bisa menuju puncak Uludag dikarenakan hari telah sore menjelang malam. Padahal menuju puncak Uludag kita bisa menaiki cable Car dan membayar 200 lira untuk menikmati keindahan putihnya salju di antara hutan-hutan pinus ini. Walapun kami hanya di ketinggian 1100 mdpl, tetap saja kami kedinginan. Dari informasi Mba Dwi, aku kaget ketika mengetahui suhu di sini -1 C. Pantas saja terasa beku setelah asik-asik memegang salju, dan berpoto di beberapa spot bersama ibu-ibu.

Salju di Uludag
-1 derajat celcius di Uludag

Tak kulihat Bu Beti dan Bu Fera saat itu, mungkin beliau di kafe pikirku. Setelah 20 menit berada di area luar dan langit semakin gelap. Aku mengayunkan langkah menuju Karkay Resto & Cafe, tanpa ragu ku memesan segelas coklat hangat untuk menghangatkan tubuh dengan harga 17 lira. Ku duduk di dekat Bu Ovie dan Pak Prima yang sedang mengobrol asik, ya pasangan suami istri dari Rancaekek ini adalah teman ngobrolku ketika pertama kali bersua di bandara sebelum keberangkatan kami. Setelah menghangatkan tenggorokan dengan coklat hangat aku berkeliling cafe ini, aku temui tungku perapian yang ada di pojokan cafe. Cafe ini terbagi menjadi dua area, area dalam dan area luar. Duh siapa yang kuat duduk-duduk jelang malam di luar cafe dengan suhu -1 C pikirku.

Bersama mamanya wisnu dan bubu ari
Berlayar di Antara Dua Benua di Selat Bosphorus
Angin di tepi Selat Bosphorus pada pukul 10.00 Waktu Istanbul saat itu cukup kencang, dengan suhu 7 C kami akan berlayar selama 45 menit mengarungi selat ini dengan cruises. Cruises kami cukup keren loh, setelah masuk kapal kami diminta untuk naik ke lantai atas dan bersiap melihat view keren dan kece di sekitar kami.

serunya di selat bosphorus
Terkagum-kagum dengan selat bosphorus
Miss Amine menjelaskan peranan Selat Bosphorus ini terhadap perekonomian Turki baik di masa silam maupun di masa kini. Kapal-kapal berlalu lalang mengangkut banyak hal, hasil bumi, minyak, bahkan mengangkut wisatawan. Angin kencang, langit biru, laut biru adalah hal yang indah siang itu. Apalagi kami sempat bertemu dengan 8 ekor lumba-lumba yang sedang bermain dan melompat di sekitar kapal kami. “ wah cakep banget itu ada lumba-lumba” ujar Mba Dwi rekan satu grup kami. Kami juga melewati salah satu hotel mewah dan bersejarah di pinggir Selat Bosphorus yang bernama Ciragan Palace Kempinski. “Hotel ini adalah salah satu hotel dengan tarif termahal di dunia, sehingga yang datang ke sini biasanya pejabat dan artis-artis ternama “ujar Miss Amine menjelaskan kepada kami.

Setelah kemarin kami melewati Jembatan Fatih Al Mehmet dengan bis, siang ini kami kembali melewati jembatan hits tersebut namun berada tepat di bawahnya. Pemandangan ini tentu saja tidak kulewatkan untuk diabadikan lewat kamera. Asli cakepp banget loh. Blue Mosque samar-samar terlihat dari cruises yang kami tumpangi siang nan terik tapi dingin itu. Nah keseruan kunjungan di Turki masih berlanjut, simak di tulisan berikutnya ya.

Fatih Al Mehmet Bridge
The Famous Bridge, Fatih Al Mehmet





You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...