Mengunjungi Turki di Musim Semi 2019 #2



Setelah puas berlayar dengan cruises keren di Selat Bosphorus kami melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat di Istanbul. Ada banyak tempat-tempat wisata menarik di Istanbul yang harus didatangi oleh wisatawan, jika kamu menyukai hal-hal berbau sejarah, mari kita masuk ke lorong waktu dan imajinasi 500 tahun yang lalu di beberapa tempat seperti :

Top Kapi Sarayi yang agung

Top Kapi Palace atau orang Turki biasa menyebut dengan Top Kapi Sarayi merupakan peninggalan sejarah zaman dahulu yang masih terjaga baik hingga saat ini. Istana ini merupakan kediaman Sultan Ustmaniyah selama 600 tahun [1465 – 1856].


Gerbang Top Kapi Palace
Berbagai peninggalan milik Nabi Muhammad SAW juga tersimpan rapi dan utuh di museum yang letaknya tidak jauh dari Selat Bosphorus ini. Mantel, rambut, janggut, gigi, busur, dan pedang milik Baginda Rasulullah SAW merupakan koleksi Istana Top Kapi yang tak ternilai harganya.

Selain Nabi Muhammad SAW, kita juga bisa melihat dengan jelas tongkat Nabi Musa, pedang milik Nabi Daud, jubah kepunyaan Nabi Yusuf, dan pedang-pedang yang dipakai ketika perang oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Tak ketinggakan mantel milik Fatima, Putri Nabi Muhammad menjadi penghuni museum yang tidak pernah sepi pengunjung ini.

Istana ini sangat luas, dan untuk masuk ke bagian utama istana kami melewati 3 gerbang gate. Setelah masuk ke Gate pertama, kami disuguhkan taman yang luas dengan rumput hijau, dan pohon-pohon meranggas khas musim semi. Terdapat juga kursi untuk duduk-duduk santai jika lelah berjalan kaki. Walupun panas terik dan jam di tanganku menunjukkan pukul 2 siang, namun suhu udara di Istanbul siang itu 7 C.

Tiket Masuk Top Kapi Sarayi
Ku tak pernah bermimpi untuk datang ke tempat ini, aku syukuri saja nikmat dan berkah yang Allah SWT berikan kepadaku. Aku sangat menikmati saat-saat melihat benda-benda milik Nabi Muhammad SAW berada di depan mata seraya membayangkan andaikan aku bisa bertemu beliau apa yang kira-kira akan terjadi?

Setelah menyambangi tiga bangunan utama istana, aku mengajak Lutfi ke area dapur yang menurut sejarah, dapur ini memasok makanan dan minuman sehari-hari untuk 4000 orang penghuni istana. Wow 4000 orang? Bisa dibayangkan sebanyak apa makanan dan minuman yang dimasak hari per harinya.

Dapur istana ini berbentuk lorong-lorong panjang dan besar. Karena area dapur sama seperti museum tidak boleh dipoto, jadi aku ceritakan saja ya. Ada banyak peralatan memasak seperti kuali, bejana, tungku yang ukurannya sangat besar. Belum pernah kulihat bejana yang berukuran diameter kurang lebih 100 – 150 Cm. Begitupula tungku-tungku yang ada di dapur tersebut besar dan jumlahnya banyak. Sepertinya memang cukup untuk memasak logistik untuk 4000 porsi.

Masuk ke area dapur lainnya, terdapat berbagai peralatan makan yang terbuat dari guci, dan porselen yang kami yakini ini berasal dari Tiongkok. Ternyata benar sekali, peralatan teko, cangkir, piring, dan gelas itu berasal dari Tiongkok sekitar tahun 1500an. Wah kondisi barang-barang yang sudah berabad-abad ini masih sangat layak kondisinya. Wajar saja jika pihak museum memberlakukan aturan ketat bagi pengunjung di sini.

Duduk santai di taman

 
Aku dan lutfi masih seru menyambangi dapur-dapur yang lainnya ketika ponsel Lutfi berdering beberapa kali, ternyata kami telah lewat dari waktu janjian yakni pukul 17.15. Ahaaa pantesan saja dicari-cari.

Blue Mosque yang termasyur
Masjid ini bernama Sultan Ahmed Mosque dan masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1985. Dibangun pada tahun 1609 – 1616 masjid ini memiliki interior biru di masa lalu, sehingga terkenal dengan nama Blue Mosque. Kehadiran masjid ini awalnya ingin menandingi keberadaan Hagia Sophia yang sempat menjadi gereja di masa itu yang letaknya hanya 300 meter saja dari masjid ini.

Belum ke Istanbul, jika belum ke Blue Mosque

Setiap hari masjid ini dikunjungi oleh ribuan jamaah yang akan shalat lima waktu dan puluhan ribu wisatawan yang ingin mengetahui sejarah dan megahnya masjid ini. Tak kulewatkan untuk salat di sini, karena kami dalam masa safar, jadi aku menjamak salat Zuhur dan Ashar. Area wudhu terdapat di bagian kanan masjid ini, dan masya allah air dari keran rasanya seperti air es. Meskipun sore itu cuaca sangat cerah, namun air wudhu ini membuatku sangat kedinginan.

Sebelum memasuki kawasan batas suci masjid, ada papan pengumuman yang memberitahukan peraturan-peraturan memasuki masjid, yakni memakai baju yang sopan santun baik pria dan wanita. Tentu saja masuk mesjid dengan pintu yang berbeda, jika pria masuk dari pintu depan, sedangkan wanita masuk dari pintu samping. Masjid ini sangat luas, jadi perlu diingat pintu dan tempat meletakkan barang ketika masuk.

Peraturan Masuk Masjid

Interior masjid ini mewah sekali, aku sangat mengaguminya. Ku syukuri bisa menunaikan ibadah di salah satu masjid kebanggaan Kalifah Ottoman ini. Masjid ini dalam masa renovasi ketika kami datang, duduk-duduk di taman masjid sembari melihat burung-burung merpati yang terbang sore itu adalah kemewahan tersendiri loh. Musim semi membuat banyak orang bersuka ria, udara yang cerah, cuaca yang sejuk, serta langit yang biru membuat semuanya menjadi indah.

Masukkan Masjid Sultan Ahmed ke dalam bucket list kamu ya pembaca, kamu akan memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam setelah ini.

Aya Sofia yang sakral

Warga Turki menyebutnya dengan Aya Sofia, sementara nama asli dari tempat ini adalah Hagia Sophia yang berasal dari bahasa Yunani. Tempat ini adalah gereja di masa Kekaisaran Byzantium, dan Romawi beratus tahun lamanya, namun setelah Kekaisaran Ottoman mengalahkan Romawi, tempat ini berubah fungsi menjadi mesjid pada periode 1453-1931.

Apa yang menarik di sini? Simbol-simbol dua agama bersatu! Itu yang tak terbantahkan bahwa museum ini sangat sakral. Mosaik Bunda Maria berdampingan dengan tulisan cantik dengan yang bisa kita baca “Allah’ dan “Muhammad”. Interiornya mewah dan luas sekali, dari lantai dua Hagia Sophia sejenak bisa melepaskan pandangan ke arah Blue Mosque. Ya Sultan Ahmed membuat Blue Mosque memang sebagai saingan Aya Sofia di masa itu. Eksteriornya bewarna  merah bata. Disekelilingnya terdapat taman dan kursi untuk bersantai di sore hari.

Aya Sofia dari luar


Setelah Kekaisaran Ottoman runtuh pada tahun 1931, pemerintah Republik Turki di masa Presiden Pertama Kemas Mustafa Aturk menyatakan bahwa Aya Sofia dijadikan museum. Tidak lagi menjadi gereja, dan tidak pula menjadi masjid. 

Apa pembaca telah mengikuti berita paling baru? Baru-baru ini terlontak ucapan dari Presiden Turki Erdogan bahwa Aya Sofia akan dikembalikan dungsinya menjadi mesjid. Wallahualam bissowab.

Berbelanja aneka buah tangan
Di Istanbul sangat banyak tempat untuk berbelanja oleh-oleh, ya turis Indonesia tidak lazim pulang dengan tangan hampa ketika bepergian. Kami tidak memiliki agenda ke Grand Bazaar, salah satu [pusat perbelanjaan di Turki yang hits dan sangat luas, jadi Tour Guide kami membawa kami ke sebuah toko kecil yang berjarak 500 meter dari Blue Mosque. Toko kecil ini dijaga oleh warga Indonesia.

Walaupun kecil, toko ini ternyata cukup lengkap untuk melengkapi oleh-olehmu loh, ada dompet kecil, pembatas buku cantik, hijab khas Turki, tas anyaman, magnet kulkas, gantungan kunci, dan yang lainnya. Nah jika pembaca kekurangan uang Lira, jangan khawatir, toko ini menerima mata uang Rupiah sebagai alat bayar. Dimudahkan sekali bukan rangkaian-rangkaian transaksi untuk membeli oleh-oleh?

Pembatas buku cantik


Itulah dua ceritaku ketika mengunjungi negeri Kekalifahan Ottoman masa kini. Istanbul, Bursa, dan Uludag sangat berkesan di hati. Jika diminta kembali ku senang hati untuk belajar Islam lebih dalam di sini.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...