Sepenggal Cerita Selama Perjalanan Umroh #2



Setelah empat hari tinggal di kota Nabi Muhammad, saatnya kami mempersiapkan pelaksanaan prosesi umroh di Kota Mekkah. “Besok kita akan berangkat menuju Mekkah pada pukul 14.00 ya bapak ibu” ujar Ustad Ujang sehari sebelum keberangkatan kami.


Photo Credit : Mas Anton Candra


Pada sesi kajian saat itu kami diingatkan kembali mengenai apa saja yang disiapkan, dan urutan pelaksanaan ibadah umroh yang perlu di ingat.

The Day

Persiapan keberangkatan telah dilakukan dari pagi, karena koper-koper kami harus ada di depan pintu kamar pada pukul 09.00. Artinya segala barang-barang harus segera dibereskan masuk koper. Setelah sarapan pagi, aku mengecek kembali barang-barang yang akan dimasukkan ke dalam koper, dan barang mana saja yang akan aku bawa dalam backpack. Walaupun aku bukan ahli dalam urusan printilan barang, yang penting koperku ringkas. Aku tidak membeli banyak hal di Madinah ini kecuali kurma ajwa.



Kabah Kiblat Umat Muslim 

Setelah salat zuhur tepat pukul 14.00 kami menaiki bis yang akan membawa kami ke Kota Mekkah. Perjalanan akan kami tempuh selama 6 jam, dan kami akan singgah di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat. Tubuhku rasanya telah mulai lelah, sakit kepala sedari pagi tak bisa kutahan dan hidungku sedari subuh juga telah mampet. Jadi sepanjang jalan yang kulakukan hanya tidur, terbangun sebentar ketika mengambil miqat dengan mata yang 5 watt. Dalam hati kulafalkan kalimat tabliyah terus menerus sampai aku tertidur.

Jam 20.00 akhirnya kami sampai di hotel, Elaf Al Masher, begitu namanya. Jaraknya 250 meter dari Masjidil Haram, lokasinya berseberangan dengan Terminal Ajyad dan persis di belakang Zam-Zam Clock Tower. Setelah makan malam, kami diminta untuk berkumpul di lobby hotel pukul 22.00. Setelah menyelesaikan proses cek in, makan malam, dan beristirahat sebentar kami on time tiba di lobby hotel sesuai dengan waktu yang ditentukan.


Prosesi Umroh yang mengharukan

Dipimpin oleh Ustad Ahmad, kami memulai berjalan kaki sembari mengucapkan kalimat-kalimat talbiyah. Semakin mendekati Masjidil Haram, jatungku berdegup kencang. Tidak sabar rasanya masuk kembali ke masjid ini setelah 9 tahun. Sensasi ini tentu saja berbeda dengan datang ke masjid-masjid lainnya yang pernah ku datangi. Kami masuk dari Pintu 90 dan 91 Masjidil Haram.

Salat isya dan jamak magrib berjamaah adalah hal yang pertama kami lakukan ketika telah masuk masjid. Air mata membanjiri pipiku di sela-selat shalat. Penuh haru dan syukur tak terkira ku bisa datang lagi ke tempat suci ini. 20 menit yang kami butuhkan untuk salat pertama di Masjidil Haram ini, setelah nya kaki ini perlahan melangkah menuju Baitullah.


Photo Credit : Mas Anton
Kotak hitam dengan lapis emas itu masih kokoh berdiri, walaupun usianya ribuan tahun, tapi auranya mampu menarik jutaan umat muslim dari belahan dunia manapun untuk datang ke sini. Dia masih sama seperti yang kulihat 9 tahun lalu, hanya sekarang sangat padat orang-orang yang mengelilinginya. Kuturunkan kaki perlahan-lahan menyamai langkah para jamaah yang lain untuk bertawaf sebanyak 7 keliling sebagai syarat sah nya ibadah ini.

Satu jam adalah waktu yang normal dibutuhkan untuk melaksanakan tawaf mengelilingi ka’bah. Begitu banyak jamaah yang melaksanakan tawaf malam yang menurut Ustad Ujang, malam Jumat memang situasi sangat padat karena jamaah terbiasa mendatangi Ka’bah. Setelah melaksanakan tawaf, kami menggeser barisan ke deretan air zam-zam, meneguknya segelas membasahi dahaga yang dari tadi memang kehausan. Kulihat langit yang cerah, dan full moon tepat berada di samping area Zam-Zam Clock. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?  Tak lama, Ustad Ahmad memandu kami berjalan ke belakang Maqam Ibrahim, mencari celah / tempat yang kosong agar kami bisa melaksanakan ibadah salat sunat dua rakaat.

Terasa sekali dekat dengan Kabah, terasa betul hati ini bergetar ada di tempat terbaik di muka bumi ini, kupanjatkan segala doa-doa yang baik kepada allah SWT di tempat mustajab ini.

Setelah jamaah group kami berkumpul kembali, Ustad Ahmad membimbing kami untuk prosesi Sa’i, yaitu berjalan sebanyak 7 kali dari Bukit Safa ke Bukit Marwa. Menurut sejarahnya, 7 kali ini menandakan perjalanan Siti Hajar dari Bukit Safa ke Bukit Marwa untuk mencari air karena Nabi Ismail menangis kehausan. Jamaah berjalan sambil mengucapkan zikir, doa, kemudian jika telah tiba di Bukit Marwapun kembali memanjatkan doa. Prosesi Sa’i ini juga memakan waktu satu jam.


Photo credit : www.berhaji.com

Setelah Sa’i tahapan terakhir prosesi ibadah umroh ini adalah mencukur rambut kepala bagi jamaah pria, dan memotong rambut seujung ruas jari bagi jamaah wanita. Jamaah pria akan dibawa oleh Ustad Ahmad menuju tempat cukur rambut, sementara jamaah wanita diperbolehkan memotong rambut di hotel nantinya.

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 02.00 saat kami tiba di kamar hotel, tiga jam prosesi umroh selesai. Tak lupa ku memotong rambut Bu Beti, Bu Fera dan Bu Dian di kamar hotel, kemudian Bu Dian memotongkan seruas jari rambutku menandakan selesainya kami menunaikan ibadah umroh. Semoga Allah SWT menerima ibadah, doa, dan lelah kami. Aminn Ya rabbal Alamin.


Salat Jumat Yang Fenomenal

Setelah kelelahan menjalankan ibadah umroh, kami memutuskan untuk melaksanakan salat subuh di hotel saja dan menyimpan tenaga untuk berjalan kaki ke Masjidil Haram pada waktu Dhuha dan Salat Jumat. Yak, Salat Jumat adalah salah satu ibadah yang kunantikan ketika berada di Tanah Suci ini. Sebenarnya kaum akhwat diperbolehkan untuk melaksanakan Salat Jumat, hanya di negara kita tidak lazim Salat Jumat dilaksanakan oleh wanita.

Pukul 10.30 aku, Bu Beti, Bu Dian, dan Bu Fera bergegas menuju Masjidil Haram agar kami masih bisa melaksanakan Salat Dhuha. Padat! Itulah yang kurasakan ketika kami harus berusaha mencari shaf—shaf untuk salat. Alhamdulilah bisa melaksanakan Salat Dhuha sekaligus Salat Jumat. Di sebelahku adalah seorang wanita dari Al Jazair ketika kuajak mengobrol, telah beberapa hari dia berada di Mekkah dan akan ke Madinah hari Sabtunya.

Salat Wajib, Salat Sunat, dan Membaca Quran
Selama lima hari ada di Mekkah, yang dilakukan adalah fokus memperbanyak ibadah-ibadah pribadi. Salat Wajib Lima Waktu, Salat Sunat Dhuha, Tahajud, dan Tahyatul Masjid, serta memperbanyak membaca Alquran. Begitu khsyuknya salat di rumah Allah SWT ini, tidak memikirkan banyak hal seperti kita beribadah di negeri kita.

Semua jamaaah akan bergegas menuju Masjidil Haram, satu jam sebelum salat wajib biasanya. Mengisi air zam-zam ketika datang sebagai bekal minum selama beribadah, dan membawanya botol kembali penuh setelah selesai ibadah adalah kenikmatan tersendiri. Tak kulewatkan sedikitpun untuk minum air zam-zam selama di Tanah Suci.

Tawaf Wada sebagai tanda perpisahan
Setelah hari kelima berada di Mekkah, tiba jua saat berpisah dan harus segera kembali ke tanah air. Sedih rasanya tak terkira, apalagi malam itu kami harus melaksanakan tawaf wada sebagai tawaf terakhir. Badanku kurang fit beberapa hari ini, namun ku tekadkan agar bisa sedikit lebih baik ketika tawaf wada.


Photo Credit : Mas Anton Candra
Kami merencanakan tawaf setelah Salat Magrib sebelum Salat Isya, perlahan tapi pasti setelah Magrib bergerak menuju Ka’bah. Padat sekali memang namun hati telah kuat dan tubuh telah siap, jadi ikuti saja kaki ini melangkah sebanyak 7 putaran. Tak kulupa malam itu kami bergerak ke arah depan, sehingga persis berada di belakang Hijir Ismail dan Rukun Yamani. Ku sempatkan salat dua rakaat di area itu, entah mengapa sepadat-padanya Ka’bah malam itu, namun ku merasa lapang salat di area Rukun Yamani. Masya Allah Tabarakallah.

Azan Isya berkumandang tepat ketika aku menuntaskan putaran terakhir tawaf. Aku dan Bu Fera mencari-cari celah agar kami bisa segera keluar area depan Ka’bah yang semakin lama semakin padat jelang isya. Para jamaah pria telah duduk rapi menanti Isya. Qadarullah aku mendapatkan barisan salat yang tidak jauh dari Ka’bah. Ku tunaikan Salat Isya malam itu dengan bercucuran air mata karena sedih akan meninggalkan tempat terbaik di muka bumi ini.

Ya itulah sepenggal pengalamanku lima hari di Mekkah Al Mukaromah ini, semoga Allah SWT nanti bisa mengundangku kembali menjadi tamunya. Amin ya rabbal alamin.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...