​​Kenangan Ramadan Masa Kecil di Kota Kelahiran


Its never too late to have a happy childhood!

Bulan Ramadan tahun ini telah memasuki tahun 1440 H. Ini tahun ke lima ku berpuasa di Ibu Kota, setelah bertahun-tahun Ramadan di Kota Kembang dan Kota Tanjung Balai Karimun. Lebaran di ibu kota memang berbeda dan berwarna setiap tahunnya. Nah bagaimana suasana ramadan di masa kecilku? Berikut sedikit ceritanya



Jika berbicara tentang Ramadan di masa kecil, aku akan bercerita tentang masa kecil berpuasa di Jambi, kota kelahiranku yg penuh dengan memori.

Tarawih jauh dari rumah
Setiap bulan puasa aku menyambutnya dengan gembira. Setelah siangnya beribadah puasa dengan khusyuk, malamnya tentu saja menunaikan ibadah salat tarawih.

Sejak dari zaman Sekolah Dasar hingga SMA, aku diajak oleh ayahku untuk salat tarawih di sebuah masjid yang letaknya cukup jauh dari rumah. Untuk datang ke masjid biasanya ayahku mengendarai mobil sendiri. 

Aku menyukai tarawih di Masjid Nurul Huda yang berada di Komplek Setianegara. Walaupun jauh dari rumah yang kusukai adalah ketika aku bisa bertemu dengan teman-teman sekolah. Memang, letak sekolahku jauh dari rumah, namu dari SD dan SMA sekolahku tidak jauh dari Masjid Nurul Huda.

Kegiatan ketika tarawih
Ketika waktu ceramah tiba, aku dan teman-teman biasanya bermain di luar masjid dan jajan kerupuk merah favorit. Ya ampun masih terkenang-kenang hingga sekarang.

Di akhir tarawih tentu saja kami meminta tanda tangan penceramah yang dibubuhkan di buku Tugas Ramadan dan antri secara teratur. Jika tidak antri, pak ustad akan memaksa kami untuk berbaris rapi dan buku ditumpukkan.

Ketika libur sebulan di Ramadan
Dulu ketika SD dan SMP, libur puasa dan lebaran itu hanya dua minggu. Namun ketika SMA, kami libur sebulan loh. Sungguh hal yang membahagiakan sebagai pelajar saat itu.

Aku bukanlah orang yang suka berdiam diri ketika libur puasa. Pada kelas 1 SMP, ibu memasukkanki ke pesantren kilat selama tiga hari. Dari pagi hingga jam 4 sore, kami belajar mengenai seluk beluk agama islam. Walaupun puasa di pagi hari, kami semangat melaksanakan kegiatan pesantren kilat itu.

Ketika libur puasa sebulan ketika masa remaja, aku meminta agar dimasukkan ke kursus menyetir. Alhamdulilah orang tuaku setuju, jadi selama dua minggu penuh aku belajar bagaimana menyetir mobil. Memahami cara menyetir mobil dari 0 yang memberikan pengalaman seru, asik, serta deg-degan sekaligus.

Memasak Bersama Ibu
Di bulan puasa biasanya karyawan kantoran pulangnya lebih cepat. Begitu juga dengan ibuku, jam 15.30 di bulan Ramadan beliau udah pulang. 

Setelah salat ashar agenda kami adalah memasak menu buka puasa skalian menu sahur. Jadi nanti ketika sahur ibuku tinggal menghangatkan saja atau membuat tumis-tumisan.

Ikan bakar, gulai ayam, gulai pakis dan  ikan balado adalah kegemaran keluarga kami ketika puasa. Tak ketinggalan kolak jagung yang legend sedari aku kecil dulu. Kolak jagung lebih sering dibuat ibuku ketimbang kolak pisang ketika bulan puasa loh.

Nah ini kisah ramadanku di kota kelahiran di masa kanak-kanak. Bagaimana dengan kisah ramadan pembaca? Boleh dong berbagi cerita di komentar ya.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...