Kisah Mudik Anak Rantau Yang Memukau

-Sebagai anak perantau mudiklah, agar kamu tau tiket mudik itu mahal – Meme Sosmed
Sebagai anak rantau, lebaran adalah hal yang ditunggu-tunggu. Mudik! Satu kata itu yang paling seru. Keseruan dimulai dengan mencari tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapatkan harga yang murah meriah.

Biasanya aku memulai membeli tiket H-90 lebaran. Jadi puasa belum dimulai saja, aku udah membeli tiket pulang pergi agar masih bisa sesuai dengan budget yang telah aku anggarkan. Tapi itu bertahun-tahun belakangan ketika aku mulai mudik naik pesawat. Nah bagaimana ketika awal masa merantau? Berikut sedikit ceritanya




Mudik Ketika Awal merantau

Di awal tahun 2000an, aku mudik setiap lebaran dengan menggunakan bis. Kurang lebih dua tahun perjalanan Bandung – Jambi menggunakan bis Jatra. Waktu tempuh selama 24 jam saat itu aku lalui dengan riang dan senang hati. Tol Cipularangpun saat itu belum dibangun loh gaes.
Jika jalan raya Palembang – Jambi rusak, perjalanan bisa ditempuh dengan waktu 27 – 30 jam. Berbagai posisi duduk telah dicoba untuk mengurangi pegal-pegal di kaki, betis hingga pinggang. Berbagai camilan dan makanan beratpun telah habis selama di perjalanan.

Terjebak 36 Jam di perjalanan

Lebaran di awal Januari tahun 2001 jika tak salah waktu itu bersamaan dengan hadirnya liburan semester ganjil. Tentu saja waktu libur cukup panjang dan menyenangkan bagiku sebagai anak kuliahan. Perjalanan pulang kuduga telah cukup santai.

Ternyata aku salah pemirsa, karena libur panjang itulah kondisi jalan dan dermaga di Pelabuhan Bakauheni padat merayap. Kami antri kapal hingga 12 jam loh, dari pagi hingga sore hari. Berbagai jenis makanan telah kubeli untuk mengisi perut yang sebentar-sebentar lapar. Perasaan kapar mendera di tengah ketidakpastian jam berapa kami akan diseberangkan, dan jam berapa tiba di Bandung. Pool Bis Jatra dengan rumah om ku cukup jauh loh. Pool terletak di daerah Caringin [Depan Pasar Induk Caringin], sedangkan rumah omku di Buah Batu.

Yang kami lakukan saat itu adalah datang ke beberapa bus yang kutau ada teman-temanku yang berbeda jurusan, ada yang ke Yogyakarta, ada yang ke Jakarta, dan seru saja kami bisa ngobrol. Mungkin ini hikmah terjebak di antara kemacetan dan ketidakpastian. Jam 5 sore baru kami diseberangkan dari Bakauheni menuju Merak, dan perjalanan dilanjutkan menuju Bandung. Jika tidak salah ku sampai ke Bandung kira-kira jam 01.00 WIB dini hari.

Mudik dengan Angkutan Laut, Darat dan Udara

Kisah berbeda aku alami ketika aku bekerja di Tanjung Balai Karimun. Butuh tiga angkutan untuk mudik. Kalo cerita ini kayaknya aku kena karma deh. Aku sering meledek sobat karibku Ines yang merantau di Tanjung Pinang. Ines dan keluargapun ketika mudik ke Jambi sukses dengan angkutan laut, darat dan udara. Ehhh tidak menyangka akupun mengalami hal yang sama.

Jadi dari Tanjung Balai Karimun aku naik kapal terlebih dahulu menuju Pelabuhan Harbour Bay. Aku mengambil kapal pagi, agar masih bisa jalan-jalan di Kota Batam. Biasanya setelah sampai di Harbour Bay, aku pasti dijemput oleh Kak Lya dan Dewi. Kami akan menghabiskan waktu terlebih dahulu dengan ngobrol bersama-sama keliling Batam dengan mobil Kak Lya. Nah menjelang sore, Kak Lya dan Dewi mengantarkan ku ke Bandara Hang Nadim untuk mudik ke Jambi dengan menggunakan pesawat.  Penerbangan dari Batam ke Jambi hanya menempuh waktu 35 menit saja. Yang menyenangkan adalah dari rumah Kak Lya / Dewi, ke Hang Nadim sangat dekat loh cuma 10 menit saja.


Penerbangan Batam - Jambi, cuma 35 menit saja loh!
Photo credit to : www.youtube.com


Berbagi waktu mudik antara Sumatra Barat dan Jambi

Sebagai orang asli Minang yang terbiasa merantau, berbagi waktu mudik antara Sumatra Barat dan Jambi jika cukup waktu pasti aku lakukan. Ayah dan Ibuku datang ke Jambipun untuk merantau puluhan tahun lalu.

Jadi dari ibu kota, jika aku bisa mengambil cuti panjang, pasti akan ke Jambi terlebih dahulu selama hari raya kurang lebih lima hari, lalu melanjutkan mudik ke Sumbar selama 4 hari. Selama di Sumatra Barat biasanya aku akan mengunjungi Padang, Bukit Tinggi, Lubuk Basung dan Maninjau yang merupakan kampung halaman ayah dan ibuku.

Mudik ke Sumatra Barat tidak afdol jika tidak sambil berwisata, baik wisata alam, maupun wisata kuliner. Lezatnya makanan-makanan khas Minang sangat sayang jika dilewatkan. Terakhir ku pulang mudik lebaran ke Sumatra Barat tahun 2016. Tahun 2017, 2018, dan tahun ini ku tidak punya banyak waktu cuti untuk mudik. Selain itu sejak adikku menikah, aku adalah anak tunggal di rumah. Kasian juga jika kedua orangtuaku ditinggal untuk mudik begitu.

Nah itulah kisah mudik lebaranku selama menjadi anak rantau, bagaimana dengan mu? Yuks berbagi cerita.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...