Pengalaman Spiritual Mengunjungi Hijrah Festival 2019

Tidak ada salahnya orang baru hijrah berdakwah. Asalkan yang dia pelajari “alif” yang dia bagikan juga “alif” bukan “ta” – Ust. Oemar Mita
Sejak dari bulan April telah kudengar event Hijrah Festival akan hadir lagi dan kali ini diadakan bersamaan dengan bulan suci Ramadan 1440 H tepatnya 24, 25, dan 26 Mei 2019 dan mengusung tema “Unforgettable Hijrah”. Seorang temanku mengajak ke sana, namun aku masih ragu untuk hadir atau tidak, karena minggu pelaksanaan Hijrah Festival itu dibarengi dengan pekerjaan-pekerjaanku yang sangat padat. Sampai suatu siang Devin, temanku dari Cilegon mengirimkan pesan

D : Kak, datang ke event Hirah Fest kah?
Me : Belum tau nih devin, aku sih udah daftar, tapi belom bayar. Kalo Devin mau, yuks ah biar ada teman.
D : Iya kak, pengen datang makanya lagi cari-cari teman. Nanti devin nginep di hotel aja deh
Me : Kabarin aja ya jika jadi datang, biar aku pesan tiket lagi
D : Siap kak

Nah keesokkan harinya Devin memastikan akan datang dari Cilegon ke Jakarta untuk menghadiri Hijrah Festival 2019, dan aku kembali memesan tiket terbaru. Malah aku dibantu oleh Devin untuk proses pembayaran tiket terlebih dahulu, karena kesibukanku cukup padat hari itu.



Hijrah Festival Setelah Kerusuhan 22 Mei 2019

Kondisi Jakarta pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019 terbilang rusuh. Demonstrasi dan aksi penyusupan yang berujung kerusuhan massa di beberapa wilayah membuat Hijrah Festival hampir saja dibatalkan penyelanggaraannya.

Dari kost, aku datang menggunakan Trans Jakarta dan tidak bisa langsung turun di Halte JCC yang merupakan venue dari Hijrah Festival. Aku harus transit terlebih dahulu di Halte Slipi Kemanggisan, kemudian naik Trans Jakarta ke arah PGC agar bisa berhenti di Halte JCC. Jalan protokol di sekitar area Gedung DPR/MPR saat itu steril dari kendaraan apapun, sehingga memang berbagai kendaraan akan melewati jalur yang lain.

Devin telah datang 30 menit sebelum kedatanganku, setelah bermalam di sebuah hotel di kawasan Blok S, dia datang ke JCC dengan layanan ojek on line. “Devin antri penukaran tiket ya kak” ujarnya mengabariku “ Okay, aku sebentar lagi tiba” ujarku.

Hijrah Festival 2019
Iklan Hijrah Fest 2019 dari bulan lalu kulihat di Sosmed
Photo Credit to : www.instagram.com/hijrahfest

Setelah aku tiba, aku datang ke loket penukaran tiket. Tiada antri lagi seperti yang Devin sebutkan tadi. Saat aku berikan bukti cetak pembelian tiket, petugas di loket memberikan ku tiket resmi hari ke dua Hijrah Festival, gelang sebagai tanda masuk, peta, dan tas yang belakangan ku ketahui untuk menaruh alas kaki selama acara berlangsung. Ya sebelum masuk ke area lokasi acara, kami diwajibkan melepaskan alas kaki dan menyimpan alas kaki tersebut di dalam tas.

Hijrah festival 2019
Yang kudapat ketika menukarkan tiket: gelang, dan tas menyimpan alas kaki


Berbagai komunitas hadir di event keren ini

Hijrah Festival tidak hanya menghadirkan kajian-kajian muslim yang bisa membangkitkan jiwa spiritual dan religius, namun juga hadir berbagai komunitas-komunitas muslim untuk menggerakkan umat. Sebut saja komunitas wakaf al quran, ACT, taaruf on line, hapus tato dan berbagai komunitas muslim lainnya.

Satu yang menarik menurutku adalah komunitas hapus tato untuk hijrah yang lebih baik. Hapus tato ini gratis loh gaes, namun ada syarat dan kondisi yang berlaku. Peserta diwajibkan untuk hapal Surat Ar Rahman selama proses hapus tato tersebut namun bisa dicicil kok. Jadi tujuannya selama proses hapus tato, para peserta sudah benar-benar hapal Surat Ar Rahman. Ahh surat kesukaanku nih.

Salah satu ustad pengisi kajian
Photo credit : www.instagram.com/hijrahfest

Komunitas wakaf al quran hadir untuk menarik massa agar kita lebih banyak lagi bisa menginfakkan harta kita untuk al quran yang akan disebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia.  Jutaan orang masih buta aksara quran, dan kita hendaknya berjihad di jalan ini dengan jalan mewakafkan sedikit rezeki kita untuk hal ini.

Kajian- kajian Islam Yang Bergizi, Buka Puasa ala Tanah Suci dan Ribuan Orang Jadi Saksi Para Muallaf

Jam 13.00 WIB, setelah salat zuhur, aku dan Devin telah hadir di area utama kajian.  Kajian siang itu di buka oleh Ust Salim A Fillah yang menceritakan perjuangan hijrah beliau dari dulu hingga sekarang. Salim A Fillah adalah founder akun @jalanbareng. Jalan bareng adalah cara beliau berdakwah agar kita terus bersama-sama menyebarkan ajaran Allah dan Nabi Muhammad SAW

Kemudian hadir Ustadz Fadlan Garamatan, beliau adalah seorang ustad berasal dari Papua. Beliau menceritakan perjuangan dakwah beliau di pedalaman Papua dan menuntun syahadat bagi ribuan suku asli Papua untuk menjadi umat Nabi Muhammad dan Allah. Perjuangan beliau dari nol hingga sekarang membuat ku kagum, tak banyak orang yang pantang menyerah berdakwah di tengah-tengah suku asli yang masih sangat tradisional.

Ust Fadlan Gamaratan, yang telah mengislamkan banyak suku asli di Papua
Photo credit to : www.instagram.com/hijrahfest

Sore hari menjelang ku disuguhkan pengalaman indah melihat calon-calon saudara seiman, dengan lantang dua pria dan dua orang wanita mengikuti syahadat sebagai tanda mereka memeluk Islam. Dengan khusyuk dan sepenuh hati mereka mengucapkan dua kalimat berkah tersebut. Bahkan terjadi adegan dramatis di atas panggung, tepat ketika selesai mengucapkan dua kalimat syahadat, salah seorang wanita terjatuh pingsan di hadapan ribuan orang. Semua terdiam, ku dengar sayup-sayup beberapa wanita terisak-isak tak jauh dari tempatku. Tanpa sadar airmataku meleleh di pipi.

Hari telah menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika ku memutuskan untuk berwudu dan ke toilet mempersiapkan magrib. 20 menit waktu yang kubutuhkan untuk antri masuk kamar mandi. 17.30 WIB kumulai mengaji dan melantunkan ayat-ayat suci, apalagi malam ini ku berniat mabit bersama Devin di tempat ini semata-mata dengan niat mengkhusyukkan ibadah.

Jarum jam berganti dengan cepat pada pukul 17.40 WIB, para volunteer mulai mensterilkan area utama mengaji. Mereka dengan gerak cepat mengatur tempat berbuka puasa seperti di tanah suci. Duduk berhadapan dengan seluruh jamaah dan di tengah-tengah terbentang plastik putih panjang yang berisikan 1 botol minuman isotonik, dan 1 bungkus kurma. Ah nikmat sekali rasanya, lepas dahaga setelah seharian berpuasa. Tak lama kami salat Magrib berjamaah. Rasanya luarr biasa salat berjamaah dengan ribuan jamaah yang datang ke tempat ini.

Salat Tarawih, Kajian Ustad Oemar Mita dan Mabit di Malam Minggu

Setelah salat tarawih, tepat pukul 20.30 Ust Oemar Mita membuka kajiannya mengenai hijrah, adab-adabnya dan dakwah. Semua terasa masuk hingga kalbu, semua rasanya jlebb hingga dasar hati. Ah rasanya jadi berkah datang ke sini, hadir di sini dengan banyak orang-orang yang punya tujuan bersama yaitu mencari ilmu dan keberkahan. Terasa banget gak punya ilmu agama ketika ada di sini. Kerasa banget kok hati ini adem banget ada di sini. Semuanya jadi tenang, dan adem gitu.

Tepat pukul 22.00 WIB acara malam itu selesai, peserta boleh berisitrahat menjelang qiyamul lail yang malam itu tepat malam 21 Ramadan 1440 H. Sepuluh hari terakhir ramadan telah tiba, saatnya kita mengisi amunisi lebih ibadah dibanding sebelumnya. Bersiap menyambut datangnya malam Lailatul Qadr yang fenomenal. Aku dan Devin mengambil tempat di ujung dekat pintu keluar dan siap beristirahat tepat pukul 23.30 WIB.

Pukul 02.00 WIB kami dibangunkan dan siap untuk tahajud bersama, muhasabah diri bersama Ust Bonny serta sahur bersama. Hijrah fest hari kedua ditutup dengan Salat Subuh berjamaah serta kajian bada Subuh. Sungguh pengalaman spiritual yang luar biasa hadir di event Hijraf Festival tahun ini. Semoga Hijrah Festival berikutnya bisa berpartisipasi lagi dan berkeinginan jadi volunteer nih.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...