Persiapan Menyambut Lebaran ala Keluargaku


Lebaran selalu disambut dengan meriah, suka cita dan bersyukur. Lebaran adalah kumpul keluarga, mudik dan makan-makan. Nah menyenangkan sekali bukan?

Statusku sejak dua tahun yang lalu adalah anak tunggal di rumah. Ya adikku yang telah menikah dan pindah dari rumah membuatku sendiri untuk membereskan segala pernak pernik persiapan menjelang hari raya tiba. 


Apa aja sih persiapan lebaran ala rumahku di Jambi setiap mudik tiba? Yuk intip serba-serbinya di bawah ini ya.



Bebersih area depan dan belakang
Rumahku yang bentuknya memanjang membutuhkan disapu dan dipel setiap harinya. Jika tidak, cukup banyak debu-debu atau kotoran yang menempel di lantai. Jadi biasanya aku memulai menyapu dari ruang keluarga, kamar ortu, kamarku hingga ruang tamu terlebih dahulu. Selanjutnya aku akan istirahat sejenak, karena lelah bo. 

Area berikutnya yang dibersihkan adalah area belakang yang terdiri dari kamar, ruang makan, hingga area dapur. Setelah itu pekerjaan berikutnya mengepel lantai. Huh-hahh. Butuh tenaga ekstra untuk mengepel seluruh area rumah ini. Biasanya aku menghabiskan waktu untuk menyapu dan mengepel ini kurang lebih 90 menit. Ya itung-itung olahraga ya.

Bebersih area luar

Setelah menyelesaikan area dalam rumah, kegiatan berikutnya membersihkan area luar rumah yang terdiri dari teras depan, teras samping, halaman depan dan tanaman.

Teras depan dan samping biasanya aku sapu dan pel ketika malam hari setelah setelah salat tarawih. Panassss bo kalo siang-siang ngepel di luar, bahaya kalo dehidrasi kan.

Halaman depan biasanya aku sapu saja di pagi hari ketika mentari belum naik. Sesekali mencabut rumput-rumput liar yang nakal di halaman. Untuk tanaman biasanya aku membuat gembur kembali tanah, mencabut rumput atau tanaman liar , memberi pupuk dan menyiramnya sesuai kebutuhan. Biasanya sih aku ngerjain kerjaan berkaitan dengan tanaman sore hari jam 5an gitu. Kan udah teduh tuh.

Membersihkan kaca jendela agar kinclong kembali

Persiapan lebaran selanjutnya di rumah yaitu membersihkan kaca jendela rumah. Saat rumah ini dibangun, orang tuaku sengaja memberikan banyak akses jendela agar rumah memiliki sirkulasi udara yang baik dan cahaya sinar mentari masuk ke rumah dengan cukup. Pe er nya tentu saja membersihkan jendela beserta kacanya agar tetap kinclong dan bersih.

Dimulai dengan kaca jendela di ruang tamu, kamar ku, kamar ortu hingga kaca jendela di ruang makan. Kemudian aku akan istrhat terlebih dahulu sekitar 10 menit. Kemudian pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan jendela di area samping kiri rumah hingga ke belakang. Yang pasti setiap lebaran, kaca rumah akan kinclong

Memasak rendang tradisional

Sebagai orang Minang, wajib hukumnya memasak rendang ketika hari raya tiba. Biasanya ibuku telah menyiapkan rendang 3 hari sebelum lebaran. Kami memasak rendang dengan tungku tradisional agar rendang yang dihasilkan wangi, empuk, hitam dan kering bumbunya.

Dari pagi biasanya aku telah disibukkan dengan mengolah bumbu-bumbu untuk membuat rendang, menyiapkan santai hingga cabe merah. Proses membuat rendang ini seharian loh. Dimulai dari jam 9 pagi, dan nanti matang paripurna jam 5 sore jelang buka puasa tiba. Dipastikab sore itu berbuka dengan rendang khas Minang. Bisa nambah nasi 2 piring deh.

Menyiapkan ketupat dan gulainya

Sebagai salah satu menu yang terhidang di meja makan pada saat hari raya, sangat menyenangkan sekali untuk memasak ketupat di hari akhir puasa. Biasanya ibuku tidak banyak membuatnya, 10 biji saja cukup untuk kami yang memang tidak banyak orang di rumah ini.

Untuk gulai ketupat, di rumahku biasanya membuat dua gulai yaitu gulai nangka dan gulai buncis tauco. Lezat sekali bukan? Yang satu pedas, yang satu tidak pedas namun gurih. Perpaduan buncis, tauco dan sedikit petai memang lezat tiada dua. Biasanya gulai buncis tauco ini permintaan adikku yang kurang menyukai pedas.

Membuat sup dan gulai tunjang kesukaan keluarga

Sup tunjang a.k.a sup kaki sapi adalah kegemaran keluarga kami dan jadi makanan wajib ketika hari raya tiba sejak ku kecil dulu. Biasanya ibu akan membeli tunjang kerbau yang besar, mengolahnya dan dijadikan sup beserta sumsum nya. Sup Tunjang ala Minang memang lezat sekali, bumbunya rempahnya harus berasa banget loh. Sup tunjang hadir di meja makan sebelum Salai Id dilaksanakan. Sesuai sunnah, bahwa sarapan dulu sebelum Salat Idul Fitri, nah kami sekeluarga sarapan dengan menu sup tunjang yang diberi topping goring bawang nan renyah dan gurih.

Gulai tunjang akan dimasak ibuku di hari ketiga lebaran untuk menjamu saudara-saudara jauh yang datang unutk makan siang. Ya memang masakan orang Minang itu penuh santan dan kolesterol pemirsa.

Itulah berbagai persiapan keluargaku menyambut Hari Raya Idulfitri, gimana persiapan di rumah kalian wahai pembaca? Yuk berbagi cerita!


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...