Pangandaran, antara Nostalgia Dahulu dan Sekarang Bersama Komunitas Bisa



We are tied to the ocean. And when we go back to the sea, whether it is to sail or to watch – we are going back from whence we came —John F. Kennedy



Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika kami berpamitan dan berphoto bersama di area lapangan SMP Muhammadiyah Langkap Lancar. Perjalanan akan kami teruskan menuju Pangandaran dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam berkendara.


Santai Sore di Pantai Pangandaran

Wah senang sekali bisa datang lagi ke Pantai Pangandaran. Terakhir datang ke sini tahun 2013 pada saat Gathering Dale Carnegie Bandung. Telah lewat 6 tahun yang lalu ternyata. Begitu juga dengan Mba dee, kunjungannya ke Pangandaran terakhir kali pada saat Gathering DCT juga. Jadi kami betul-betul riang gembira bisa berkunjung ke Pangandaran lagi dengan orang yang berbeda.

Berharap jalanan lancar karena udah bukan masa liburan sekolah. Selama perjalanan melewati hutan, sawah ,dan rumah penduduk, yang kulakukan adalah tidur dan ngemil. Hahahaha. Kebangun karena lapar, alhamdulilah stok cemilan masih banyak. Beruntung semalam jajan dulu di Yogya Dept Store. Jam 15.15 WIB kamipun tiba di pintu utama gerbang masuk Pantai Pangandaran. Wah senang sekali, kami udah sampai di tujuan loh. Beach, I am coming.

Istirahat di Guest House

Kami menginap satu malam di sebuah Guest House yang letaknya tidak jauh dari pantai. Setelah meletakkan barang, aku duduk-duduk santai di kursi ruang tamu. Kami memesan mie ayam, dan bakso bersama-sama2 sambil bercanda dan tertawa-tawa. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.00 Wib dan saatnya menuju pantai.

Horeee ku bahagia meliat laut biru, pasir hitam dan ombak berkejar-kejaran sore itu. Pantai Pangandaran cukup ramai dengan pengunjung jelang matahari terbenam di hari Sabtu itu nan cerah itu. Aku berlari-lari kecil menyapa air laut, tak sabar kaki ini bercengkrama dengan air pantai ini. Setengah dari celanaku udah basah. Ya kalo ke pantai tapi gak basah gak afdol banget ya. Mba Dee, Kang Renza dan Zaenal tertawa-tawa melihat kelakuan dan celanaku yang basah. Berikutnya kami berpoto dengan spanduk Gathering Komunitas Bisa seiring mentari kembali ke pelukan bumi di pukul 17.30. Bundaran berwarna oranye itu perlahan-lahan tenggelam meninggalkan jejak langit dengan kombinasi warna menarik dan ciamik. Kami terus tertawa sembari bercanda, sehelai tikar tak lupa kami bentangkan untuk beristirahat dan duduk sejenak.
Siap bertemu sunset

Tak terasa azan magrib berkumandang, kami segera kembali ke Guest House. Setelah mandi, dan salat magrib kami punya agenda makan malam bersama di Karya Bahari Seafood. Aneka jenis seafood segar yang telah diolah hadir di atas meja makan. Sebut saja udang balado,.ikan bakar, cumi goreng dan tak lupa tumis kangkung sebagai pelengkap.


Cakep banget sunsetnya

Makan malam bertambah seru karena kami memilih kelompok untuk kegiatan malam keakraban nanti. Duh jadi deg-degan. Sialnya aku didapuk jadi ketua kelompok malam itu. Tim ku akan berkompetisi melawah tim mamih evi malam ini. Duhh deg-degan banget, melawan seniorr gitu loh.


Bermain pasir di pagi hari

Malam Keakraban

Keseruan dimulai pukul 20.00 Wib dengan menyusun yel-yel kelompok yang diperintahkan hanya 2 kata. Hadeuhhh gimana coba caranya cuma dua kata. Tenang, grup kami sukses meneriakkan yel-yel dengan kompak dan ceria. Membuat yel-yel yang singkat ini dibutuhkan konsisten ucapan dan gerakan agar dinamis dan kompak. Kelompok kami sukses dengan dua kata saja. Kelompok Mamih Evi, terdistrak Ines yang kepleset berucap. Kata Baronang diucapkan Barongsai pemirsa. Semua tertawa terbahak-bahak melihat hal ini. Sungguh benar-benar malam Minggu yang super duper heboh. Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan mendalam dari Kang Renza seperti pertanyaan cerdas cermat deh. Tentang bagaimana cara memotivasi diri dan bangkit dari kondisi terpuruk. Duh merasa hidup biasa-biasa saja. Malu sama Teh Enung yang pengalamannya luar biasa.

Sesi pertanyaan selesai, masuk sesi kegiatan lapangan yang dimainkan anak-anak, sekarang bergantian kita yang main. Walah-walah, mana posnya unik-unik pula ya. Pasrah aja lah ya.

Pos Tangan
Instruksinya, ketua kelompok memperagakan sebuah gerakan. Kemudian seluruh anggota menebak dengan menggambarkan satu persatu menggunakan garis hingga berhasil. Kelompok mamih evi berhasil mendapatkan point untuk pos ini. Mereka sontak bersorak sorai karena mendapatkan point.  Bagaimana dengan kelompokku? Beda tipissss aja pemirsa! Berbeda satu kata saja dengan gerakanku yang setara gempa 2 skala richter tersebut.


Nah loh bisa gak nebaknya nih

Pos Mulut

Melalui pos ini kita bermain sambung kata menjadi sebuah kalimat dimana kata pertama ditentukan oleh Kang Renza. Banyak keseruan, dan kelucuan di pos ini karena katanya acak dan bingung lanjutannya apa. Yang jelas aku sempat protes karena kelompok mamih selalu kacau kalimatnya tidak sesuai SPOK, tapi Kang Renza memberi beberapa kali point. Pos ini sangat seru sekali, karena beberapa kali gagal melanjutkan permainan kata. Bahkan ada yang tak sampai selesai mengucapkan kata karena keburu “ngahuleng” memikirkan kata sehingga sulit terucap dari mulut.

Pos Mata

Nah pos mata tak kalah serunya, dengan mata tertutup kita harus terus melangkah dengan panduan ketua kelompok. Jika kaki kita menyentuh tali yang ada di depan, belakang, kanan dan kiri artinya kita gagal. Ini adalah salah satu permainan strategi, ketua kelompok harus memiliki strategi yang cakap agar seluruh anggota tim bisa melewati garis dan bisa sampai tujuan.

Pos Kaki

Pos Kaki melatih kita unutk berpikir, konsentrasi dan kerja tim agar bisa sampai ke titik yang paling depan dengan jumlah tim yang banyak dan area yang tidak terlalu luas. Berbagai cara dilakukan agar kami berempat bisa dalam kotak bersama-sama dengan bantuan kertas yang hanya ada beberapa buah saja. Tapi tetap gagal pemirsa kelompokku.

Problem Solver Session

Seperti halnya anak-anak di kelas yang diberi tugas diskusi, kami juga mendiskusikan banyak hal termasuk mengembangkan Komunitas Bisa. Konsep apa yang akan kita gunakan untuk membuat komunitas ini tetap berjalan, terobosan-terobosan apa saja yang dilakukan agar kita tetap pada komitmen belajar pada alam, memahami dari pengalaman dan berbakti dari kampung halaman


Gift for Fun

Acara malam keakraban diakhir dengan tukar menukar kado yang telah disiapkan dan dibungkus dengan kertas koran dan disertai dengan kata-kata motivasi. Ah menyentuh dan mengharu biru sekali sesi ini. Walaupun yang dilihat bukan nilai kadonya, tapi dari setiap kata motivasi yang dibacakan ada rasa semangat yang membara dan bergelora di hati untuk komunitas yang telah memasuki tahun ke lima ini, untuk pendidikan dan masa depan anak-anak negeri ini..


Keriangan bertukar kado


Semoga silaturahmi ini terjalin terus ya hingga akhir hayat nanti.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...