8 Tempat Ini Wajib Kamu Datangi Ketika Mengunjungi Kota Palembang


Terkenal akan pempek dan Jembatan Ampera, itulah Kota Palembang yang merupakan ibu kota Provinsi Sumatra Selatan. Kunjungan ke Palembang bukanlah kunjungan pertamaku. Karena ini adalah provinsi tetangga tempatku dibesarkan. Namun tahun ini aku mengunjungi kota terbesar nomor dua di Sumatra ini dalam sebuah misi istimewa “ Peste dan Wisate bukan Bencane”. Wah slogan apa itu?





Jadi datang ke Palembang bersama Genk All Community for Humanity, sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Selama ini kami selalu bertemu pada saat bencana-bencana saja dalam rangka kegiatan sosial. Sebut saja bencana gempa di Lombok, Gempa dan Tsunami di Palu, terakhir Tsunami Banten dan Lampung. Belum pernah sekalipun berkumpul  bersama untuk berwisata. Akhirnya tercapai jua cita-cita untuk wisate ini walaupun ada kegiatan peste nikahan Kak Ken dan Kak Dea yang harus dihadiri.

Nah 8  Tempat Berikut Ini Wajib Kamu Datangi Ketika Mengunjungi Kota Palembang loh:

1.    Jembatan Ampera yang megah

Jembatan Ampera merupakan icon daerah yang biasanya disebut Bumi Sriwijaya ini. Jembatan ini diresmikan pada tahun 1965 di masa pemerintahan Presiden Sukarno. Latar belakang pembangunan jembatan ini adalah sebagai penghubung antara area Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Dengan panjang 1117 meter dan lebar 22 meter, Jembatan Ampera pernah jadi jembatan terpanjang se-Asia Tenggara loh. Satu hal yang istimewa, dahulu jembatan ini bisa diangkat di sisi kanan dan kiri untuk mempermudah kapal-kapal besar melewati Sungai Musi yang berada di bawahnya. Namun mulai tahun 1990 hal itu sudah tidak dilakukan lagi karena mengganggu lalu lintas di atas jembatan.


Swafoto di sekitar Jembatan Ampera
Swafoto di sekitar Jembatan Ampera
Jembatan Ampera selalu menarik sebagai spot poto para turis yang berkunjung di Kota Palembang. Sering melewati jembatan ini dari dahulu, tidak pernah terpikir untukku sebagai tempat berpoto. Baru kemarin saja aku berpoto dengan teman-teman di sekitar jembatan ini. Ternyata seru dan mengasyikkan juga. Disekitar jembatan ini juga ada beberapa retoran dan warung apung yang menjual beraneka ragam makanan khas Palembang. Jika ingin merasakan pengalaman kuliner yang berbeda, ayo naik perahu dan kita makan pempek, tekwan, pisang goreng dan lainnya sambil menunggu sunset.

2.    Benteng Kuto Besak yang bersejarah

Benteng Kuto Besak dibangun pada tahun 1780 sebagai keraton tempat tinggal para raja dari kesultanan di masanya. Dibangun dalam kurun waktu 17 tahun di masa pemerintahan Sultan Mahmud Bahauddin, keraton ini diresmikan pada Februari 1797.

Keraton a.k.a Benteng Kuto besak ini memiliki Panjang 274,32  meter dan lebar 182, 88 meter dengan sejumlah meriam yang berada di sekitar ujungnya. Keraton ini memiliki pelataran yang luas, balai agung, tempat kediaman sultan dan permaisuri.


Pintu Masuk Benteng Kuto Besak
Pintu Masuk Benteng Kuto Besak 

Nah itu kondisi Benteng Kuto Besak di zaman dahulu, jika sekarang Benteng Kuto Besak dipakai sebagai kantor Kodam Sriwijaya. Namun kita masih bisa loh mempelajari sejarah di dalamnya. Benteng ini terletak 200 meter saja dari Jembatan Ampera. Jadi jika pembaca mengunjungi Jembatan Ampera, jangan lupa mampir ke sini ya.

3.    Pulau Kemaro nan melegenda

Pulau Kemaro merupakan salah satu wisata bersejarah di Kota Palembang. Dengan kapal kecil seharga Rp. 250.000 untuk pulang dan pergi, pembaca bisa mengunjungi pulau yang luasnya 79 Ha ini. Kami mengunjungi pulau ini pagi-sekali agar cuaca masih bersahabat. Jam 06.45 Wib kapal meninggalkan pinggiran Sungai Musi untuk berlayar menuju Pulau Kemaro. Perjalanan ini ditempuh selama 45 menit dengan pemandangan pinggiran sungai, kapal tanker, kapal tongkang, dan pabrik di sekitar sungai yang terbesar di Sumatra ini.


Pagoda bertingkat 9 di Pulau Kemaro
Pagoda bertingkat 9 di Pulau Kemaro
Di Pulau Kemaro kita bisa menemukan Pagoda bertingkat 9, Makam Putri Sriwijaya, Klenteng Hok Tjing Rio. Latar belakang sejarah pulau inilah yang membuat banyaknya wisatawan mengunjungi pulau yang pada zaman penjajahan Belanda ini sebagai kamp pertahanan.

4.    Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek adalah makanan khas dari Sumatra Selatan. Berbahan dasar ikan giling, tepung tapioka serta bumbu lainnya, pempek hadir sebagai kuliner populer tak lekang oleh waktu. Salah satu toko pempek yang kami kunjungi yaitu Pempek Saga Sudi Mampir. Pempek ini memiliki beberapa cabang, awalnya kami datang ke cabang yang di depan Kantor Walikota. Namun karena baru saja buka, dan pempek belum terhidang, kami diarahkan ke toko sentralnya.

Sarapan pempek adalah lazim bagiku. Pagi-pagi memang enak ngirup cuko. Satu yang istimewa dari Pempek Saga Sudi Mampir ini adalah Lenggang Panggang. Adonan pempek dicampur dengan telur bebek dan diaduk-aduk di dalam wadah yang terbuat dari daun pisang. Setelah itu dibakar di atas arang hingga matang. Setelah matang wangi banget loh, gak sabar ingin menyantapnya. Satu porsi lenggang panggang harganya Rp. 25.000. Porsinya yang besar membuat kamu merasa puas banget sarapan di sini.


Lenggang Panggang khas Palembang
Lenggang Panggang khas Palembang

Selain lenggang panggang, pempek saga sudi mampir juga menyediakan aneka pempek seperti kapal selam, pastel, adaan, kulit, tekwan, model, pempek panggang dan lain-lain. Jadi jadikan Pempek Saga Sudi Mampir sebagai tujuan wisata kulinermu di Palembang ya.

5.    Pempek VICO

Selalu saja ada tempat di perut untuk makanan. Setelah menyantap lezatnya lenggang panggang di Pempek Saga, kami mengunjungi Pempek Vico juga loh. Toko pempek ini terkenal dengan Es Kacang Merah dan Pempek Kulit Krispi. Walaupun kerongkonganku masih amburadul, rasanya gak sah ke Palembang jika tidak mencicipi Es Kacang Merah kesukaanku. Segelas es kacang merah yang segar ini harganya sekitar Rp. 20.000 saja.

Jadi kami memesan 6 gelas  es kacang merah, 1 gelas es tapai dan seporsi pempek kulit krispi di tengah cuaca kota yang cukup panas siang itu. Pempek kulit krispi ini sebenarnya adalah pempek kulit biasa, hanya dipotong lebih tipis saja dan digoreng kering. Jadi ketika disantap dengan cuko menghasilkan bunyi kriuk-kriuk. Nikmat banget di lidah.


Es Kacang Pelepas Dahaga di Pempak VICO
Es Kacang Merah Pelepas Dahaga di Pempak VICO

Selain aneka pempek, tempat ini juga menyediakan menu nasi goreng, pindang ikan, pindang iga, tekwan dan makanan lainnya. Selain hadir di Jl. Veteran, gerai Pempek Vico juga bisa pembaca temui di Jl. Let.Kol Iskandar- Kota Palembang.

6.    Pasar Kuto untuk pesta durian

Malam minggu dan musim Durian, ah sempurna. Sejak kedatangan di kota ini hari Jumat sore itu, Mas Anton selalu mengajak makan durian. Walaupun belum puncaknya, memang musim durian telah datang di beberapa wilayah di Pulau Sumatra. Sepulang dari sunset hunting di sekitar Jembatan Ampera. Kami mengunjugi Pasar Kuto.


Pesta Durian di Pasar Kuto

Suasana malam Minggu di Palembang begitu meriah, sehingga beberapa titik terjadi kemacetan lalu lintas. Butuh sekitar 30 menit berkendara dari Jembatan Ampera menuju Pasar Kuto. Tiba di Pasar Kuto, kami disambut berderet-deret penjual durian. Setiap penjual memanggil-manggil agar kami memasuki lapaknya. Sehingga setelah memilih durian yang manis, kami duduk di salah satu lapak dan memesan 5 buah durian dengan ukuran sedang dengan harga Rp. 25.000 per buah. Ada yang manis banget, dan ada yang masih agak sepat rasanya. Duh buah durian selalu ada di setiap kunjungan ke Sumatra.

7.    RM Pindang Musi Rawas,

Setelah sampai di Palembang sore hari,  Kak Ken mengajak ke RM Pindang Musi Rawas sebagai tempat makan malam. Rumah makan ini menghadirkan aneka pindang sebagai makanan khas Sumatra Selatan dengan cita rasa yang otentik. Terletak di Jl. Angkatan 45 yang merupakan salah satu jalan yang padat lalu lintas di Kota Palembang, RM Pindang Musi Rawas ini sudah ada sejak tahun 1986 loh.


RM Pindang Musi Rawas yang melegenda

Aku memesan Pindang Patin bagian ekor sebagai menu makan malam dengan teh manis hangat sebagai minuman. Teman-teman yang lain memesan pindang patin juga, ada yang memilih bagian kepala seperti Mba Hilda, ada yang memilih bagian ekor seperti Mas Anton, Mba Beti, Kak Indra, dan Kak Ken. Namun Om Zul memilih pindang iga sapi untuk disantap malam itu dengan seporsi nasi hangat. Selain pindang patin dan pindang iga, tersedia juga pindang udang loh. Jadi pengunjung bebas memilih menu makanan yang akan disantap. Rasa pindang yang pedas, asam segar, berempah, serta disajikan panas hingga sampai ke piring nasi, membuat ku menikmati sekali sesuap demi sesuap pindang patin yang lembut ini.

Seporsi pindang patin dan nasi hangat dibandrol dengan harga Rp. 45.000. Patin merupakan jenis ikan sungai yang bisa dibudidayakan. Namun kelezatan patin yang hidup di sungai secara alami tentu saja berbeda dengan yang dibudidayakan. Selain aneka pindang, rumah makan yang buka dari jam 09.00 – 21.00 WIB ini juga menghadirkan brengkes tempoyak patin, srikaya, dan sederet makanan penggugah selera lainnya.


8.    Car Free Night di Jl. Sudirman

Jl. Sudirman merupakan salah satu jalan protokol di kota Palembang. Setiap malam Minggu tiba, salah satu ruas Jalan Sudirman digunakan sebagai area Car Free Night yang ramai dikunjungi warga maupun wisatawan yang datang.

Ketika kunjunganku ke Palembang bulan Agustus lalu, teman-temanku mengajak menjajal Car Free Night ini. Beraneka ragam kegiatan ada di sini, selain mencicipi aneka ragam makanan dan minuman, ada panggung musik, kumpul-kumpul beragam komunitas, hingga atraksi sulap. Trotoar yang luas dan tersedianya banyak kursi-kursi taman di sekitar Jl. Sudirman ini membuat pengunjung tidak merasa kelelahan setelah berjalan kaki dengan rute yang panjang.

Nah mari kunjungi Palembang sebagai tujuan berliburmu akhir tahun ini. Dengan jalan tol yang baru saja diresmikan bulan lalu, dan kapal eksekutif untuk menyeberang Selat Sunda, waktu tempuh ke Palembang jadi lebih singkat.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...