Ketika Tahun 2019 Ini Begitu Berkesan Untuk Ditinggalkan


Without continual growth and progress, such words as improvement, achievement, and success have no meaning –Benjamin Franklin
Its end December 2019. Tahun ini akan berakhir hanya dalam beberapa hari lagi. Bersyukur! Satu kata yang rasanya pantas ku sebut untuk 12 bulan yang telah dilewati ini. Apapun itu aku syukuri, baik hal yang menyenangkan, menyedihkan, hal yang membuat marah, maupun hal yang lainnya.




Rasanya aku jadi manusia yang sombong jika tidak bersyukur padanya. Beragam hal telah diberikannya di tahun ini untuk kehidupan dan kesenangaku. Simak apa aja tahun ni yang telah ku lakukan.


Awal tahun 2019

Membuka awal tahun dengan kegiatan relawan kemanusiaan. Aku dan teman-teman dari All Community for Humanity mendistribusikan donasi ke Desa Kunjir dan beberapa desa lainnya di Kabupaten Lampung Selatan. Tsunami yang disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meluluh lantakkan sejumlah desa di Lampung Selatan. Apalagi aku pernah duduk-duduk santai menikmati pantai di Desa Kunjir 6 bulan sebelum musibah terjadi.



ACFH Goest To Kalianda
ACFH Goest To Kalianda

Bulan Februari giliran Provinsi Banten yang kami kunjungi. Distribusi 1200 pasang seragam sekolah ke berbagai sekolah di Labuan, Pandeglang, Desa Sumur hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Tidak pernah ada dalam bucket list aku mengunjungi taman nasional yang terkenal dengan badak bercula ini. Takdir lah yang membawaku ke taman nasional ini bersama teman-teman yang mayoritas baru saja aku kenal. Kami menginap semalam di rumah Sersan Gonon.

Maret adalah bulan yang kunanti. Alhamdulilah Allah mengundangku kembali datang ke rumahNYA. Betapa nikmat beribadah di sana selama 10 hari. Alhamdulilah dengan tambahan mengunjungi Istanbul, dan Bursa. Aku banyak belajar mengenai sejarah Islam dan Kristen masa lampau di Istana Top Kapi, Blue Mosque dan Hagia Sophia. Aku kembali memiliki teman-teman baru dari berbagai usia. Yang umurnya tidak jauh berbeda denganku kami membentuk genk dengan nama Kaula Muda. Telah beberapa kali kami berjumpa jalan-jalan dan ketemuan di ibu kota ini. Mulai dari berjumpa di Kokas hingga main skuter di Stasiun BNI City. Nikmatnya menjadi tamuMU lagi ya Allah swt. Semoga suatu hari nanti bisa datang kembali.


Di depan Masjid Nabawi
Di depan Masjid Nabawi

Ramadan tahun ini jatuh pada bulan Mei 2019. Tahun ini adalah tahun paling sedikit aku melaksanakan buka bersama di luar. Sangat menyenangkan bisa khusyuk beribadah di rumah atau di masjid ketika akhir pekan tiba. Ramadan tahun ini juga aku mengikuti serangkaian mabit di beberapa tempat loh, seperti di House of Shafa dan AQL Center yang terletak di area Tebet. Selain itu, hal yang berkesan ketika Ramadan yaitu menghadiri Hijrah Festival selama dua hari di Jakarta Convention Center. Bersama Devin yang datang dari Cilegon, aku belajar agama dari siang hingga keesokkan harinya. Kami mengikuti rangkaian buka bersama, kajian, salat wajib berjamaah, tarawih, tahajud berjamaah hingga sahur bersama. Pengalaman yang menyenangkan dan mengharukan. Mudah-mudahan tahun depan bisa mendatangi lagi Hijarh Festival.

Datang ke acara Hijrah Festival

Tengah Tahun 2019

Kebahagiaanku bertambah karena di bulan Juli aku terjun lagi kembali ke Komunitas BISA. Rasanya aku telah lama vakum dari komunitas yang aku bentuk dengan teman-temanku ini. Kali ini tujuan kami di timur Jawa Barat, yaitu salah satu sekolah di Banjar, Ciamis. Wow 6 jam perjalanan dari Bandung atau 8 jam perjalanan dari Jakarta. Aku ambil cuti loh khusus banget untuk menyukseskan kegiatan Hari Berbagi 12 ini. Sepulangnya tentu saja kami mengadakan kumpul-kumpul di Pangandaran. Setelah 6 tahun, senang sekali rasanya datang ke Pangandaran lagi dengan situasi yang berbeda.



  Pohon Cita-cita di SMP Muhammadiyah
Pohon Cita-cita di SMP Muhammadiyah

Pada bulan Agustus aku mengikuti salah satu kegiatan GA Circle, setelah lolos seleksi menjadi salah satu relawannya. Kali ini aku berkesempatan untuk mengajar di SDN Selapajang Jaya 2 Tangerang. Wowww sekali bukan jarak yang harus aku tempuh antara Kalimalang – Selapajang. Walaupun lelah, dan jauh, aku senang sekali bisa juga gabung dengan komunitas baru ini walapun aku udah kenal  dengan teman-teman GA Circle sejak Februari 2019. Jadi ini adalah komunitas kedua ku yang terbaru tahun ini setelah All Community for Humanity


Akhir Tahun 2019

Oktober adalah bulan yang ditunggu-tunggu. My bucket list checked! Mimpi remajaku untuk menonton konser salah satu Boysband favorit jadi kenyataan. Yeaaahh aku adalah satu dari ribuan penonton konser Backstreet Boys di JIEXPO Kemayoran. Konser yang bertajuk DNA World Tour diadakan pada 26 Oktober 2019. Bersama teh Inggit aku berhasil mendapatkan harga termurah dari tiket BSB yakni 1,1 juta Rupiah, dan kami mendapat Free Upgrade kelas dari Traveloka secara gratis dong. Ya allah senangnya bukan main. Beli tiket harga 1 juta, berhasil duduk di kursi penonton yang harga 3 juta rupiah. 2 jam konser BSB tak terasa loh. Semua lagu dinyanyikan dengan apik, ciamik, dan kece loh. Biarpun usianya udah 40 tahun, seluruh personel menyanyi, menari dan bergoyang dengan prima dan paripurna.


Saat menonton konser BSB "DNA WORLD TOUR"


Oiya di tahun ini juga aku berhasil mewujudkan keinginanku untuk mengikuti Workshop dan HR Course untuk menambah ilmu, skill, dan pengetahuan. Aku mengikuti beberapa workshop dari komunitas IHRI [Inclusive Human Resources Indonesia], dan komunitas One CHRP. Bersama dua komunitas ini aku mengikuti Workload Analysis Workshop, Job Analysis Workshop, dan BHRP Dasar serta BHRP Lanjutan. Bersama IHRI juga aku mulai mengikuti kegiatan kerelewanan mereka bersama YPAB di bulan November lalu. YPAB merupakan sekolah kesetaraan Paket A, B, dan C bagi berbagai teman-teman yang belum bisa melanjutkan sekolah formal. Aku senang sekali berkunjung ke sana dan melihat mereka semangat untuk belajar. Bahkan aku dapat informasi bahwa salah satu di antara mereka mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas terbaik di Jakarta. Hikss terharu sekali.

Desember ini kegiatan seru yang dilakukan adalah Hari Berbagi 13 dan Palembang Road Trip. Hari Berbagi 13 dilaksanakan di MTS Al Muwafiq Cicalengka, tempat Teh Yani mengajar.  Hari Berbagi 13 ini diikuti kurang lebih 30 orang relawan. Yang menarik adalah kita menonton Verse of Universe oleh Kang Aip dipadu dengan permainan kecapi Sunda oleh Kang Asep. Seminggu setelahnya aku mengambil cuti 2 hari untuk misi “Peste dan Wisate bukan Bencane” ke Palembang. Seru banget loh perjalanan menjelajah tol baru Trans Sumatra. Cuma 8 jam aja waktu tempuh perjalanan dari Jakarta menuju Palembang loh.


Tol Kayuagung di Sumatra Selatan
Tol Kayuagung di Sumatra Selatan

Awal Desember setelah Hari Berbagi 13, Kang Renza mendapukku untuk menjadi Project Leader untuk Hari Berbagi 14 yang insha allah diadakan pada Februari/Maret 2020 nanti. Sementara akhir Desember ini juga aku bersama teman-teman GA Circle sedang merancang project baru yaitu kegiatan Pelatihan Guru-Guru di Tangerang. Udah dua bulan kami mengonsep kegiatan ini, semoga rencana dan pelaksanaan berjalan dengan lancar.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...