Wow Jakarta – Palembang 8 jam Saja! : Sebuah Perjalanan Untuk Wisate Bukan Bencane

“To move, to breathe, to fly, to float, To gain all while you give, To roam the roads of lands remote, To travel is to live.” – Hans Christian Andersen

Bermula di awal November 2019 di grup Whatss App All Community for Humanity ada undangan pernikahan yang dikirimkan oleh Kak Ken. Undangan tersebut ternyata diadakan di Palembang, kota asal Kak Ken. Nah ramai-ramai slogan “Peste dan wisate, bukan bencane” digaungkan. Mba Beti dan Mas Anton langsung memesan tiket pesawat. Kak Indra menyatakan hadir karena ia akan memandu acara resepsi tersebut. Om Zulman menawarkan berangkat bersama lewat jalan darat dan mengajak siapa saja yang mau bareng berangkat dengannya.





Aku mengecek tiket pulang pergi CGK – PLG saat itu, harganya Rp 1 juta untuk Sriwijaya, Rp. 950an ribu untuk Lion Air. Duh aku agak-agak ngeri kalau pakai Lion ini, nanti jadwalku dirombak-rombak kembali seperti saat aku ke Palembang pada Agustus lalu. Setelah berdiskusi di grup, akhirnya memutuskan untuk mengambil tawaran dari Om Zul bahwa kita akan Road Trip Jakarta Palembang. Saat itu belum ada pengumuman mengenai peresmian tol Terbanggi – Kayu Agung. Hingga pada akhirnya semua gembira ketika resmi dibuka jalan menuju Palembang tersebut pada 15 November 2019.

Bermalam Di Cilegon

Sesuai agenda yang telah disepakati, perjalanan akan dimulai pada Kamis, 12 Desember 2019 pukul 21.00 WIB dengan meeting point di Slipi Jaya. Walaupun komposisi personel berubah, kami tetap berlima menuju Palembang dengan transit di Bandar Lampung untuk menjemput Kak Indra sekalian sarapan pagi.

Setelah bertemu Mba Hilda di Slipi Jaya, dan dijemput Om Zul pada pukul 21.15 WIB, kami menuju Cilegon untuk menjemput Mba Tati. Perjalanan menuju Cilegon lancar jaya, waktu tempuh hanya 90 menit saja. Kedatangan ke rumah Mba Tati ini adalah kedatangan yang kedua kali setelah Februari lalu. Setelah tiba di rumah Mba Tati, masih saja berdiskusi akan berangkat jam berapa ke Merak dan mau pakai kapal reguler atau eksekutif. Perjalanan ini memang direncanakan dengan santai, sehingga tidak ada target harus sampai di Kota Palembang jam berapa.  Akhirnya disepakati kami akan jalan jam 03.30 pagi dari rumah Mba Tati dan menggunakan kapal eksekutif. Setelah itu akupun memilih tidur di kamar Mba Tati karena lelah, ngantuk, dan masih merasa kurang enak badan.


Salat Subuh di Merak dan Naik Kapal Eksekutif Pagi

Pukul 03.45 Wib perjalanan dimulai dari rumah Mba Tati. Cilegon – Merak ditempuh dalam 15 menit saja. Ketika tiba jam 04.00 WIB, petugas mengatakan bahwa kapal jam empat pagi baru saja berangkat. Kapal Eksekutif dari Merak menuju Bakauheni akan berangkat di jam-jam genap seperti jam 02.00, 04.00, dan selanjutnya. Sementara kapal dari Bakauheni menuju Merak akan berangkat pada jam-jam ganjil seperti Jam 01.00, 03.00, dan seterusnya. So tentu saja kapal yang akan ditumpangi selanjutnya akan berangkat pukul 06.00. Hmm kira-kira harus menunggu 2 jam lagi untuk berlayar menuju Bakauheni.

Sembari menunggu, kami menunaikan salat subuh dahulu di area pelabuhan. Pelabuhan eksekutif ini bangunannya baru, berlantai dua dan masih sangat bersih. Semoga tetap dipelihara dan dijaga kebersihannya. Musholla terletak di lantai dua, menuju lantai dua bisa menggunakan eskalator atau menggunakan lift. Karena masih subuh, eskalator belum berjalan, jadi kami menggunakan lift. Musalanya juga bersih, terpisah antara musala wanita dan pria. Karpetnya cukup tebal dan empuk loh. Tadinya ingin sembari tidur-tiduran gitu, tapi ternyata udah jam 04.30 wib aja.  Kami menuju gerai Indomaret Point yang masih satu lantai dengan musala. Indomaret Point ini juga lengkap loh tentu saja harganya premium ya dibandingkan dengan Indomaret biasa. Mba Tati membeli minuman, cemilan dan tentu saja mie instant cup untuk bekal di dalam kapal.


Lobby Terminal Keberangkatan Pelabuhan Eksekutif Merak
Lobby Terminal Keberangkatan Pelabuhan Eksekutif Merak

Ternyata di lantai ini juga area pembelian tiket untuk penumpang tanpa kendaraan berada. Ruangan tunggunya sangat nyaman dengan adanya banyak sofa berwarna-warna cerah. Selain itu terpampang juga jadwal kapal eksekutif baik dari Bakauheni maupun dari Merak, tersedia juga televisi dan air minum galon ketika penumpang menunggu.

Setelah membeli makanan, kami menuju mobil untuk beristirahat sebentar, eh ternyata petugas mengatakan bahwa penumpang sudah bisa masuk ke kapal yang nanti akan berangkat jam 06.00 pagi. Oiya tiket kapal eksekutif ini harga Rp. 579. 000 termasuk penumpang [max 8 orang]. Tiket harus dibeli dengan sistem cashless yaitu mengisi Emoney Mandiri/Flazz BCA/ Brizzi BRI atau kartu bank lainnya. Jika kartu kita tanpa isi, tersedia counter top up di pintu masuk sebelum antrian loh dan ada petugas yang berjaga di counter tersebut.


Indomaret Point di Pelabuhan Eksekutif Merak
Indomaret Point di Pelabuhan Eksekutif Merak
Tepat jam 06.00 pagi kapal mulai berlayar meninggalkan Pelabuhan Merak. Duduk di kursi-kursi empuk adalah pilihan yang sangat cocok untuk tempat beristirahat. Waktu tempuh diperkirakan 60 menit saja, mudah-mudahan tidak molor pikirku. Aku menghabiskan waktu di kapal dengan tidur hingga pukul 06.55 Wib dibangunkan karena kapal sebentar lagi akan bersandar. Wah benar-benar memangkas waktu perjalanan ya kapal eksekutif ini.

Sarapan Lezat di RM Cikwo Bandar Lampung

Setelah keluar dari Pelabuhan Bakauheni, dan sebelum masuk ke dalam Tol Bakauheni – Bandar Lampung. Om Zul menepikan mobil dulu sejenak. Ya begini jika bepergian dengan pilot drone, Om Zul akan menerbangkan drone dahulu sekitar Bakauheni ini. Setelah 15 menit menerbangkan drone perjalanan dilanjutkan menuju Bandar Lampung untuk menjemput Kak Indra di RM Cikwo sekaligus sarapan.

Perjalanan menuju Bandar Lampung ditempuh dalam waktu 1 jam saja,  masuk dari Tol Bakauheni dan keluar di Tol Kota Baru [ITERA]. Rumah Makan Cikwo adalah rumah makan yang menyajikan menu-menu khas Lampung yang menjadi kesukaan banyak orang. Terletak di Jl. Kimaja – Sepang Jaya Way Halim Bandar Lampung, RM Cikwo ini homey sekali loh. Desain interiornya menarik dan intagrammable. Selain sarapan, di sini juga bisa cuci muka, mandi dan istirahat loh.


Desain Interior RM Cikwo yang homey
Desain Interior RM Cikwo yang homey
Beraneka makanan khas Lampung yang hadir di meja tak sabar untuk disantap, terhidang Gulai Taboh Iwa Tapa Semalam, yaitu gulai kuning ikan nila yang telah diasapkan. Rasanya rempah, gurih, ikan nilanya padat daging dan empuk. Dimakan dengan nasi putih hangat tentu saja nikmat luar biasa. Selain itu ada sup asam segar ikan marlin, rasanya seperti tom yam. Betul-betul segar dengan asam yang didapatkan dari belimbing wuluhnya. Sebagai pendamping ada goreng tahu tempe, lalapan timun, selada, labu siam kukus dan sambal terasi pedas. Ini adalah menu sarapan sekaligus makan siang. Sebagai penutup tersaji segelas cappucino ice brown sugar dan bolu caramel buatan istri Kak Indra yang super duper nikmat. Jadi nikmat tuhan manalagi yang kamu dustakan.


Sarapan di RM Cikwo
Sarapan di RM Cikwo Bandar Lampung

Bandar Lampung – Tol Kayuagung 3 jam saja!

Tepat pukul 11.30 WIB perjalanan bersambung menuju Palembang. Jalanan mulus beton dimulai dari masuk Tol Kota Baru [ITERA]. Kecepatan kendaraan tak terasa 120 – 130 KM/ jam saja dikendalikan oleh Om Zul. Kak Indra lagi gak bisa nyetir karena sedang asam urat. Perjalanan lancar karena sepertinya belum begitu banyak yang menggunakan jalur ini dan musim liburan juga belum tiba. Dapat dipastikan liburan Natal dan Tahun Baru tol ini akan ramai dilalui oleh berbagai kendaraan.


Suasana Tol Terpeka
Suasana di jalan Tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayuagung

Kiri kanan jalan terhampar sawah, perkebunan, dan ilalang kering. Sehingga pikiran berimajinasi bahwa ini bukan di Indonesia. Ketika melewati hamparan hijau kami merasa sedang di New Zealand, kemudian ketika melewati pohon-pohon yang gersang rasanya sedang di Taman Nasional Baluran Banyuwangi, dan ketika melewati perkebunan kebun sawit, perasaan mengatakan sedang melintasi jalanan Mekkah menuju Jeddah. Hahahahahah imajinasinya kemana-mana banget ya. Kebun Mariyuanapun disebut ketika melalui perkebunan singkong di pinggir jalan.

Setelah 3 jam perjalanan beserta halusinasi ajaib itu, akhirnya tiba jua di Pintu Keluar Tol Kayuagung yang merupakan ujung dari jalan tol trans sumatra ini. Horeeee tiba di Sumatra Selatan! Tol Kota Baru - Kayuagung dikenakan tarif sebesar Rp. 69.000 saja. Sebetulnya tarif Tol Bakauheni – Terbanggi Rp. 162.000, dan Tol Terbanggi – Pematang Panggang – Kayuagung itu Gratis. Jadi yang dibayar itu adalah Tol Kota Baru – Tol Kayuagung. Saat ini ruas Tol Terbanggi – Kayuagung adalah yang terpanjang se-Indonesia loh, dengan jarak 189 Km.

Nah dari Kayuagung menuju Kota Palembang sebenarnya udah ada jalan tol, hanya belum diresmikan sehingga belum bisa diakses. Jadi menuju Palembang waktu tempuh yang dibutuhkan 1 jam berkendara lagi dari pintu Tol Kayugung. Sayangnya di sepanjang jalan tol ini, rest area dan SPBU sedang dalam proses pembangunan, jadi siapkan bahan bakar kendaraan mobilmu dan makanan agar tidak kelaparan ya.


Pintu Keluar Tol Kayuagung
Pintu Keluar Tol Kayuagung
Kegiatan seru-seruan selama di kota yang terkenal akan kulinernya ini akan aku ceritakan di tulisan terpisah ya. Jadi jika disimpulkan perjalanan ini memakan waktu:
·         Jakarta – Cilegon : 1,5 jam
·         Menyeberang kapal : 1 jam
·         Tol Bakauheni – Kota Bandar Lampung : 1 jam
·         Tol Kota Baru – Tol Kayuagung : 3 jam
·         Tol Kayuagung- Kota Palembang : 1 – 1,5 jam


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...