Kehadiran Corona Mengubah Kehidupanku Selama Lima Bulan Terakhir

Telah lima bulan negeri ini hidup bersama virus yang berasal dari Wuhan dan bernama Corona. Tepatnya Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama covid di Jakarta. Saat itu aku sedang hadir dalam Pers Conference sebuah event Astra Internasional di area Sudirman.


 

Event Astra International

Bagai disambar petir rasanya, tak percaya jika negara ini akhirnya merasakan seperti negara-negara lain rasakan. Tak percaya jua rasanya, olok-olok netizen yang mengatakan Indonesia tidak mempan dengan corona akhirnya bernasib sama dengan negara tetangga yang lebih dahulu memiliki kasus.

Kehidupanku di awal virus ini datang

Keadaan di tempat kerja masih berjalan seperti biasa, namun karena kepala sekolah dan wakil kepala sekolah sedang menunaikan ibadah umroh. Aku dan wakil kepala sekolah sarana dan prasarana langusng berkordinasi dengan cepat. Kepala sekolah kami menggunakan waktu senggangnya di Mekah untuk mengadakan video call dengan seluruh staff, dan kami segera membuat protokol Covid hari itu juga. Kenapa demikian? Karena orang tua murid sudah mulai kuatir dengan keadaan di hari kedua corona diumumkan.

Aku dan rekan-rekan terkait bagi-bagi tugas untuk membeli hand sanitizer, masker, tissue basah, cairan disinfektan dan lain-lain. Lelah memang, namun ini adalah antisipasi terbaik yang harus dilakukan. Saat itu kita belum tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Anak-anak diliburkan segera

Selasa malam, mendadak Ketua Yayasan menghendaki anak-anak di liburkan, namun para staff dan guru tetap masuk untuk bersih-bersih. Sehingga dengan mendadak pula pihak sekolah mengumumkan agar anak-anak libur selama tiga hari. Padahal anak-anak baru saja masuk sekolah lagi setelah liburan term ke dua.

Segera kami ambil langkah general cleaning untuk dua sekolah, Cipinang dan Galaxy. Berbagi tugas dengan cermat, dan ringkas harus dilaksanakan dalam waktu tiga hari ini. Di hari Jumat kami melaksanakan simulasi protokol covid untuk mempersiapkan anak-anak yang akan masuk di Senin berikutnya. Petugas piket akan berjaga di beberapa titik dengan tugas mengecek suhu siapapun yang datang baik itu siswa, orang tua, pengasuh, suster, dan tamu yang datang. Karena jumlah personil kami yang terbatas, akupun kebagian jadwal berjaga di titik masuk area Gymnastic.

Lima hari telah dijalani protokol ketat mencegah Covid 19. Hari-hariku sangat lelah dua minggu belakangan. Pergi pagi, bekerja, dan berjaga piket dan pulang selepas maghrib membuat staminaku sempat kedodoran. Namun harus tetap mendapatkan asupan vitamin, gizi, dan makanan yang cukup.

Media Trip ke Nirwana Gardens Bintan

Di masa-masa riweuhku, tiba-tiba Kak Eka Handa kirim pesan menawarkanku mengikuti media trip. Masya allah mimpi apa aku? Awalnya menanyakan siapa kira-kira yang biasa diajak media trip melengkapi tim yang akan berangkat. Tim berkurang satu karena Kak Sarah sedang liburan ke Bali dan Lombok. Aku iseng saja mengecek harga tiket yang aku dengar di awal Maret sudah turun ke berbagai tujuan, termasuk Batam. Dengan jadwal pulang pergi yang aku miliki, aku cek sekitar satu juta rupiah. Wah ini kembali ke harga dua tahun yang lalu loh, aku senangnya tak terkira. Aku mengabari Kak Eka dan mengatakan jika tak ada halangan H-3 telah beli tiket.

Menunggu Sunset di Nirwana Gardens

Aku senang sekaligus deg-degan untuk media trip kali ini, senang karena aku bisa datang lagi ke Batam dan Bintan setelah dua tahun. Setelah harga tiket sekali jalan bisa dua kali lipat, udah lama sekali aku tidak mendarat di Hang Nadim dan melaut ke Lagoi. Deg-degan karena di minggu kedua corona hadir, jumlahnya terus bertambah di Jakarta dan menyusul daerah lain. Ya udahlah bismilaah saja dalam hati.

Karena kelelahan dalam dua minggu terakhir, sampai di Batam aku sempat flu. Kunjungan kali ini aku menginap penuh di rumah Dewi selama dua malam. Kondisi Kak Lia kurang fit, sehingga tidak bisa menjemputku di bandara hari itu. Dewi menyiapkan makanan, minuman hanat rempah agar kondisiku kembali membaik. Ah sahabatku satu ini luar biasa memang.

Mendadak bekerja dari rumah

Baru saja aku tiba di Nirwana Gardens, kehebohan terjadi di grup kantor. Ketua Yayasan menghendaki kami mulai Selasa, 17 April 2020 untuk bekerja dari rumah, seriring dengan peraturan yang baru saja dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta mengenai hal ini. Kalangkabut dong aku, konsentrasiku terpecah antara yang harus dilakukan pada Senin ketika masuk, dan pelaksanaan media inspeksi ini. Namun kuputuskan untuk fokus pada media trip ini saja dulu agar aku tetap fresh, bisa menikmati Lagoi, dan menikmati sunset di sini yang selalu kurindukan.

Senin pagi aku pulang ke Jakarta diantar Kak Lia dan Dewi ke Hang Nadim. Kondisiku sudah sedikit lebih baik ketimbang ketika awal aku tiba di kota ini. Selama tiga hari dewi memberi minuman berempah hangat untuk membuat kondisiku menjadi lebih baik. Sampainya di Cengkareng, aku langsung menuju ke sekolah untuk persiapan pengarahan dalam menghadapi proses bekerja dari rumah ini. Aku mengeluarkan surat edaran untuk bekerja dari rumah selama dua minggu terlebih dahulu.

Zoom meeting marathon

Minggu pertama masa bekerja dari rumah, masih bingung dengan ritme pekerjaan. Masih kaku pola yang diterapkan. Minggu kedua, atasanku meminta laporan hampir setiap hari, dan memberlakukan potongan transport jika telat absen secara daring.

Minggu ke empat Maret, untuk pertama kalinya aku menggunakan aplikasi Zoom, untuk rapat secara daring. Sebagai angkatan jadul pengguna Skype, aku harus berusaha keras agar suaraku bisa muncul dan bisa didengarkan oleh para hadirin saat itu. Zoom meeting berjam-jam membuatku sungguh lelah. Aku pernah marathon rapat dengan menggunakan zoom meeting selama 8 – 9 jam. Lebih panjang waktunya dibandingkan jam kerja biasa.

Ramadan dalam kesunyian dan no mudik-mudik club

Memasuki ramadan dalam masa pandemi, aku merasakan sedih tak terkira. Banyak sekali agenda ramadan yang telah direncanakan gagal total. Tidak bisa tarawih di masjid, tidak bisa menghadiri acara Hijrah festival seperti tahun kemarin, serta tidak ada mabit di House of Safa seperti biasanya. Benar-benar aku sendiri menjalani Ramadan bersama Rabb-ku sehingga ramadan kali ini benar-benar khusyuk dan syahdu.

Berkebun selama lebaran

Untuk pertama kalinya selama merantau di Jakarta aku tidak berlebaran di rumah. Setelah berencana akan berlebaran dikos saja, kakak sepupuku mengajak berlebaran di rumahnya di Cibubur. Alhamdulilah aku merasa tidak sendirian selama lebarsn dan liburannya. Selama 10 hari aku tinggal di Cibubur dengan berbagai keseruannya.

Pengurangan Staff dan Penyesuaian Gaji di kantor

Setelah lebaran, ritme pekerjaanku rasanya turun naik. Semua terasa lebih cepat dan tanpa kepastian. Gelombang PHK dan pengurangan gaji terpampang nyata di depan mata. Konflik, berbagai keputusan mendadak, berbagai rapat kerap dilaksanakan.

Pendapatn sekolah yang menurun dan sedikitnya siswa yang mendaftar pada tahun ajaran ini adalah pemicu terjadinya permasalahan di tempat kerjaku. Hingga pada akhirnya diambil keputusan yang sangat berat, penyesuaian gaji , dan merumahkan staff/guru yang memang belum banyak kita pergunakan sekarang ini di masa pembelajaran daring.

Semua proses ini menguras pikiran, dan energiku hingga aku stress. Tidak enak makan, minum, hingga tidur dalam kurun waktu hampir satu bulan.

Hijrah dari Jakarta ke Kalianda

Di masa pandemi global ini yang sangat aku syukuri adalah berkah dari allah yang tiba-tiba saja memudahkan jalan hijrahku. Udah pada tau kan dari tahun kemarin aku ingin sekali keluar Jakarta. Ingin pindah dari Jakarta ke Batam, namun ada saja halangannya.Ingin pindah dari Jakarta ke Palembang juga belum rezekinya. Tiba-tiba aku pindah saja dengan mudah dalam waktu kurang dari sebulan ke Kalianda. Sebuah kota kecil yang merupakan ibu kota Kabupaten Lampung Selatan.

Di sini aku measih mengemban tugas Human Resources dan Public Relation sekaligus. Pekerjaan yang cukup menantang sebenarnya. Namun kepindahan sekarang sama dengan doaku 6 tahun lalu ketika aku pindah dari Bandung ke Tanjung Balai Karimun, aku tidak akan mengeluh apapun mengenai pekerjaan. Karena apa yang aku minta telah diberi oleh allah dengan mudah.

 

 

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...