Hijrah Dari Jakarta Pada Masa Corona Ke Kalianda

Waktu bergulir dengan cepat, tak terasa kita sudah lima bulan hidup bersisian dengn Virus Sarv- Cov 19 asal Wuhan ini. Ribuan orang wafat karena virus yang menyerang bagian paru-paru manusia ini. Sejak beberapa bulan lalupun status negara kita adalah darurat covid 19.



Dengan kondisi ini kehidupan kitapun sedikit banyak berpengaruh dengan adanya pandemi yang menyerang seluruh negara di muka bumi ini.

Perubahan model bisnis dan terjadinya gelombang PHK

Banyak perusahaan besar mengganti segera model businessnya di kala pandemi ini, dikarenakan jika mereka tetap pada model business yang lama akan bankrut. Produksi berjalan, pembayaran karyawan masih berjalan, namun penjualan terhenti sehingga tidak ada pemasukan bagi perusahaan tersebut.

Kehadiran corona juga mengakibatkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai bidang. Puluhan ribu hingga ratusan ribu orang sekarang kehilangan pekerjaan. Cepat atau lambat, ternyata hal aku takutnya terjadi juga. Termasuk di kantorku, so apa yang terjadi di kantorku?

Merumahkan karyawan adalah jalan terakhir

Pas setelah liburan hari Raya Idulfitri selesai, sejak itu pula kehidupanku menjadi tidak tenang. Berbagai rencana merumahkan karyawan, penyesuain gaji, hingga PHK menjadi wacana di tempat kerjaku. Sejak awal pandemi hingga hari raya, kami merasa masih normal-normal saja. Gaji masih diterima dengan penuh dan syukur.

Berbagai kebijakan-kebijakan mendadak membuat situasi di kantor menjadi tidak nyaman, konflik bermunculan, trust issue menjadi agenda yang panas setiap harinya. Hari-hariku penuh kesedihan, dan kegalauan atas segala kondisi yang tidak pasti ini.

Hijrah Dari Jakarta ke Kalianda

Di antara kekalutan pekerjaan ini, atasanku memintaku untuk membantu sekolahnya yang berada di Kalianda, Lampung Selatan. Aku sempat terpana, karena apa yang aku doakan selama ini untuk keluar dari Jakarta terkabul juga.

Aku ingin rasanya berteriak kencang mengekspresikan rasa bahagiaku. Namun aku urung melakukannya, karena aku secara sah belum menerima surat kepindahanku. Bisa saja keputusan berubah kan. Aku juga tidak ingin terburu-buru memberikan informasi ini kepada rekan-rekan di kantor dikarenakan kondisi yang memang belum kondusif.

Setelah ada kepastian dan surat sah dari kantor, baru aku menyusun rencana keberangkatan menuju Kalianda. Yang jelas kepala sekolah di sana menginginkan aku hadir di Upacara Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2020.

Mencari transportasi dari Jakarta

Setelah mencari informasi yang detail mengenai keberangkataku ku Kalianda, aku memili Bis NPM dari terminal Pulo Gebang sebagai sarana transportasiku nanti. Bis NPM dengan harga tiket Rp. 450.000 ini bisa aku beli secara daring. Namun aku ingin memastikan bus ini melewati Jalan Raya Trans Sumatra, 15 menit saja dari Pelabuhan Bakauheni. Jangan sampai bus masuk Tol Bakauheni langsung menuju Tol ke arah Palembang. Wah bisa-bisa nanti aku sampai di rumah.

Aku mendatangi Terminal Bis Pulo Gebang yang letaknya tak jauh dari Kantor Walikota Jakarta Timur. Namun agar hemat ongkos, aku datang kesana dengan Trans Jakarta. Sebenarnya bisa saja dengan ojek daring yang jaraknya dari kantor kurang lebih 10 KM, namun ongkosnya sangat mahal. Sekalian saja aku jalan-jalan ingin tau Terminal Terpadu Pulo Gebang ini, makanya aku menggunakan Trans Jakarta ke sana. Setelah mendapatkan bus yang aku inginkan dan bertanya mengenai kepastian jalur perasaanku menjadi lega karena telah mendapatkan kepastian mengenai keberangkatanku pada 16 Agustus 2020.

Langkah selanjutnya adalah mengirimkan barang. Ada dua kardus yang akan aku kirim dengan tujuan yang berbeda. Satu kardus untuk tujuan Kalianda yang memuat beragam barangku agar koper tidak padat. Satu kardus lagi aku kirimkan menuju Jambi  untuk barang yang tidak banyak aku pergunakan lagi.

Hari H Menuju Kalianda

Setelah memesan Gocar pada jam 8.15, aku segera bersiap-siap untuk menurunkan koper dan tasku ke depan pagar, agar ketika mobil datang langsung berangkat. Perjalanan menuju terminal Pulo Gebang tidak memakan waktu yang lama dan ditempuh hanya dalam 30 menit saja. Sempat salah jalan masuk dikarenakan beberapa hari lalu aku ke terminal ini dengan Trans Jakarta jadi bisa langsung ke atas, dengan mobil pribadi lewat bawah dan masuk area parkir ternyata.

Tak berapa lama petugas dari NPM telah menjemputku di depan Pintu Timur Terminal Pulo Gebang dan membantu membawakan koper ku. Petugas menemaniku menuju counter NPM di lantai atas. Terminal ini menurutku sangat luas, namun kehadiran calo-calo tiket membuatku tidak nyaman. Padahal bentuknya bagus loh.

Setelah registrasi dengan menunjukkan KTP, petugas mencatat identitasku, dan scan barcode tiket untuk masuk ke ruang tunggu. Kurang lebih 2 jam menunggu di ruang tunggu hingga jam 11.30 NPM bergerak meninggalkan Terminal Pulo Gebang.

Tiada berlebihan rasanya karena kepindahan terjadi pada musim corona. Tidak ada farewell/pesta perpisahan, pertemuan saja terakhir saja aku hanya bertemu Riani, Mba tesza dan Dede ranto. Berbeda dengan kepindahanku dulu dari Bandung ke Tanjung Balai Karimun yang penuh dengan farewell/karoke party dan makan-makan. Walaupun kepindahanku dari Bandung juga mendadak loh.

Senang sekali bisa melihat laut kembali, walapun aku mendapatkan kapal yang jelek, namun terbantu dengan film yang diperankan oleh Jason Statham selama dua jam penyeberangan dari Pelabuhan Merak  menuju Pelabuhan Bakauheni. Setelah 5,5 jam perjalanan, tiba jua aku di tempat tujuan . Karena memang aku akan turun dipinggir jalan, jadi setelah keluar dari Pelabuhan Bakauheni aku memutuskan untuk duduk di kursi depan agar tidak bablas.

Nah inilah cerita jelang kepindahanku dari Jakarta ke Kalianda. Kalianda adalah ibukota kabupaten yang terletak di pinggir pantai, jadi aku bisa setiap akhir pekan bertandang ke laut dan bermain ombak.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...