Pengalaman Merayakan Idul Adha di Berbagai Kota di Indonesia


Selain Hari Raya Idulfitri, umat memiliki salah satu hari raya lagi yang dinamakan Hari Raya Iduladha, atau Hari Raya Kurban. Jika pada Hari Raya Idulfitri biasanya aku mudik pulang ke rumah, atau pernah beberapa kali merayakan di Bandung apada masa kuliah dahulu. Nah jika pada Hari Raya Iduladha biasanya aku pernah merayakan di berbagai kota. Biasanya aku mengambil cuti atau liburan di Hari Raya Iduladha




Berikut pengalamanku merayakan Iduladha di berbagai kota di Indonesia:

1.    Bertugas dan libur Iduladha di Balikpapan

Tahun 2012 adalah masa-masa di mana aku sering bepergian untuk tugas luar kota. Sebut saja Makassar, Yogya, Bali, Jakarta, dan Balikpapan. Hampir setiap minggu aku bertugas ke luar kota dalam masa 3 – 5 hari, tergantung dari surat tugas yang diberikan atasanku.

Nah pada suatu hari aku ditugaskan di Balikpapan selama empat hari, dan setelah tugasku berakhir, ternyata ada libur Hari Raya Iduladha. Segera aku mengajukan cuti satu hari memperpanjang masa tinggal di Balikpapan untuk bertemu dengan temanku yang tinggal di Balikpapan saat itu. Ya aku ingin bertemu dengan Mba Eli yang telah setahun tidak kujumpai sejak kepindahannya dari Jakarta ke Balikpapan.

Merayakan Iduladha di Balikpapan bersama keluarga Mba Eli adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan. Pagi-pagi kami ke masjid di dekat rumah Mba Eli untuk menunaikan Salat Iduladha. Setelahnya tentu saja diisi dengan acara makan-makan keluarga. Yang paling menyenangkan adalah kedatangan tante Mba Eli yang membawakan pempek. Wow makan pempek di Kalimantan adalah sebuah berkah.


Sore hari tiba kami jalan-jalan menghabiskan waktu mengunjungi Balikpapan Plaza, dan Balikpapan City Walk. Jika bertugas, jarang sekali aku bisa menyambangi mall-mall di Balikpapan karena waktunya sedikit. Nah karena lagi liburan, jadi ini saatnya ngemall di kota minyak ini. 

2.    Bersilaturahmi dengan rekan kerja di Tanjung Balai Karimun

Kenangan merayakan Iduladha di Tanjung Balai Karimun sangat membekas di hatiku. Masa itu ketika aku tinggal dan bekerja di sana, jauh dari teman dan saudara. Apalagi kondisi mess sangat sepi, hanya ada aku, Endes, dan Mba Kasmi. Yang lainnya tentu saja pulang ke Batam atau Singapura. Jeng Helly dan Mba Eli saat itu sedang ke Singapura jika aku tak salah ingat.

Hanya berjarak 100 meter dari mess, ada sebuah musala yang tidak terlalu besar dan akan digunakan oleh penduduk sebagai lokasi salat Iduladha. Kami hanya melaksanakan salat dua rakaat saja, dan setelah itu langsung pulang. Kenapa demikian? Setelah pelaksanaan salat hari raya seperti biasa ada khutbah, nah khutbahnya diberikan dalam bahasa Jawa yang tidak kami mengerti.

Setelah makan lontong ala Mba Kasmi sebagai menu hari raya, aku dan Endes masuk kamar masing. Seperti biasa jika hari libur yang paling ditunggu ya leyeh-leyeh di kamar. Namun jam 9 pagi teleponku berdering, dan ternyata Pak Dedi mengajak berlebaran ke rumah Kang Jajang, dan siap menjemput kami dengan mobil kantor. Ya udah sekalian aku ajak Endes. Sesekali kami berkunjung dan silaturahmi ke teman kantor warga Tanjung Balai. Dijamu dengan makan ketupat dan makanan khas Melayu lainnya membuat hari riang dan perut kenyang.


Sore harinya keriangan berlanjut dengan acara ngerujak di Pantai Pongkar. Yay senang sekali sore-sore bermain di Pantai Pongkar. Acara merujak ini disponsori oleh Pak Gandi dan Bu Gandi. Masih ingat ketika bermain air laut dan nyemil rujak, lewatlah Pak Samsu beserta anak dan istrinya yang juga datang menikmati senja di pantai ini.

3.    Kehangatan bersama keluarga di Batam

Ketika beberapa bulan menetap di Batam, ternyata ada satu tanggal merah yang tak kusadari jika libur Hari Raya Iduladha. Aku yang sedang tinggal di rumah kakak sepupuku menyambut hari raya ini dengan gembira. Kakak sepupu antusias sekali memasak di malam hari raya, dan aku tentu saja membantunya.

Keesokkan paginya kami sekeluarga mengikuti salat iduladha di masjid komplek yang tak jauh letaknya kira-kira berjarak 300 meter dari rumah. Namun karena kami keluarga lengkap, abang memutuskan untuk membawa mobil, agar pulang dari masjid bisa berziarah ke makam Mak Tuo Dar di Sei. Temiang.

Sepulang dari ziarah makan tentu saja hal yang menyenangkan adalah makan ketupat gulai cubadak yang merupakan makanan khas Minang kesukaanku. Siangnya sepulang daging kurban dipotong, kesibukan kami lainnya yaitu memasak rendang. Wah seru sekali lebaranku di Batam ini. 

4.    Anak kos yang dapat rezeki di iduladha

Karena memang dahulu bertahun-tahun tinggal di Bandung, jadinya merasa biasa-biasa saja merayakan iduladha di kota kembang. Namun ada yang membuatku berkesan, yaitu ketika aku menjadi penghuni baru sebuah kosan. Aku belum setahun tinggal di situ, namun ibu kos mengadakan acara makan malam ketika iduladha bersama anak-anak kos. Wah sebagai anak kos, tentu aku dan teman-teman senang sekali.


Ibu kos memasak ketupat, opor ayam dan sambal goreng kentang. Menu ini kami nikmati sama-sama setelah salat magrib. Di pagi hari aku menunaikan salat iduladha di masjid yang jaraknya 200 meter saja dari kosan 

5.    Dinginnya iduladha di Pangalengan

Pangalengan letaknya 1,5 jam dari Kota Bandung. Tempat ini merupakan ibu kota kecamatan yang terkenal dengan udaranya yang sejuk, serta kebun teh yang mengelilingi wilayah ini di beberapa tempat.

Aku lupa tahunnya, yang penting aku ingat pernah merasakan iduladha di tempat yang jika pagi suhu udaranya bisa 10 derajat celcius ini. Ya saat itu aku sedang ikut teman yang pulang kampung ke rumah orang tuanya. Lebaran di kampung memang berbeda, suasana dingin diluar terasa hangat di dalam rumah karena semuanya riang gembira kumpul keluarga. Melihat tingkah keponakan-keponakan temanku yang masih kecil saja bisa membuat kami tertawa riang tak selesai-selesai.

Lima kota di Indonesia ini bagiku ternyata memiliki kenangan yang indah terhadap hari raya iduladha, nah jika pembaca pernah merayakan iduladha dimana saja?

 

 

 

 


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...