Pantai Banding, Ketika Air Tawar dan Air Laut Bersisian

 " That the sea is one of the most beautiful and magnificent sights in Nature, all admit.” — John Joly

Kedatanganku di Lampung Selatan ini berbarengan dengan banyaknya tanggal merah yang berseliweran di kalender. Selain tanggal 17 Agustus sebagai libur nasional, pada tanggal 20 Agustus juga kalender berwarna merah sebagai Libur Nasional 1 Muharram 1442 Hijriah.




Main di kamar tetangga

Sebagai anak baru, aku belum punya agenda kemana-mana, selain rebahan di kamar asrama seharian, baca wattpad, dan jogging di pagi hari. Setelah video call dengan Nawyan , keponakan gantengku, aku berkeinginan untuk main dan rumpis di kamar Mba Dwi dan Bu Sri setelah Salat Zuhur. Sempat ketiduran juga menjelang zuhur. Ketika bangun ada pesan masuk dari Mba Dwi “ Bu nanti makan siangnya di sini ya, aku masak bakso”. Aku hanya menjawab “Asikkk”.

Seberes salat zuhur aku mauin ke kamar Mba Dwi, ternyata ramai di sana ada Nadia, Hany, Putri, dan yang lainnya. Selain masak bakso, siang itu juga masak bakwan dengan kuah cuko. Akupun segera memasukkan semangka yang kubawa ke dalam kulkas, agar segar ketika nanti dihidangkan sebagai penutup makanan.

Aduh enak sekali makan siang dengan bakso ini, Mba Dwi membuat sendiri kuah bakso yang gurihnya pas, serta berbumbu ini.  Dalam semangkuk baksoku ada tauge yang dibuat dari hasil praktikum Bu Sri,bihun, bakso, dan sambal rawit nan pedas. Sebagai pendamping ada bakwan dengan cukonya. Really Sumatra Food!

Kehebohan kami dilanjutkan diskusi bermain ke pantai keesokkan harinya. Pilihannya adalah pantai-pantai di sekitar Rajabasa, mulai dari Kunjir, hingga Canti. Wah seru sekali, artinya aku akan mengunjungi lagi tepat yang pernah kusinggahi di awal tahun 2019 lalu. Ya pantai-pantai di sekitar Rajabasa telah berbenah setelah dihantam Tsunami Gn. Krakatau pada Desember 2018 silam. Tak sabar ingin melihat pantai-pantai cantik ini lagi. Walaupun minim fasilitas, aku menyukai pantai yang berombak, pasir putih dan langit biru yang menyatu.

Persiapan Piknik Ke Pantai Banding

Jumat pagi setelah jogging menempuh jarak 4,3 KM, akupun menuju kamar Mba Dwi lagi untuk memasak bekal piknik kami. Menu yang akan dimasak yaitu capcay, ayam kecap pedas, kacang rebus, dan kerupuk. Tugasku adalah memotong-motong sayuran yang akan disiapkan untuk capcay. Setelah semuanya beres jam 9, aku pulang ke kamarku untuk mandi, salat duha dan bersiap-siap.

Pukul 10.15 Wib, kami mulai berangkat dengan mobil Pak Adi dan tak lupa membawa makanan yang telah dimasak, semangka, dan dua buah tikar untuk duduk di pantai. Nadia memilihkan Pantai Banding sebagai tujuan piknik kami kali ini dikarenakan pantainya letaknya persis dipinggir jalan, landai, dan berombak. Dalam perjalanan menuju Pantai Banding, mobil yang dikendarai oleh Pak Adi melewati Pantai Kunjir, dan sekolah yang dahulu hancur karena tsunami. Memoryku langsung teringat pada kegiatan pertama ACFH yang aku ikuti, ya tepat di sekolah itu kami mengumpulkan warga untuk mendistribuskan donasi. Pantai Kunjirpun sudah tampak lebih cantik sekarang ini.

Tiba di Pantai Banding kami langsung menggelar tikar di bawah pohon dan menurunkan makanan dari mobil. Semerbak wangi capcay, ayam kecap pedas, dan nasi hangat berpadu dengan bunyi deburan ombak, pasir putih dan langit biru membuat makan siang kali ini terasa sangat istimewa. Dibuka dengan roti bakar coklat yang dibuat Nadia, dilanjutkan dengan seporsi nasi, ayam kecap pedas, dan capcay sebagai menu utama. Rasanya nikmat sekali, capcay yang gurih, sayurnya segar, dengan lauk ayam kecap pedas yang crunchy membuat aku nambah nasi lagi loh. Sebagai penutup tak lupa semangka merah nan manis terhidang di depan mata.

Matahari tepat di atas kepala ketika Nadia mengajak bermain ombak, dan lari-larian di pinggir pantai. “Bu Fitt aku mau dong dipoto” ujarnya dari kejauhan.  Setelah itu dia memberikan ponselnya padaku, dan aku mengambil gambarnya beberapa kali. Kemudia dia berteriak lagi “Bu Fitt pinter motret loh, liat ini poto aku keren” ujarnya. Akupun tertawa lebar menanggapi ujarannya.

Pantai Banding - Kalianda
Seceria ini ketemu pantai

Hari itu aku bahagia sekali bisa melihat laut yang telah lama kurindukan setelah terakhir bertemu laut itu Maret 2020 ketika corona baru menyerang negeri ini. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Lagoi, gak apple to apple soalnya. Lagoi istimewa karena kawasan terpadu pariwisata dengan fasilitas internasional.

Pantai Banding - Kalianda
Pantai Banding - Kalianda

Air Tawar Nan Segar di Sisi Pantai

Setelah menunaikan salat zuhur di bawah pohon nan rindang, kami menyambung bermain air ke arah ujung Pantai Banding yang ada batu-batu besar. Letaknya 100 meter dari kami menggelar tikar di bawah pohon. Wah ternyata di sekitar batu tersebut ada mata air yang airnya mengalir deras. Air tawar yang dingin dan menyegarkan itu tertampung dikelilingi oleh batu-batu besar tadi. Aku, Nadia, Hani dan yang lainpun mencuci muka dengan air bening tersebut. Betul-betul segar. Masya allah tabarakallah, nikmat tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Siang hari di Pantai Banding
Siang nan terik di Pantai Banding

Cukup lama kami bermain di area mata air ini, karena selain lokasinya memang teduh, berendam kaki ini benar-benar membuat suasana menjadi lebih rileks, dan santai. Menurut info, air segar ini datangnya dari Gunung Rajabasa yang memang letaknya tidak jauh. Lampung Selatan ini memang menarik, lanskap alamnya adalah gunung, hutan, air terjun, dan laut. Sehingga benar-benar memanjakan indra penglihatan. Pemandangan hijaunya hutan di kanan-kiri jalan, diselingi dengan hamparan laut biru tosca di sisi kiri jalan. Sungguh menakjubkan.

Mampir di Al Bastru Walaupun Belum Sunset

Pukul 2 siang ketika masih panas-panasnya, kami memutuskan untuk pindah tempat. Lokasinya tak jauh dari Pantai Banding, hanya 500 meter saja. Al Bastru, sebuah warung/kedai yang berada di pinggir pantai dan tempat wisatawan bisa menikmati senja dan mentari pulang ke peraduan.

Meja-meja tersusun rapi, dengan bean bag aneka warna sebagai tempat duduk menghadap langsung ke laut lepas. Ya inilah pengalaman ciamik inilah yang ditawarkan Al Bastru. Sayangnya kami mampir di tengah mentari sedang terik-teriknya.

Aneka makanan dan minuman dengan rasa yang segar, manis, dan harga yang terjangkau di dompet bisa pembaca pesan di sini. French fries, roti bakar, aneka keripik, dan minuman mocktail aneka warna dan rasa tersedia di kedai yang instagrammable dan sering dikunjungi wisatawan di sore hari ini.

Angin yang berhembus sepoi-sepoi sempat membuatku tertidur sekitar 20 menit di atas bean bag empuk menghadap ke laut biru ini. Tak kurasa minuman yang ku pesan tadi telah datang, rasa soda bercampur dengan air jeruk, dan potongan jeruk terasa segar di kerongkonganku, telah lepas dahaga sore ini.

Al Gastru - Rajabasa
Minuman segar di Al Gastru

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, ya ampun tak terasa sudah 4,5 jam kami bermain di sekitar laut. Saatnya pulang, karena Al si kecil anak Pak Adi telah tidur, bangun, dan tidur kembali. Ya ini sepertinya waktu anak balita tidur sore. Rasanya puas sekali bermain laut hari ini. Belum seminggu di sini, sangat mensyukuri bisa main ke laut lagi. Aku hanya berpesan pada Nadia “Nanti kalo ke Al Bastru lagi jam sunset ya nads, bukan panas begni”. “Siap bu” ujarnya. Ya aku sangat bersyukur untuk liburan singkat nan istimewa bersama keluarga baru ini.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...