Lika Liku Serunya Anak Rantau Hidup di Mess/Asrama

 

Hidup di perantauan itu butuh perjuangan dan tekad yang kuat, itulah prinsipku ketika 20 tahun yang lalu memutuskan untuk merantau jauh dari rumah. Setelah menjadi anak kost-an bertahun-tahun tiba-tiba aku dihadapkan pada satu situasi tinggal di sebuah mess/ asrama. Nah kali ini aku akan menceritakan pengalamanku tinggal di mess/asrama di dua kota yang berbeda.



Mess Bukit Tiung 2014

Ketika aku diinfokan diterima bekerja di sebuah perusahaan asing di Tanjung Balai Karimun- Kepulauan Riau, seorang rekan mengatakan jika nanti akan tinggal di mess. Aku belum tau akan tinggal di mess mana, karena mess untuk staff itu ada beberapa. Namanyapun aku belum tau. Yang aku tau adalah nanti sesampai di pelabuhan, aku akan dijemput supir perusahaan bernama Pak Udin. Yang sampai sekarang aku masih geli mengingatnya. Sebelum sampai di Pelabuhan Tanjung Balai, aku mendeskripsikan Pak Udin adalah seseorang yang sudah tua, beruban, dan berumur sekitar 50an. Berbeda 180 derajat dengan orang yang menjemputku saat itu, anak muda dengan tinggi badan kurang lebih 165 cm, karena setinggi tubuhku, segar dan sangat ramah.

Udin menyampaikan jika aku akan tinggal satu mess dengan Mba Eli, salah seorang teman yang merekomendasikanku kerja di sini. Udin menceritakan jika hari Minggu kondisi mess sepi, karena para staff akan pulang ke Batam di hari Sabtu sore, dan akan kembali ke mess hari Minggu sekitar jam 7 malam. Dikarenakan kapal terakhir dari Batam tiba di Tanjung Balai Karimun pukul 19.00 WIB. Terkadang beberapa staff juga akan pulang Senin pagi dan langsung menuju site.


Mess Bukit Tiung yang penuh kenangan

Hanya 10 menit saja dari pelabuhan, aku tiba di sebuah rumah besar dan bertingkat dua. Wah mewah juga ya ini mess tempatku tinggal ini. Mess Bukit Tiung terletak 300 meter dari jalan raya utama, 500 meter dari Supermarket Padimas. Yang menarik adalah mess ku terletak di pinggir kuburan cina yang dimulai dari jalan raya, hingga beberapa kilometer setelahnya. Udinpun mengambil barang-barang di mobil dengan cekatan dan membawa ke lantai dua. “Bu Fit ini kamarnya, silahkan istirahat, nanti saya belikan makan siang dahulu bu” ujar Udin dengan sopan.

Kamarku berukuran sedang kurang lebih 3x4 Meter dengan cat dinding berwarna putih ini terdiri dari satu tempat tidur ukuran 160 Cm X 200 Cm, satu buah lemari, satu meja rias, dan selimut bulu nan tebal terletak di atas ranjang. Kubuka jendela, ternyata di sebelah kamarku adalah lahan kosong dan di bawahnya ku lihat satu unit genset pelengkap mess ini. Oiya penggunaan listrik di sini hanya Pukul 06.00 pagi – 06.00 sore, pukul 06.00 sore – 06.00 pagi, listrik di mess kami dikendalikan oleh genset. Oiya untuk kamar mandi, kamar mandi aku berbagi dengan teman sebelah kamar yang waktu itu aku belum kenal namanya.

Mess ini punya fasilitas yang cukup lengkap menurutku seperti dapur di dua lantai, televisi di dua lantai, pendingin ruangan di setiap kamar, kamar mandi di dalam kecuali kamarku dan kamar di sebelahku, mesin cuci, dan yang lainnya Aku dengar mess atasanku lebih mewah dibandingkan ini, seperti  kamar hotel bintang lima dan dilengkapi dengan peralatan fitness segala. Selain di Bukit Tiung, mess-mess kantorku tersebar di beberapa area seperti di Bukit Senang, Batu Lipai, PN dan yang lainnya.

Hidup dengan beragam budaya

Rumah dua lantai ini terdiri dari 16 kamar, 8 kamar di lantai bawah, dan 8 kamar di lantai atas. Di lantai bawah didominasi oleh para pria, dan nyempil satu orang wanita yaitu Mba Kasmi yang mengurusi  keperluan kami di sini. Sementara di lantai atas didominasi oleh wanita, dan nyempil satu orang pria yang setelah berkenalan bernama AndiEka yang kamarnya terletak di sebelah kamarku. Ya Andieka ini adalah teman berbagi kamar mandi ternyata.

Lantai bawah tidak hanya dihuni oleh rekan-rekan pria dari Batam, namun juga para expatriat dari Singapura, Malaysia dan Filipina. Ya kalo boleh dibilang hampir 24 jam hidupku menggunakan Bahasa Inggris, baik di kantor maupun di mess jika berkomunikasi dengan bapak-bapak expat ini. Mess kami biasanya ramai ketika makan malam tiba. Kami makan di ruang tengah lantai bawah ditemani oleh TV berukuran 32 inchi. Nikmatnya makan malam bersama-sama ini diakhiri dengan keseruan bercerita banyak hal. Salah satunya cerita menarik dan lucu dari Pak Kasturi, beliau adalah expat dari Singapura yang jika sedang pulang ke sana, selalu saja membawakan kami oleh-oleh aneka coklat seperti Hershey’s dan Toblerone mini.

Asrama Staff Kalianda 2020

Kepindahanku ke Lampung Selatan ini memang agak mendadak, namun sangat berbeda dengan kepindahanku ke Tanjung Balai Karimun enam tahun yang lalu. Dulu aku belum pernah ke Tanjung Balai sama sekali, sahabat-sahabatku malah syok ketika mereka mencari informasi di internet tentang Tanjung Balai Karimun. Sementara, dari 2017 aku sudah sering dinas ke Kalianda ini. Jadi tempat ini telah aku ketahui 2,5 tahun sebelum aku ditugaskan permanen di sini.

Aku datang ke sini dengan mandiri alias beli tiket sendiri, mencari transportasi sendiri. Karena letaknya strategis, jadi tidak sulit bagiku untuk datang kesini dengan mandiri. Berbeda dengan dahulu ketika merantau ke Tanjung Balai Karimun. Dahulu aku ke Batam dan dijemput oleh Kak Lya dan Dewi, begitupun ketika diantar ke Pelabuhan Sekupang untuk naik kapal menuju Tanjung Balai Karimun. Rasanya perjalananku terasa panjang dengan transportasi darat, laut dan udara.

Asrama staff di sini terdiri dari dua gedung, Rumah Susun dan Grha Putri. Letak antara Rumah Susun dan Grha Putri kurang lebih 300 meter. Jaraknya lumayan ya jika untuk jogging pagi hari. Aku ditempatkan di Rumah Susun yang terdiri dari tiga lantai, lantai 1 dan dua adalah kamar-kamar para staff/guru, sementara lantai tiga digunakan sebagai tempat menjemur. Masing-masing lantai terdiri dari 10 kamar, dan keseluruhan kamar mandi di sini berada di luar kamar. Artinya kita harus berbagi kamar mandi dengan rekan-rekan yang lain.

Hal lain yang membedakan di asrama ini adalah satu kamar disini diisi oleh pasangan suami istri, atau kamar yang diisi oleh staff/guru yang belum menikah diisi oleh dua orang. Nah beruntung aku kali ini sendiri di sini, karena sebelum aku yang menempati kamar ini adalah sepasang suami istri yang baru saja resign.

Kamarku ini berukuran 6X6 meter, satu unit pendingin ruangan, dua lemari, dan satu kasur berukuran 120x 200 Cm. Kamarku ini berdinding warna hijau, berbeda dengan dinding kamar yang lain berwarna putih. Menurut Mba Dwi, Zahra dan Arfan mengubah warna cat kamar ini. Kamar mandiku berbeda juga dari yang lain, Zahra dan Arfan memiliki kamar mandiri sendiri yang lebih bersih dibanding yang lain. Jadi aku diberikan akses kunci kamar mandi tersebut.

Kehidupan Bersosial

Selama hampir satu bulan di sini, aku hanya baru berkunjung ke kamar Mba Dwi dan Bu Sri saja selama beberapa kali. Pertama kali ketika diajak untuk acara masak-masak di hari ketiga kedatanganku, selainnya adalah untuk ngobrol dan makan pempek.

Di sini makan terpaksa di kamarku atau di area dapur yang memang merupakan area makan. Akupun hanya sesekali berpapasan dengan rekan-rekan yang ingin memasak di dapur. Untuk menjemur bajupun, aku tidak naik ke lantai tiga, namun aku memanfaatkan area belakang kamarku yang langsung berhadapan dengan matahari langsung.

Jadi selama aku berkarir, aku dua kali hidup di lingkungan mess/asrama dengan segala pernak-perniknya. Hal ini cukup menyenangkan dan menambah pengalaman.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...