Menunda Impianku Melihat Negeri Al Maghribi

“Manusia hanya berencana, namun Tuhan yang punya kuasa”, ucapan ini sering sekali terjadi ketika segala sesuatu yang kita inginkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Persis sama yang terjadi padaku saat ini. Seharusnya di bulan September ini jika kondisi dunia baik-baik saja, aku adalah salah satu orang yang berbahagai karena akan pergi ke tempat yang telah kuidam-idamkan selama enam tahun. Jika kondisinya baik-baik saja, pasti aku sedang sibuk mempersiapkan cuti kerja selama dua minggu dan melaksanakan berbagai persiapan menuju negeri impian. Memangnya aku mau kemana sih September ini?



Ya bulan Februari lalu aku telah memesan satu paket perjalanan wisata menarik selama kurang lebih 12 hari. Harusnya aku telah memegang tiket keberangkatan Jakarta – Doha – Casablanca PP pada tanggal 5 September 2020 ini. Namun apa daya, kehadiran corona meluluhlantakkan impian yang telah kubangun dalam enam tahun. Covid 19 membuat berbagai negara melaksanakan karantina wilayah yang berimbas pada mandegnya industri pariwisata.

Maroko adalah negeri impianku sejak 2014, lebih tepatnya sejak seorang teman membuatku jatuh cinta pada negeri yang dijuluki Al Maghribi ini. Seringnya dia bercerita tentang negara yang terletak di Benua Afrika ini membuatku mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang Maroko. Ya Maroko ternyata negara yang sangat unik dan memiliki lanskap alam yang lengkap. Pembaca ingin tau mana saja tempat yang ingin aku datangi? Simak tulisan di bawah ini ya

1.  Bersujud di Masjid Hassan II

Berlokasi di Casablanca, Masjid Hassan II merupakan masjid yang terbesar di dunia setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menakjubkan bukan? Berkunjung ke masjid yang memiliki menara setinggi 210 meter/ 689 kaki ini membuat kita berdecak kagum, karena setengah dari area masjid ini berada di atas Samudra Atlantik. Aku sangan ingin merasakan angin sepoi-sepoi menyapa muka ketika akan masuk ke pintu mesjid. Interior dan eksterior megah nan menawan campuran Arab dan Eropa adalah ciri khas Masjid Hassan II. Dibangun oleh arsitek asal Prancis bernama Michael Pinseau, Hassan II menampung 25.000 jemaah di ruang utama masjid, dan 105.000 jemaah bisa ditampung jika seluruh areal dipergunakan. Keunikan lain masjid ini yaitu bisa dikunjungi oleh seluruh umat agama di dunia. Tentu saja hal ini tidak berlaku di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Masjid yang atapnya didominasi oleh warna biru ini dibuat sebagai bentuk hadiah ulang tahun Raja Hassan II, dibangun selama 4 tahun dan menghabiskan dana USD 800 Juta.

 

Masjid Hassan II
Masjid Hassan II di Casablanca

2.  Bermain ski di Oukaimeden

Nama tempat ini memang agak asing bagi warga negara Indonesia yang terbiasa mendengar kata Marrakesh dan Gurun Sahara  jika berkunjung ke Maroko. Maroko tidak hanya punya sahara, tapi juga pegunungan Atlas bersalju yang membentang di selatan Marrakesh. Oukaimeden, terletak  pada ketinggian 2600 -3200 mdpl merupakan surga bagi peselancar ski. Ditempuh dalam waktu 90 menit dari Marrakesh dengan jalan darat, resort ski ini dilengkapi dengan kereta gantung, hotel, dan restoran. Salju turun di pegunungan Atlas setiap tahunnya di musim dingin tiba, sekitar bulan Desember - Februari. Anda tidak perlu membawa peralatan ski, karena resort yang terletak dekat Jebel Toubkal ini menyewakan peralatan ski. Ingin naik kereta gantung? Cukup dengan 25 dirham anda bisa berwiasata dengan kereta gantung dengan pemandangan salju di sekeliling. Tertarik bermain ski? Dipuncak Oukaimeden bisa bermain ski sepuasanya dengan harga sewa 30 dirham.

 

3.  Menapaki Jalan Soekarno di Rabat

Presiden pertama Indonesia tercinta ini, namanya diabadikan menjadi sebuah jalan di Kota Rabat, Ibu kota Maroko. Rasa bangga, haru dan semangat patriotisme terasa bergelora di dalam dada ketika berjalan di Jalan  Soekarno. Founder negara yang terdiri dari 17.000 pulau ini memang profilnya sangat istimewa di mata Raja Maroko saat itu. Jalan Soekarno ini cukup ramai dilewati warga karena menghubungkan langsung antar jalan utama di kota Rabat. Peresmian Jl. Seokarno sendiri dilakukan oleh Raja Mohammed V dan dihadiri langsung oleh Presiden Sukarno pada tahun 1960. “Saya bangga memiliki presiden seperti Soekarno “ itulah yang dikatakan Rai Rahman, seorang jurnalis media nasional yang sempat merasakan tinggal di negara Maroko. Selain Rue Soukarno, di Rabat juga kita bisa mengunjungi Rue Bandung dan Rue D’jakarta. Kurang bangga apalagi kita sebagai bangsa Indonesia, nama presiden, nama ibu kota negara, dan nama ibukota provinsi dijadikan nama jalan di sebuah negara di utara Afrika sana.


Jalan Soekarno di Rabat
Jalan Soekarno di Rabat


 

4.   Menikmati Lokasi syuting film Hollywood

Spectre sebagai film box office mengambil lokasi syuting di Maroko. “L’Americain” yang dicari oleh Bond terletak di Tangier, salah satu kota di negara yang dijuluki Al Magribi ini. Tempat syuting film yang terkenal lainnya Ouarzarzate. Sebut saja Mission Impossible 5, Troy, Game of Throne dan Kingdom of Heaven pernah syuting di sebuah tempat yang bernama Ait Benhaddou. Sebuah studi besar dengan fasilitas mewah dan taraf internasional telah dibangun untuk mendukung film-film Hollywood mengambil gambar di banyak tempat di Maroko. Seorang staff hotel sangat berbahagia ketika dia memberikan “welcome drink” kepada Bradd Pitt dan Angelina Jollie yang akan memulai syuting sebuah film berjudul “Alexander”. Tidak hanya film-film Hollywood saja yang syuting di negara yang dihuni oleh suku asli bernama Berber ini, tapi juga film-film Prancis seperti Asterix et Obelisk, Napoleon, dan L’anniversaire.

 

5.  Naik unta di Gurun Sahara

Salah satu bucket list yang harus aku centang adalah naik unta di Gurun Sahara. Walaupun menurut temanku, butuh energi dan stamina yang fit untuk mengunjungi gurun yang terpanjang di dunia ini dikarenakan jarak yang jauh, dan medan yang menantang. Melihat semburat langit di senja hari adalah hal yang tak sabar kunanti di Gurun Sahara. Apalagi nanti di daftar perjalanan yang telah aku terima, kami akan menginap selama semalam di area gurun tersebut. Bermalam di Gurun Sahara apalagi ditemani oleh cahaya bintang dan bulan purnama di langit tentu saja membuat segala keinginanku ini harus benar-benar aku pendam di hati saat ini. Ya allah semoga pandemi corona ini segera berlalu dari permukaan bumi.


Naik unta di Gurun Sahara
Naik Unta di Gurun Sahara

Satu hal lagi yang menyenangkan untuk kita sebagai Warga Negara Indonesia mengunjungi Maroko adalah bebas visa. Jadi tidak perlu direpotkan dan dikhawatirkan lagi mengenai visa ini. Tidak perlu menambah pengeluaran untuk membuat dokumen penting masuk ke suatu negara. Selama 30 hari WNI diizinkan tinggal di Maroko dengan bebas dan bertanggung jawab.


Semoga aku segera mewujudkan liburan ke negeri seribu benteng ini dengan seizin Allah Swt di tahun 2021 mendatang.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...