7 Hal Ini Membuatku Merindukan Tanjung Balai Karimun


Sobat  : “Apa? Pindah ke Tanjung Balai Karimun? Dimana tuh?

Me      : “1,5 jam naik kapal dari Batam?”

Sobat : “Ebuset, masih naik kapal lagi? Kerja kok jauh-jauh amat sih Fit?”

Me      : “Abis gimana diterimanya di sana “ sambil santai

Ya itu adalah sedikit cerita ketika aku mengabarkan kepindahanku ke sebuah tempat bernama Tanjung Balai Karimun enam tahun lalu. Tempat yang asing saat itu dan belum pernah kukunjungi. Hanya Mba Eli orang yang kukenal saat itu bekerja di sana. Hampir setahun bekerja di Tanjung Balai Karimun membuat kenangan akan daerah tersebut membekas dalam memori dan hatiku.


Sejak keluar dari pulau itu, aku sempat berkunjung kembali ke sana 1,5 tahun setelahnya. Sambutan teman-temanku di sana masih hangat seperti dahulu. Aku masih dijemput, dan diantar kemana-mana loh. Masih bisa jumpa mereka ketika malam hari kita makan malam bersama. Ah sudah 2020, artinya udah empat tahun aku tidak berkunjung ke Tanjung Balai Karimun. Banyak hal yang kurindukan dari pulau yang memiliki luas 1.524km2 ini diantaranya

1.    Fresh seafood khas Tanjung Balai

Namanya juga tinggal di pulau, Tanjung Balai Karimun terkenal dengan makanan lautnya yang segar-segar. Tempat makan yang menjual aneka hidangan laut ini bisa ditemui di pusat kota maupun area dekat pelabuhan. Sebut saja Silver River Resto, Long Beach Resto, Seafood 888, dan yang lainnya. Udang bakar, asam pedas ikan, kerang dara rebus, cakue udang, ikan bakar, disajikan hangat hingga ke mejamu loh. Jika di mess, kadang aku suka minta dibuatkan kerang dan udang balado ke Mba Kasmi. Ahh pokoknya makanan laut  khas Tanjung Balai Karimun ngangenin

2.    Suasana kopitiam yang hangat

Walaupun bukan penghasil kopi, Tanjung Balai Karimun juga memiliki kopitiam lokal yang setiap pagi ramai oleh pembeli. Secangkir kopi susu panas, dengan menu sarapan nasi lemak, roti prata, atau lontong kari menjadi pengisi energi sebelum mulai beraktivitas. Seperti di Kopi Lawet, pengunjung bisa memesan sarapan secangkir kopi hitam atau kopi susu dengan roti bakar sebagai pendamping. Ada juga Kedaikopi Cafe & Roastery yang terkenal dengan Americano Coffeenya yang nikmat, dan sate ayamnya yang lezat. Kedaikopi yang terletak di Jl. Ampera No. 13 Tanjung Balai Karimun ini buka muali Pukul. 15.00 – 23.00 Wib. Berbeda dengan Kopi Lawet yang buka mulai jam 08.00 pagi hingga jam 17.00 Wib.

3.    Buah-buahan lokal yang segar

Ketika aku datang, aku dikagetkan dengan musim mangga. Setiap rumah yang memiliki pohon mangga di halaman rumahnya pasti sedang berbuah. Mangga golek, mangga harum manis, mangga cengkir mudah didapat dengan harga murah. Tak lama setelah musim mangga, musim durian datang. Ya Tanjung Balai Karimun terkenal dengan durian dengan kualitas yang baik. Di bulan Ramadan, kami kerap makan durian sebagai camilan buka puasa. Bahkan mess pernah dikirimin sekarung durian oleh rekan kerja karena memiliki kebun durian. Duh nikmat sekali. Setelah durian habis musimnya, datang pula musim rambutan. Rambutan mudah didapat karena di pinggir jalan banyak sekali pohon rambutan di tanam. Jadi tidak sulit di Tanjung Balai Karimun mencari buah-buahan segar.

4.    Warganya yang ramah

Ah ketika aku menyelesaikan tugas di sana, beratt loh rasanya meninggalkan Tanjung Balai Karimun. Karena warganya ramah dan rasa kekeluargaannya tinggi. Aku serasa punya keluarga baru dan punya ikatan emosional bersama teman-teman di sana. Bang Udin yang pertama kali menjemputku di pelabuhan ketika datang, dia juga yang tetap ingin mengantarkanku ketika aku pulang. Ketika aku datang berkunjung kembali 1,5tahun kemudian, Bang Udin juga masih setia menjemputku di pelabuhan. Ah Bang Udin dan keluarganya sangat baik. Selain Bang Udin, ada Bang Ridwan juga yang selalu membantuku selama tinggal di sana. Ada Non Hepri, Okta, Dolfa, Jesika, Wita yang merupakan warga Tanjung Balai Karimun. 

5.    Laut yang mudah dijumpai

Namanya juga pulau, tentu saja dikelilingi oleh laut. Pantai-pantai di Tanjung Balai Karimun memang bukan tipikal pantai berombak, dan bergelombang. Pantainya juga biasa-biasa saja. Bukan seperti pantai-pantai cantik yang biasa aku temui. Namun tetap saja sebagai anak pulau, aku merindukan suasana pinggir Pantai Pongkar, Pelawan, Gloria, bahkan Teluk Paku yang berada di belakang kantorku dulu. Setiap minggu, eh bahkan setiap hari aku bertemu laut selama di sana. Tentu saja jika tidak bertemu laut dalam waktu yang lama bikin sakau gitu loh.

6.    Budaya Melayu yang kental

Satu cita-citaku yang belum tercapai adalah memiliki baju khas melayu. Rasanya cantik dan anggun gitu jika punya baju kurung ini. Selain baju kurung, Tanjung Balai Karimun juga terkenal dengan Goyang Dangkong dan Malam 7 Likur. Malam 7 Likur sesuai namanya terjadi pada malam 27 Ramadan, meskipun kegiatan budaya ini sudah dimulai pada 21 Ramadan hingga malam takbiran. Pada malam ini masyarakat di Tanjung Balai Karimun bergotong royong bersama-sama membuat replika masjid yang megah dengan bahan kayu, bambu, dan kawat. Replikas masjid ini nanti dihiasi oleh lampu warna-warni yang menyemarakkan suasana lingkungan di sekitar rumah.

7.    Jajanan luar negeri yang murah

Secara geografis, letak Tanjung Balai Karimun tidak jauh dari negeri tetangga. Ya letaknya di perbatasan Malaysia dan Singapura.  Diapit dua negara ini membuat banyaknya makanan-makanan ringan hadir di berbagai minimarket dan supermarket dikota yang juga masuk kedalam zona bebas perdagangan ini. Aneka coklat, biskuit, roti, dan camilan lainnya sangat mudah untuk ditemukan dengan harga yang bersahabat di dompet. Bahkan di sana pernah kejadian langka jajanan yang biasa ditemukan di toko-toko khas Indonesia yaitu Chiki dan Chitato loh.

Itulah berbagai kerinduanku pada Tanjung Balai Karimun, jika corona udah pergi, jika ada kunjungan ke Batam, aku akan sempatkan juga mampir ke Tanjung Balai lagi.

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...