Menjadi Anak Desa Dengan Segala Cerita Yang Dimiliki


I want to turn the clock back to when people lived in small villages and took care of each other –Pete Seeger

Siapa yang dari kecil kalau liburan sekolah selalu ke rumah nenek di desa? Yak, aku adalah salah satunya. Setiap liburan sekolah catur wulan, ibuku selalu menghadiahi kami untuk liburan ke rumah nenek di Lubuk Basung, Kab. Agam , Sumatra Barat. Agenda liburan ini selalu menyenangkan karena rutenya selain ke Lubuk Basung, pasti juga akan ke Maninjau, Bukittinggi, Padang dan Pekanbaru. Wah road trip dari Jambi hingga Pekanbaru.

Nah ngomong-ngomong tinggal di desa, sudah empat bulan berlalu sejak aku pindah ke desa. Cihuii sekarang aku anak desa gitu loh. Ya sekarang aku tinggal di Desa Pisang, Kec. Penengahan, Lampung Selatan. Tinggal di kaki gunung sekaligus dekat dengan laut ini membuat cuaca di siang hari agak panas, dan malam hari cukup sejuk dengan kisaran 25- 25 derajat celcius.

Bukan pengalaman pertama tinggal di kota kecil,  dulu aku tinggal di Tanjung Balai Karimun, salah satu kabupaten di Prov. Kepulauan Riau. Namun Tanjung Balai Karimun terletak di Pulau Karimun Besar, jarak tempuh dari Batam 1,5 jam dengan menggunakan kapal.



Nah di tulisan ini mau bercerita tentang suka duka tinggal di desa pisang ini:

Tinggal di pinggir jalan raya trans sumatra

Saat ini lokasi tinggalku di sebuah asrama yang letaknya di pinggir jalan raya trans sumatra, 10 menit saja dari Pelabuhan Bakauheni. Sebenarnya lokasi tinggalku ini sangat strategis, dilewati oleh bus-bus penumpang berbagai tujuan seperti Palembang, Jambi, Padang hingga Medan. Ada angkutan desa juga yang bersiap mengantarkan kita ke Kalianda, ibu kota kabupaten yang jaraknya 18 km dari tempatku. Namun sejak corona, kehadiran angkot adalah sesuatu yang sangat langka. Jadi jika bepergian ke Kalianda,  aku harus menggunakan mobil kantor untuk memudahkan moda transportasi.

Peta Jalan Raya Trans Sumatra


Dekat dengan laut

Tinggal di desa pisang ini tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni, hanya 15 menit saja berkendara. Namun jika ingin ke pantai yang bagus, tujuannya adalah Desa Kunjir Kec. Rajabasa. Jarak tempuh dari tempat tinggalku adalah 40 menit berkendara. Sepanjang pesisir kecamatan Rajabasa, banyak sekali pantai-pantai yang bisa didatangi seperti Kunjir, Canti, Banding, Wartawan dan yang lainnya. Ada spot untuk menunggu sunset juga loh, namanya Cafe Al Gastru letaknya dipinggir laut dan langsung bisa berhadapan dengan senja. Ah cakep sekali jika dipoto.

Al Gastru Cafe

Ini juga sama dengan ketika aku tinggal di Tanjung Balai Karimun, karena memang pulau, jadi dikelilingi oleh lautan. Aku saja bekerja di pinggir laut, sehingga halaman belakang kantor itu lautan yang dikenal dengan Pantai Teluk Paku. Ya jaraknya dari site office sekitar 200 meter. Selain laut belakang kantor, beberapa kali aku berkesempatan mengunjungi Pantai Pelawan, Pongkor, dan Gloria. Pantai-pantai di Tanjung Balai Karimun adalah tipikal tidak berombak besar, karena bagian dari tanjung.

Meninggalkan segala fasilitas metropolitan

Tinggal di ibu kota negara bertahun-tahun membuat sarana transportasi menjadi mudah. Aku terbiasa dengan ojek daring yang mengantarkan sampai depan rumah, angkot hingga depan komplek, bus Trans Jakarta yang bisa mengantarkan ke berbagai tempat dengan harga terjangkau, hingga MRT untuk menjelajah dengan cepat dan tepat waktu.

Sementara itu, tinggal di Desa Pisang ini sebenarnya sarana transportasi juga mudah sebelum corona tiba. Setelah pandemi corona menyerang bumi, angkuta desa sulit ditemukan. Sehingga sarana transportasi ke Kalianda menjadi sulit. Aku terpaksa mengandalkan teman, atau mobil dinas kantor jika ada keperluan.

Dengan kondisi tinggal di desa ini tentu saja tidak ada mall, dan bioskop di sini. Sama seperti ketika aku tinggal di Tanjung Balai Karimun dulu. Kalau mau ke mall atau bioskop ya mesti nyeberang pulau ke Batam. Di Tanjung Balai ada supermarket lokal yang lengkap bernama Padi Mas , Indo A. Yani, dan Indo PN untuk belanja segala keperluan bulanan. Sementara di sini jika berbelanja harus ke Indomaret, dan Alfamart. Ada sih mini market lokal di ibukota kabupaten dengan harga yang bersahabat dibanding Alfa/Indo, namun barang-barangnya kurang lengkap. 

Sehingga jika ingin berbelanja lebih lengkap, menyambi sekalian ke Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi. Di ibu kota provinsi kemarin sekalian membeli perlengkapan kantor, sekalian berbelanja juga toh satu tempat ini. Sehingga menjadi lebih efektif dan lebih efisien.

Udara yang bersih dan sehat

Tinggal di desa, apalagi di kaki gunung membuat hidupku merasa sehat. Pagi-pagi sinar matahari sudah masuk kamarku, dan udara segar masuk ke ruangan dengan bebas. Sementara jika di Jakarta, polusi pagi-pagi sudah mengusik kehidupan kita. Lalu lalang kendaraan di jalan raya yang tak jauh dari tempat tinggalku menghasilkan polusi.

Tidak hanya udara yang bersih dan sehat, namun tinggal di desa dengan hutan, sawah, kebun yang ditumbuhi berbagai tanaman. Membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih tenang dan segar loh. Di ibu kota  jarang sekali melihat yang hijau-hijau di sekitar.

Jadi inilah pengalamanku selama hidup empat bulan di sebuah desa di ujung Pulau Sumatra.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...