Perjalanan Akhir Pekan 3D2N Ke Sukabumi bagian Selatan #throwback

 

“Ke Ujung Genteng yuks” ujar seorang teman di Grup Jalan-jalan

“Hayuu” ujarku disambut hayu lainnya dari yang lain

“Oke nanti dicarikan open tripnya, minimal 10 orang bisa private trip. Ayo bikin listnya” kata temanku

Pada tahun 2017, seorang teman yang masuk dalam genk jalan-jalan mengajak untuk menjelajah Kabupaten Sukabumi bagian selatan seperti Curug Cikaso, Pantai Ujung Genteng, hingga Geopark Ciletuh. Rute perjalanan ini kami percayakan kepada salah satu vendor yang dicarikan oleh temanku. Pada akhirnya, kami berhasil mengumpulkan teman-teman berjumlah 9 orang, dan bisa mengikuti private trip. Meeting point dilaksanakan di Food Court Plaza Semanggi Pukul 21.00 WIB. Aku masih sempat menemani seorang temanku yang datang dari Batam yang ada kegiatan di Kota Tua. Untung ada busway dari Kota Tua – Blok M dan aku bisa turun di Halte Benhil. Kota Tua – Halte Benhil juga bersahabat kurang lebih 35 menit saja.

Sudah lengkap kami bersembilan hadir, dan siap berlibur akhir pekan bersama. Di Food Court Plaza Semanggi kami membeli makanan ringan terlebih dahulu untuk pengisi perut agar nanti tidak kelaparan di jalan. Lama juga kami menunggu jemputan dari travel, jam 23.00 WIB travel datang untuk menjemput kami. Perjalanan dijadwalkan memakan waktu tempuh selama 7 jam, sehingga jam 6 pagi dijadwalkan kami sudah tiba di Curug Cikaso sebagai tujuan pertama.

Melihat Pelangi di Curug Cikaso

Jam 6 pagi aku dibangunkan setelah berjam-jam sepertinya aku tidur. Yang kuingat semalam masih macet dan tiba-tiba sudah sampai saja di suatu tempat. Perlahan ku membuka mata dan terlihat sebuah warung sederhana, dan banyak pepohonan di sekitarnya. Aku dan teman-temanku memesan nasi uduk, teh hangat, dan beberapa gorengan sebagai sarapan pagi. Ya wisata akhir pekan akan dimulai dipagi ini, dan ini adalah tempat memulai perjalanan.

Pagi hari di Curug Cikaso

Ternyata menuju Curug Cikaso ada dua cara, cara pertama berjalan kaki sekitar 500 meter, dan yang kedua yaitu naik boat selama 5 menit saja. Kami memilih naik boat saja, secara kami semua malas jalan kaki. Ku berjalan sekalian membawa baju ganti, peralatan mandi, dan haduk. Main ke curug tentu saja akan basah-basahan.

Curug Cikaso ini terdiri dari tiga air terjun yang memancarkan air segar dari pegunungan, dikarenakan sehari sebelumnya hujan deras, pagi itu air curug sedikit keruh. Namun tidak menyurutkan kami untuk mandi dan bermain air pagi itu. Seru sekali kami bermain air, dan mandi di curug keren ini. Tak sengaja kami melihat pelangi loh di sekitar curug, dan langsung berpose mengabadikan momen tersebut.

Secara geografis, Curug Cikaso terletak di Desa Ciniti Kec. Cibitung Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat. 

Berguling-guling di rumput Tanah Lot ala Sukabumi

Setelah beres kunjungan ke Curug Cikaso kami melanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng, namun sebelum tiba di tujuan akhir kendaraan melipir sebentar ke sebuah villa yang di dekat lautnya menyerupai Tanah Lot di Bali, sehingga namanya Tanah Lot Amanda Ratu Sukabumi.

Tempat ini merupakan satu komplek villa dengan kolam renang di dalamnya. Tidak jauh dari villa, terhampar rumput hijau nan luas dan menghadap ke laut. Senang sekali bisa duduk dan guling-guling di sini loh. Ko Iwan bahkan dengan berani menuruni bawah tebing yang curam menghadap ke laut, aku deg-degan melihatnya. Lautan yang indah di depan mata memang hanya cocok untuk dipandang dan sebagai lokasi poto saja. Karena di sekitarnya tidak ada pantai landai yang berpasir tempat kita bermain ombak.

Guling-guling di Tanah Lot Amanda Ratu

Setelah puas jepret sana sini, dan poto-poto di rumput hijau kami langsung cuss ke Ujung Genteng yang jaraknya kurang lebih 8,5 km dari sini.

Homestay sederhana di pinggir Pantai Ujung Genteng

Akhirnya sebelum jam 12 siang kami tiba di penginapan kami di depan Pantai Ujung Genteng, penginapan sederhana ini terdiri dari 2 kamar untuk pria, dan satu kamar untuk wanita. Setelah rebahan sebentar menghilangkan lelah, kami dihidangkan makanan sederhana namun nikmat. Ikan bakar, ikan goreng, nasi hangat, lalapan, dan sambal terasi adalah menu makan siang kami saat itu. Aku tentu saja satu kamar bersama Nadia, Mitta dan Mba Achiet. Bang Ben bersama Mas Adit, serta satu kamar lagi adalah Ko Iwan, Uda Arief dan Mas Wisnu.

Cuaca yang panas tidak menyurutkan Mas Wisnu untuk memasang hammock di bawah pohon, sembari bercanda aku katakan saja “ tuh hammocknya ga sobek nanti mas, atau pohonnya gak roboh apa?” Dia menjawab “ tentu tidak pitliii

Menjelang sore tiba, agenda kami siang itu adalah rebahan, leyeh-leyeh, dan mendengarkan debur ombak dari kamar yang menghadap langsung ke Pantai Ujung Genteng

Mendung menggelayut di Pantai Pangumbahan

Sore hari kami dijadwalkan untuk melihat senja di Pantai Pangumbahan yang terkenal sebagai area konservasi penyu. Di pantai ini akan ada pelepasan tukik, sehingga kami semangat sekali bisa melihat moment langka ini. Penyu akan bertelur setiap hari di area konservasi ini yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam dari penginapan kami.

Sore itu langit mendung dan gerimis tidak menyurutkan kesenangan kami menuju Pantai Pangumbahan, walaupun tau kami tidak akan melihat sunset. Namun bisa melihat ratusan tukik dilepas ke laut adalah kebahagiaan tersendiri.

Ujung Genteng Beach yang biru

Langit gelap gulita, deru ombak saling bersahut-sahutan bunyinya ketika menghempas daratan, mas wisnu, dan uda arief berjalan terus menyusuri pantai pasir putih ini. Ah ku tak berani lanjut menyusul mereka karena langit semakin pekat gelapnya. Ku putuskan kembali ke tempat kami semula, melihat tukik-tukik berlarian mencapat air laut. Menatap laut bersama-sama koid, dan mitta, seolah-olah ada masa depan di sana #eaaaa

Tragedy hujan deras, dan kamar bocor

Hujan terus saja mengguyur bumi hingga malam hari. Kami tiba di penginapan kembali pukul 19.00 Wib. Setelah menunaikan maghrib, dan mandi, kami disambut dengan makanan lezat kembali. Kali ini seafood lengkap dengan sambal jahe yang hangat dan pedas. Hujan semakin deras membelah malam di Sukabumi. Namun tak menyurutkah langkah para cowo-cowo, mitta, nadia, dan mba achiet bermain kartu hingga larut malam tiba. Sementara aku memilih untuk rebahan saja di kasur.

Kehebohan tengah malam terjadi dikarenakan kamar Bang Ben dan Mas Adit bocor karena hujan. Banyak baju-baju yang basah. Di kamarku kehebohan terjadi menjelang subuh, Uni Mitta yang tidur di lantai matanya kena air hujan yang tiba-tiba saja datang. Ternyata kamar kami juga bocor dong. Langsung heboh deh subuh hari.

Trekking menuju Curug Luhur Cigangsa

Setelah check out dari penginapan, dan photo di depan pantai Ujung Genteng, petualangan seru kami berikutnya yaitu mengunjungi Curug Cigangsa. Dibutuhkan dua jam waktu tempuh menuju Desa Surade, lokasi Curug Cigangsa ini. Dari area parkir, kami trekking di  jalur tanjakan, dan turunan dengan pemandangan sawah cantik di kanan dan kiri jalan. Walau lelah, dan jauh, kami bergandengan tangan dan saling membantu karena medan trekkingnya lumayan berat loh.

Setelah trekking selama 30 menit, tiba juga di curug keren dan kece ini. Air segar namun coklat sisa hujan deras semalam menyambut kedatangan kami. Main air, lompat ke sana kemari tanpa takut kepleset, itulah yang kami lakukan. Tak lupa juga dong poto sana sini, cowo-cowo sih naik ke bagian curug tertinggi, dan uni mitta berteriak, karena ada ular air terlihat di salah satu pojokan curug. Kaget dong yaa. Sementara aku main air cantik saja dan dipoto candid sama Bang Ben.

Curug Luhur Cigangsa yang cantik

Curug Luhur Cigangsa yang menawarkan kesegaran udara, ketenangan, dan adrenalin yang menantang ini berat juga ketika ditinggalkan. Nah pe er berikutnya adalah trekking lagi menuju area parkir mobil. Ku udah lelah berjalan pelan-pelan tanpa tenaga. Uni Mitta, udah ditarik-tarik jalannya sam Ko Iwan dan Mas Adit. Mas Wisnu, Bang Ben, Kak Achiet juga udah ngos-ngosan. Kak Nadia yang terus-terusan menyemangati kami.

Kelaparan di Geopark Ciletuh

Petualangan kami berlanjut ke salah satu tempat yang menakjubkan di Sukabumi Selatan yaitu Geopark Ciletuh. Dengan luas 1.261 km2 dan mencakup delapan kecamatan pada bulan April 2018 ditetapkan oleh Unesco sebagai salah satu geopark yang ada di Indonesia.

Menuju Ciletuh dibutuhkan perjalanan yang berkelok-kelok dengan tikungan tajam di kanan dan kiri jalan. Namun perjalanan yang bikin kepala pusing ini terbayar dengan pemandangan yang memanjakan visual kita. Perpaduan hijaunya bukit, birunya laut, dan air terjun yang segar betul-betul membuat tidak ingin pulang dari liburan akhir pekan ini.

Hari sudah jam 12.00 Wib, namun tanda-tanda kehadiran makan siang kami belum menunjukkan hilalnya. Sementara perut kami sudah kriuk-kriuk karena cacingnya kelaparan. Kemudian kami komplain kepada penyedia jasa perjalanan ini. Jawabannya adalah ikan bakar belum matang dibakarnya. Dari pada kami marah-marah, kami memilih untuk berpose di pinggir pantai yang mengeluarkan angin sepoi-sepoi.

Berpose di depan Sign Geopark Ciletuh

Akhirnya pukul 12.45 Wib, makanan kami berupa ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya tandas dalam waktu tidak lama. Lapar berat memang, ditutup dengan segelas es teh manis sebagai penghilang dahaga.

Geopark Ciletuh adalah tempat pamungkas petualangan seru kami selama tiga hari dua malam ini. Semoga corona cepat pergi sehingga kita bisa berwisata kembali.

 

 

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...