ALF

Selamat Hari Relawan Internasional 2020 : Suka Duka Menjadi Relawan!


“If our hopes of building a better and safer world are to become more than wishful thinking, we will need the engagement of volunteers more than ever.” — Kofi Annan

Hari Relawan Internasional tahun ini sangat berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ketika pandemi corona menyerang semua sendi kehidupan, kegiatan kerelawanan pun tidak bisa dilakukan secara langsung atau turun ke lapangan. Beberapa kegiatan kerelawanan ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan, dan ada juga yang dilakukan secara daring. Walaupun kurang afdol sebenarnya, namun dalam segala keterbatasan ini banyak hal yang mesti disyukuri ketika bisa mengadakan kegiatan sosial.

Suka duka menjadi relawan

Kegiatan kerelawananku pertama kali pada tahun 2014. Saat itu aku terpilih menjadi Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Bandung II. Aku mengajar dan berbagi kisah mengenai profesiku saat itu sebagai Marketing Communication di SDN Pasirkaliki 96/3 Bandung. Pengalaman menjadi relawan sangat berkesan, namun setelahnya aku pindah ke Tanjung Balai Karimun. Hampir setahun di sana aku vakum dengan kegiatan menjadi relawan. Dengan jadwal kerjaku yang padat dari Senin – Sabtu, dari pukul 06.00 – 18.00 WIB, rasanya mustahil aku mengikuti berbagai kegiatan menjadi relawan di pulau yang dekat dengan Singapura itu.

Setelah bekerja di Jakarta, awal 2015 aku mulai kegiatan relawan kembali. Semangat menyala-nyala itu terus ada di dalam dada. Dengan aktifnya aku bepergian ke berbagai tempat untuk mengajar, atau beraktifitas, banyak orang yang bertanya mengenai jumlah uang yang aku dapatkan. Aku mengatakan itu adalah kegiatan sosial dan aku aktif menjadi relawan. Banyak diantara teman-temanku yang meremehkan dan mengatakan buang-buang uang, waktu, dan energi saja. Hidup di Jakarta mahal dan banyak kebutuhan.

Bersama rekan-rekan di Komunitas BISA
Bersama rekan-rekan di Komunitas BISA

Namun aku tidak menyerah, seiring banyaknya komunitas yang aku ikuti, setiap akhir pekan ada saja kegiatan sosial yang aku ikuti. Semakin banyak pengalaman relawan yang aku dapatkan saat itu. Jadi tahun 2015 itu selain menjadi relawan di bidang pendidikan bersama Kelas Inspirasi, Komunitas APHALI Sosial dan Komunitas BISA, aku juga menjadi relawan untuk Asean Literary Festival dan Makassar International Writer Festival. Di Asean Literary Festival aku menjadi bagian dari divisi acara, dan di Makassar International Writer Festival aku menjadi bagian dari divisi media relations.

Berbagai pengalaman aku dapatkan dengan menjadi relawan, selain itu aku menambah jumlah orang-orang baru yang menjadi teman-temanku, serta menjelajah banyak tempat baru yang aku belum pernah datangi sebelumnya. Contohnya, aku beberapa kali ke Makassar dan belum pernah mengunjungi Pulau Lae-lae yang letaknya tidak jauh dari Dermaga Popsa. Nah ketika menjadi relawan di Makassar International Writer Festival, aku ditugaskan untuk meliput kegiatan yang diadakan di Pulau Lae-lae. Saat itu agenda para pembicara dan sponsor adalah mengunjungi  bank sampah, dan sekolah yang ada di pulau kecil tersebut. Sangat menyenangkan sekali.

Mengenal Kepri lebih dekat dengan menjadi relawan bidang pariwisata

Tahun 2017, aku diajak seorang rekan untuk masuk ke komunitas Generasi Pesona Indonesia Kepulauan Riau [Genpi Kepri]. Komunitas ini bergerak dalam bidang pariwisata yang bertujuan untuk mempromosikan daerah tujuan wisata di Kepulauan Riau. Aku mengenal secara daring teman-teman di grup, hingga akhirnya berjumpa di Batam dan melaksanakan berbagai kegiatan bersama. Aku ingat kegiatan pertamaku saat itu adalah meliput kegiatan bersepeda di Turi Beach Resort bersama Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Bapak Boeralimar. Kegiatan-kegiatan selanjutnya adalah bimbingan teknis kepariwisataan Kepri, dan Famtrip Ke Pulau Benan.

Kegiatan menjadi relawan dalam bidang pariwisata membawaku mengenal lebih dekat pariwisata di Kepulauan Riau, baik itu daerah tujuan, komunitas, strategi, kekuatan dan yang lainnya. Karena hal ini pula aku mengenal baik rekan-rekan di balik akun sosial media pariwisata Kepulauan Riau, dengan networking yang baik ini membawaku melanglang buana menyicipi mevvwahnya resort-resort di Batam dan Bintan secara gratis.

Menapaki Taman Nasional Ujung Kulon dan Pantai Kunjir

Tidak pernah terpikir dan terlintas dalam pikiranku untuk mendatangi Taman Nasional Ujung Kulon, tempat bermukimnya badak bercula satu. Dengan menjadi relawan Komunitas ACFH aku berkesempatan menjelajah secimit area Taman Nasional Ujung Kulon. Saat itu komunitas yang dikomandani oleh Mas Anton mengadakan kegiatan distribusi bantuan korban Tsunami Gunung Krakatau di awal 2019. Nah dengan teman-teman baru saja aku kenal, kami memulai kegiatan dari Cilegon selama dua hari satu malam. Ini menjadi kenangan tersendiri bagiku loh.

Tidak hanya Taman Nasional Ujung Kulon, sebulan setelah kejadian tsunami tersebut, aku juga mendatangi area Pantai Kunjir yang terletak di Kec. Rajabasa – Lampung Selatan masih bersama teman-teman dari ACFH. Siapa sangka sekarang Pantai Kunjir menjadi tempat yang sering aku datangi. Ah hidup memang tidak bisa ditebak kemana jalannya. Yang jelas, sekarang area Pantai Kunjir sudah berbenah dan cantik kembali.

Menjadi Relawan di Tahun 2020

Tahun ini, sebelum pandemi aku masih berpartisipasi sebagai relawan di dua kegiatan yang berbeda. Bersama Komunitas IHRI setiap dua minggu berkunjung ke YPAB Bintaro dan Tanah Abang untuk bertemu adik-adik yang sedang menempuh pendidikan Paket B dan Paket C. Lewat kegiatan bertemakan Kelas Inspirasi, dari komunitas organisasi profesional Human Resources ini kami berbagi pengalaman mengenai pengembangan diri. Kegiatan lapangan terhenti disaat pandemi mulai melanda Indonesia di awal Maret.

Nah di tahun ajaran baru, kegiatan dimulai lagi dengan metode daring yaitu menggunakan media zoom meeting. Walaupun terasa kurang maksimal, dan hanya memiliki waktu satu jam saja, namun kegiatan ini berlangsung seru loh. Setidaknya bisa mensyukuri, di masa sulit ini kita masih punya kepedulian terhadap pendidikan.

Selain berbagi cerita untuk siswa dan siswi, lewat Komunitas GA Circle, aku terlibat dalam kegiatan Kelas Pendidik Kreatif. Konsep yang mirip dengan Ruang Berbagi Ilmu ini menitikberatkan sasaran guru sebagai peserta. Relawan narasumber hadir membekali bapak dan ibu guru dengan berbagai materi seperti Disiplin Positif, Pendidik Kreatif dan Materi Belajar Kreatif. Kegiatan ini berpusat di kantor Garuda Indonesia kawasan Bandara Soekarno Hatta. Sebelum cacar menyerangku 3 hari sebelum hari H, aku rajin sekali setiap dua minggu datang ke Garuda City Center dan tidak pernah absen. Sedih banget ketika hari pelaksanaan malah gagal hadir. Untuk kegiatan Kelas Pendidik Kreatif Jilid 1 ini aku menjadi tim hura-hura di divisi acara.

Sesi micro teaching relawan narasumber di KPK 1
Sesi micro teaching relawan narasumber di KPK 1

Pada bulan September 2020 kemarin, alhamdulillah terlaksana Kelas Pendidik Kreatif jilid 2 yang dilakukan secara daring. Kali ini aku masuk ke divisi konten, yang bertugas menyiapkan seluruh bahan dan materi para relawan narasumber. Dengan metode daring, berbagai rapat persiapan kami siapkan dari bulan Juli 2020, sebelum kepindahanku ke Kalianda. Empat sesi kegiatan selama empat minggu berturut-turut alhamdulilah berjalan dengan baik dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Pelaksanaan Kegiatan KPK 2 dilakukan secara daring
Pelaksanaan Kegiatan KPK 2 dilakukan secara daring

Mudah-mudah pandemi segera berakhir sehingga bisa turun ke lapangan lagi dan mengadakan kegiatan sosial ya. Sekali lagi Selamat Hari Relawan Internasional!

 

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...