Pantai Kedu Warna : Nuansa Bali di Pesisir Kalianda

 


Suatu sore yang berawan, mendung tidak, terikpun tidak

“Ke pantai yuks” ujarku kepada temanku

“Hayu, mo kemana mba” katanya

“Penasaran dengan Kedu Warna yang belakangan hits itu loh” kataku

“Boleh-boleh” kata temanku

 

Siang jelang sore itu kami sedang membelah jalan raya Kalianda karena ada keperluan. Aku jarang sekali biasanya mau ke tempat yang sedang hits atau ramai dikunjungi banyak orang. Namun aku rasa karena masa libur telah usai, Pantai Kedu Warna menurutku tidak terlalu ramai. Namun aku salah pemirsaaa, baru saja tiba di pintu masuk, jajaran mobil parkir dengan rapi yang jika dihitung lebih dari 20 buah mobil. Namun karena udah terlanjur sampai, ya sudahlah ya masuk saja. Karena kami datang bertiga dengan kendaraan mobil Avanza, maka kami wajib membayar tiket masuk pantai seharga Rp. 35.000 (untuk tiga orang termasuk parkir mobil).



Pantai Kedu Warna ini letaknya 2 KM dari pusat Kota Kalianda, sebetulnya letaknya bersebelahan saja dengan Pantai Kedu. Yang menarik dari pantai yang sedang viral ini adalah nuansa Bali yang hadir di pantai ini selama dua minggu terakhir. Setelah masuk dari pintu pembayaran tiket, kita berjalan kurang lebih 100 meter menuju area pantai. Di kira kanan jalan, terdapat saung-saung dari bambu yang dihias sebagai tempat berpoto. Di sebelah kiri berdiri dengan kokoh Gunung Rajabasa, kebanggaan Lampung Selatan.

Lampu cantik yang menemani sore di Kedu Warna
Lampu cantik yang menemani sore di Kedu Warna


Live music sebagai sarana hiburan

Ketika aku dan teman-temanku datang, sebelum bibir pantai terdapat seperangkat alat musik dan seorang penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits. Pantai ini menyediakan hiburan live music untuk memeriahkan suasana sore itu. Selain live music, bean bag warna-warni juga menghiasi pantai berpasir putih ini. Bean bag dengan warna merah, kuning, hijau, oranye dan lainnya ini sangat cantik ketika aku mengcapture poto. Namun aku memutuskan untuk tidak menggunakan bean bag tersebut dikarenakan sebelumnya digunakan oleh orang lain dan menjaga jarak. Di atas bean bag, lampu-lampu tergantung dan akan dinyalakan ketika sore jelang senja tiba. Ah benar-benar suasananya seperti pantai-pantai di Bali. Tidak ketinggalan dengan payung-payung ala Bali gitu loh.

Aneka warna bean bag di Kedu Warna
Aneka warna bean bag di Kedu Warna


Main Ayunan di depan pantai

Selain main pasir, dan ombak, sore itu tak ketinggalan aku dan temanku main ayunan. Terdapat dua ayunan kayu yang langsung berhadapan dengan laut. Rasanya indah sekali main ayunan dengan pemandangan pasir putih, laut biru, langit berawan, dan pulau kecil yang ada di seberang lautan. Di samping kami ada sekelompok ibu-ibu dari Komunitas Jantung Sehat bersiap untuk senam kebugaran sore hari yang syahdu itu. Ibu-ibu dengan penuh semangat bergerak sesuai dengan gerakan yang dicontohkan oleh instrukturnya di barisan terdepan. Dengan dress code baju merah dan celana olahraga hitam ibu-ibu bergerak dinamis sesuai dengan musik yang mengalun dari speaker tidak jauh dari ayunan tempatku bermain.

Fasilitas yang ada di Pantai Kedu Warna

Selain live music, pantai dengan deburan ombak yang kece ini dilengkapi juga dengan pondokan untuk berteduh dan bersantai. Tong sampah besar tersebar di berbagai tempat agar kita bisa membuang sampah pada tempatnya. Yang tidak kalah penting ada mesjid dan toilet yang bersih loh untuk pengunjung beribadah. Sore itu setelah puas bermain ombak, dan main ayunan, sebelum pulang aku dan teman-teman menunaikan salat ashar di masjid yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Mesjid ini dilengkapi juga dengan sarung, mukena, dan al quran. Yang kurang menurutku adalah tidak ada tempat yang menjual makanan dan minuman ringan di sekitar pantai ini. Bahkan tidak ada yang menjual kelapa muda seperti di Pantai Kedu tetangganya. Kurang afdol gitu jika ke pantai tidak meneguk kelapa muda segar.

Jadi itulah cerita dan pengalamanku datang untuk bersantai di Pantai Kedu Warna, mari pembaca main ke pantai dan jaga kebersihannya ya.

 

 

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...