Inilah Tujuh Alasan Harus Menapaki Turki Sebagai Tujuan Perjalanan


If the earth were single state, istanbul would be its capital – Napoleon Bonaparte

Aku tidak pernah punya impian ke Turki sebelumnya, karena sudah bersemayam di hati ingin ke Maroko. Sampai suatu hari seorang teman memberikan oleh-oleh dua buah scarf hasil lawatannya dua minggu ke Turki. Scarf lembut bertekstur licin itu bergambarkan Jembatan Fatih yang terkenal, jembatan yang di bawahnya terhampar birunya Selat Bosphorus. Saat itu hanya bergumam “suatu hari nanti harus datang ke Turki”.

Ketika aku menguatkan tekad untuk pergi umroh, biro umroh yang aku datangi menawarkan harga paket promo plus Turki selama tiga hari. Duh harganya promo pula, rasanya sayang ya untuk dilewatkan. Aku butuh beberapa hari untuk menimbang-nimbang, tidak hanya soal kecukupan uang, namun juga waktu 12 hari untukku meninggalkan kantor. Setelah berpikir matang-matang, akhirnya kuputuskan jadi mengambil paket promo umroh plus Turki dengan total perjalanan 12 hari. Sudah kupikirkan juga insha allah aku bisa melunasi semuanya di H-60.

Tidak terbayang akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di negeri bekas kesultanan yang pada zamannya merupakan kesultanan terbesar di dunia. Tiga hari ternyata tidak cukup untuk merengkuh semua keindahan negara yang dipimpin oleh seorang muslim taat bernama Recep Erdogan ini.



Namun sebagai seorang pejalan, aku punya tujuh alasan menapaki Turki sebagai tujuan perjalanan

1.    Letak yang strategis

Sebagai negara Eurasia yang letaknya bersilangan antara benua Asia, dan benua Eropa, letak Turki sangat strategis. Ibukota Ankara yang terletak di Benua Asia, namun kota terbesarnya adalah Istanbul yang merupakan bagian dari Benua Eropa. Dari negeri kita menuju ke Istanbul bukan suatu hal yang sulit, beragam maskapai hadir dengan keberangkatan langsung maupun transit. Pembaca bisa naik pesawat Turkish Air, Saudia, Emirates, Etihad, Qatar Airways dan maskapai premium lainnya. Perjalanan ditempuh dalam waktu 12 – 13 jam dari Bandara Internasional Soekarno Hatta jika itu merupakan perjalanan langsung. Jika perjalanan transit tentu lebih dari 13 jam, tergantu maskapai mana yang dipilih. Ketika menuju Istanbul, aku menggunakan maskapai Saudia dengan transit di Jeddah selama kurang lebih 4 jam.

 

Bosphorus yang strategis di antara dua benua
Bosphorus yang strategis di antara dua benua

2.    Pusat peradaban dunia di masa lampau

Istanbul memiliki peradaban dan kekayaan sejarah masa lampau. Di kota ini kita bisa belajar banyak hal. Istanbul adalah Konstantinopel dizaman dahulu, selain itu di Turki juga terdapat Kekaisaran Bizantium. Kekaisaran Romawi runtuh setelah Kesultanan Ottoman menyerang Konstatinopel tahun 1453. Semua peradaban dan cerita ini bisa kita temui jejaknya di Istana Top Kapi. Di Istanbul kita tidak hanya belajar Islam di masa lampau, dan masa kini, namun juga belajar agam lain di masa lampau. Dimana saksi bisu berupa bangunan-bangunan indah tersebar di pusat kota, sebut saja Masjid Biru, Hagia Sophia, Basilica Cistern, Hagia Irene dan lainnya. Di Kusadasi pembaca bisa mengagumi banyak tempat sisa-sisa peninggalan Kekaisaran Romawi. Jadi siapkan kamera anda dengan kapasitas memori yang cukup ya.

Istana Top Kapi
Istana Top Kapi

3.    Alam yang indah

Sebagai negara empat musim yang memiliki alam yang indah, Turki adalah negara favorit tujuan wisatawan. Di sebelah barat terbentang pantai-pantai cantik yang berbatasan dengan Yunani. Turki juga dikarunia dengan sebuah daerah berpahatkan batu-batu alami dalam bentuk tebing dan lembah yang bernama Cappadocia. Tempat indah ini akan lebih sempurna ketika kita mengambil paket wisata menaiki Hot Air Balloon yang terkenal itu. Melayang-layang selama satu jam di Cappadocia membuat kita selalu beryukur dengan apa yang diciptakan Allah Swt. Turki juga memiliki Gunung Uludag yang akan bersalju selama rentang waktu 4 bulan dari bulan Desember hingga April, atau dari sejak masuk musim dingin hingga datangnya musim semi. Gunung Uludag terletak di Bursa, dan bisa ditempuh dalam 2,5 jam perjalanan.

 

Salju di Gunung Uludag
Salju di Gunung Uludag

4.    Kaya akan budaya

Siapa yang tak mengenal Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi asal Turki yang namanya sangat masyur sampai ke ujung negeri. Jika kita datang ke Konya, kita bisa melihat pertunjukan sufi yang terkenal itu, pasti sungguh berkesan. Selain itu, budaya minum teh di Turki pada pagi hari adalah hal yang menyenangkan juga loh Budaya Turki sangat kaya dikarenakan terjadinya percampuran budaya Barat dan Timur sehingga menghasilkan keanekaragaman baik di Turki yg menjadi dataran Eropa, maupun Turki yang menjadi bagian dataran Asia.

 

Credit photo : tribunnews.com


5.   
Surga Belanja

Turki terkenal sebagai penghasil karpet dengan kualitas terbaik di dunia. Banyak orang datang ke negeri keren ini untuk membeli karpet dengan corak dan warna khas. Walaupun harganya selangit, karpet dari Turki sangat diminati. Terbukti ketika teman-temanku datang ke Turki, para ibu-ibu memborong aneka karpet untuk mempercantik rumahnya, baik dalam bentuk karpet yang besar, ataupun sajadah karpet sebagai pelengkap ibadah. Salah satu tempat belanja tertua di Turki adalah Grand Bazaar. Pusat belanja yang berdiri sejak tahun 1455 ini menyediakan apapun yang dibutuhkan oleh para traveler, makanan, baju, rempah-rempah, parfum, dan lainnya.

Aneka rempah di Grand Bazaar
Aneka rempah di Grand Bazaar

6.    Visa no ribet-ribet club

Kunjungan ke Turki mengharuskan kita menggunakan visa. Tidak sulit mengurus visa di Turki. Visa bisa dibuat dengan cara E-Visa, visa yang diurus oleh travel agent, dan Visa on arrival. Biayanya juga masih terjangkau dibandingkan dengan negara-negara di Eropa lainnya. Sehingga gak punya alasan buat engga urus visa ya pembaca. Mudah loh!


7.    Akomodasi yang berkelas

Fasilitas akomodasi di Turki mevvah, berkelas, dan memiliki kamar luas loh. Selama tiga hari dua malam di Turki, aku menginap satu malam di Kervansaray Thermal Hotel- Bursa. Hotel yang terletak di lahan seluas 9.000 m2 memiliki fasilitas spa tradisional Turki/ hammam. Aku menempati kamar di lantai dua dengan pemandangan kolam renang di bawah, dan pohon-pohon musim semi. Suhu di luar 3 Celcius, namun kamarku memiliki penghangat ruangan, sehingga rasanya cukup nyaman, dan tidak kedinginan. Sedangkan di Istanbul, aku menginap di Pullman Convention Center. Kamarku yang luas itu terletak di lantai 10, dan hotel ini letaknya tidak jauh dari Bandara Ataturk. Jadi taip sebentar akan terdengar suara pesawat lepas landas ataupun mendarat.

Hotelku selama di Bursa
Hotelku selama di Bursa

Jadi aku masih akan datang lagi ke Turki suatu hari nanti setelah pandemi ini reda. Aku masih ingin main salju di Uludag, naik balon udara di Cappadocia, atau leyeh-leyeh di sebuah pantai berpasir putih di Antalya, dan tidak lupa ingin salat di Hagia Sophia setelah kembali menjadi masjid pada Juli 2020 lalu.


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...