Bercengkrama dan Penuh Tawa Dari Situ Cileunca Hingga Gunung Puntang

 

Setelah di tulisan sebelumnya aku menceritakan mengenai keindahan Sunrise Point Cukul yang mempesona dan membuat bahagia, kali ini lanjutan perjalanannya adalah menuju Situ Cileunca dan Gunung Puntang.


Situ Cileunca dan Jembatan Cinta

Setelah puas dari subuh melihat mentari terbit di Timur, sarapan, dan tea walk, kami sepakat melanjutkan perjalanan ke Situ Cileunca yang jaraknya 10 Km saja dari Sunrise Point Cukul. Perjalanan ditempuh dengan waktu 20 menit saja dengan kecepatan sedang. Mata sudah mulai kriyep-kriyep kembali karena ketika membuka jendela mobil, angin segar khas pegunungan menyapa pipiku.

Mentari mulai beranjak panas, ketika kami akhirnya memutuskan untuk tidak ke area Situ Cileunca dari dekat, namun mampir di warung makan pinggir jalan dekat area situ. Karena hari sudah panas, dan malas kan ya jalan kaki panas-panas. Apalagi dari parkiran mobil lumayan jauhnya. Dengan mampir ngeteh dan ngopi sejenak di warung, kamipun masih bisa melihat Situ Cileunca dari dekat sembari cerita dan tertawa. Angin sepoi-sepoi membuat ngantuk tiada terkira, bahkan aku dan Ines sempat memejamkan mata sejenak agar masih bisa kuat menembus jalan kulak kelok berkabut ini.

Situ Cileunca
Situ Cileunca Pukul 09.30 pagi

Setelah puas beristirahat, ngopi, dan ngeteh kami melanjutkan perjalanan kembali. Tujuan kami berikutnya adalah Gunung Puntang. Yayyy!

Gunung Puntang, situs sejarah di Selatan Bandung

Gunung Puntang, apa sih yang terbersit saat mendengar dua kata itu? Kalo aku yaitu stasiun radio pertama kali yang ada di Bandung pada zaman penjajahan Belanda. Ya sebagai anak Ilmu Komunikasi, ketika kuliah dahulu diberitahu bahwa letak stasiun radio pertama ada di Gunung Puntang. Dari dulu aku penasaran dengan tentang situs sejarah ini, namun aku belum punya teman yang saat itu diajak menjelajah ke Gunung Puntang.

Perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam dengan jarak 28 km dari Situ Cileunca. Cuaca sangat cerah siang itu, dan kiri kanan kami pemandangan sawah hijau terbentang memanjakan mata. Untuk masuk Gunung Puntang kita wajib membeli tiket seharga Rp. 20.000 per orang, dan Rp.10.000 untuk parkir kendaraan roda empat.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di kawasan yang secara geografis terletak di Banjaran ini. Pengunjung bisa mendaki Puncak Gunung Puntang, kemping, minum kopi, dan bermain serta berendam di aliran sungai seperti yang kami lakukan.

Setelah memarkir kendaraan, dan menuruni anak tangga yang tidak terlalu curam, terpampang aliran sungai yang deras, jernih dan bersih. Di sekitarnya terdapai berbagai gazebo yang bisa disewa untuk pengunjung. Sayang sekali semua gazebo sudah fully booked, sehingga gagal keinginan kami untuk santai siang di gazebo. Namun ternyata sisi sungai lebih menarik loh, di atas bebatuan sungai yang besar kami membentangkan tikar, dan menggelar makanan yang kami beli tadi di Pangalengan.

Makan di alam bebas, nikmat dan khidmat
Serunya bermain air bersih


Sebelum makan bersama, kami seru-seruan main air sungai, dan ternyata banyak sekali pengunjung yang memanfaatkan sungai ini untuk mandi dan berendam. Aku hanya main air saja dan berwudhu di air yang super duper segar dan bersih ini. Namun gak mau stop gitu loh pada main air semua. Walaupun makanan sudah siap disantap. Namun ternyata setelah asik bermain-main dengan air dalam waktu yang lama, laper juga loh.

Bancakan dengan banyak menu di pinggir sungai

Kang Renza udah menginstruksikan agar kami segera menyantap menu makan siang. Wah banyak menu-menu lezat yang tadi dibeli di salah satu rumah makan seperti ayam goreng serundeng, kentang balado, bihun goreng, lalapan, sambal dan gulai jengkol favorit banyak umat di Core Tim. Kami menyantap menu-menu ini dengan penuh khidmat karena nikmatnya luar biasa, dengan pemandangan yang sangat indah. Maka nikmat tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Makan di alam bebas, nikmat dan khidmat
Makan di alam bebas, nikmat dan khidmat


Masih bercerita proses membeli makanan-makanan nikmat ini yang bikin Kang Renza dan Mamih Evi darah tinggi. Karena penjualnya lama sekali pelayanannya bahkan nasi saja belum mateng pemirsa. Sehingga Kang Renza dan Mamih Evi sampai turun ke dapur memastikan siang itu kami makan dengan sambel. Jadi rasanya siang itu banyak sekali yang patut aku syukuri.

Main air udah, makan siang udah, setelahnya kami menunaikan ibadah zuhur yang dilaksanakan di tikar makan yang telah dibersihkan. Wudhunya tentu saja dengan air sungai yang mengalir bersih itu. Asli segar sekali sehingga semua rasa kantuk hilang dalam sekejap. Salat di batu dan kontur tanah naik turun ini butuh perjuangan, sujud di batu yang agak runcing bikin sakit jidat, dan duduk di batu-batuan yang bentuknya turunan juga penuh tantangan, apalagi aku menggunakan mukena parasut pinjaman dari mami evi yang bahannya memang licin. Jadi aja merosot terus kalo pas duduk. Ah antara khusyuk dan tidaklah pokoknya. Hanya allah yang tau J

Hanya mam evie yang bersedia berendam
Hanya mam evie yang bersedia berendam


Perjalanan pulang dan ngebakso enggal

Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah pukul 14.30 Wib saja ketika kami memutuskan untuk pulang. Memang belum banyak area yang dijelajah di kawasan Gunung Puntang ini. Mudah-mudahan nanti bisa ke sini lagi deh. Awan gelap menyerbu langit tiba-tiba yang menandakan sepertinya akan turun hujan. Eh benar saja, belum juga sampai parkiran mobil, gerimis besar sudah turun bebas saja dari langit sehingga kami buru-buru masuk mobil. Hujan deras mengiringi langkah deru mesin mobil meninggalkan tempat hijau ini dengan perlahan namun pasti.

Air sungai yang jernih dan bersih
Air sungai yang jernih dan bersih


Tujuan kami sore ini adalah pulang, namun rasanya masih belum ingin berpisah, sehingga candaan di mobil ada saja yang mengundang gelak tawa tanpa henti. Entah itu drama korea, oppa-oppa korea nan ganteng, dan hasil penelitian yang diungkapkan oleh Mba Dee yang gak kelar-kelar hingga pintu tol keluar Pasteur.  Semua tertawa bahagia, namun tidak lengkap jika tidak ada acara ngebakso terlebih dahulu. Setelah terjebak lampu merah 30 menit di perempatan Surya Sumantri, tiba jua kami di Bakso Enggal, salah satu tempat ngebakso favorit dari zaman dahulu kala.

Kayak de javu jadinya, tahun 2018 pulang dari Sunrise Point Cukul, aku, Kak Nad, Uni Mitta dan Om Zulman juga masuk kota Bandung hanya untuk memanjakan lidah di Bakso Enggal yang dari dulu memang sudah terkenal.  Dan tahun 2021 ini kejadian lagi peristiwa yang sama. Ahh kadang hidup itu memang penuh misteri.

Sore itu pengunjung di Bakso Enggal Cabang Pasteur cukup ramai, meja-meja panjang terisi hampir penuh. Kami segera menuju ke salah satu meja kosong yang tersedia dan segera memesan bakso yang memang disajikan prasmanan. Aku menyukai bakso ini karena kuahnya gurih, baksonya lembut, siomaynya juga enak, serta pangsit gorengnya yang crunchy, satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah rasa bakso gorengnya yang empuk dan kriuk-kriuk ketika dikunyah. Baru saja mau memulai makan bakso, hujan turun dengan derasnya mengguyur Kota Kembang. Ya Bandung+bakso+hujan+ kenangan = sempurna #ehhhh

Bakso Enggal, kesukaanku banget

Karena hujan aku memutusan untuk membatalkan menemani Mba Dee yang lagi perawatan rambut di Anata Surya Sumantri dan ikut Kang Renza pulang. Biar di istirahat dan leyeh-leyeh aja di Sariwangi. Sementara itu aku juga udah memesan satu porsi bakso untuk Mba Dee agar dia gak kelaparan sepulang dari salon. Ternyata Mba Dee gak hanya potong rambut, tapi juga creambath, dan meni pedi. Beuhh kayaknya kalo aku ke salon juga tidur ya, mending tidur di rumah kan.

Berat ketika harus memutuskan untuk cupika cupiki sama Ayu, Ines, Mami Evi, dan Teh Yani di sore yang gloomy itu. Semoga suatu hari nanti kita masih bisa menikmati perjalanan dengan rute lainnya. Jadi BM siapa lagi yang harus kita ikuti selanjutnya?

Gunung Puntang sampai jumpa lagi
Wefie di dekat sungai


You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...