Mengukur Rindu di Sunrise Point Cukul : Sebuah Perjalanan Penuh Makna


Setelah melewati tiga kali zoom meeting bersama teman-teman Core Tim Komunitas Bisa, kami memutuskan untuk mengunjungi Sunrise Point Cukul pada Sabtu, 6 Maret 2021. Berbagai persiapan menuju meeting point selalu diupdate di grup. Mulai dari rusuh aku yang mendadak diajak rapat sejam saja sebelum keberangkatanku ke Pelabuhan Bakauheni, hingga kehebohan Mba Dee yang belum sampe juga di Bandung karena temannya sering berhenti untuk tidur.



Dari Bakauheni menuju Bandung

Dengan ritme kerjaku yang sangat padat yang tadinya berencana mengambil izin satu hari dan pada kenyataannya tidak jadi memutuskan izin, butuh perjuangan untuk tiba ke Kota Bandung dari Pelabuhan Bakauheni. Cara termudah memang tinggal naik bis Damri saja dari Rumah Makan Siang Malam Kalianda, 10 Km dari tempat tinggalku. Namun bis hanya tersedia dimalam hari saja pukul 19.00, sehingga tidak cukup waktunya bila aku menggunakan bis langsung.

Cara yang kutempuh adalah ngeteng! Masya allah, ini adalah perjalanan ngeteng pertamaku dan solo trip pula. Sempat deg-degan, karena aku tau di masa covid 19 ini sangat sulit menemukan bis yang langsung berangkat menuju luar kota. Aku bismillah saja deh, semoga allah senantiasa melindungi. Langkah pertama aku memesan satu tiket kapal eksekutif seharga Rp. 65.000, dengan perjalanan singkat kurang lebih 90 menit aku bisa menjangkau Pelabuhan Merak. Namun ombak besar, dan kabut tebal membuat perjalanan terasa agak lambat.

KMP Batu Mandi yang membawaku dari Bakauheni menuju Merak

Tepat pukul 17.15 Wib ku langkahkan kaki di Pelabuhan Eksekutif Merak. Bersama seorang bapak tua yang bersedia mengantarku mencari bis ke Bandung, kami berjalan kaki beriringan. Bapak ini baru saja mengunjungi cucunya di Kalianda, sehingga dia sudah terbiasa bolak balik Bakauheni – Merak. Setelah 15 menit berjalan kaki, tibalah di jalan raya, bapak menyarankan menunggu bis di pinggir jalan, karena jika terminal pasti akan ngetem dalam waktu yang lama. Setelah beberapa bis lewat, sepertinya tidak ada bis langsung menuju Bandung, aku disarankan naik bis menuju Serang, nanti di Serang mencari bis menuju Bandung. Terima kasih bapak tua, semoga senantiasa sehat dan panjang umur.

Kemudian aku menaiki bis Primajasa Merak – Kampung Rambutan dan berhenti di Serang dengan waktu tempuh satu jam. Beberapa kali ngetem dengan waktu yang cukup lama, membuat perjalanan ini monoton. Aku kembali menenangkan diri dan bersabar. Jam 7 malam tiba di Kota Serang, tidak jauh dari tempatku berdiri aku melihat Bis Bima Suci yang kata Mba Dee masih saudaraan dengan Bis Arimbi jadi tidak masalah jika aku menaiki bis ini. Singkat cerita, bis ini berjalan pukul 19.30 dari Serang setelah ngetem 30 menit, dan tiba di pintu Tol Pasir Koja Pukul 01.00 dini hari.

Dijemput di pinggir Jalan Tol, dan ke Pangalengan dini hari

Setelah melewati kemacetan Jumat malam rutin ala ibu kota negara yang sudah 6 bulan tidak kulihat, Kang Renza akan menjemputku di pinggir jalan setelah keluar Tol Pasir Koja. Astaga ini aku tidak akan tidur semaleman deh, karena sesuai dengan rencana kami akan jalan jam 03.00 dari Sariwangi. Kang Renza menyetir super ngebut di jalan tol dengan kecepatan 150 km/jam, kami berhasil tiba di Tol Pasteur 10 menit saja. Sedikit drama mewarnai perjalanan menjemput Mba Dee ini, setelah berbelok ke arah Sarijadi, kelupaan deh liat share location Mba Dee, persis di keluar tol. Sehingga setelah masuk Surya Sumantri, Kang Renza memutuskan untuk mundur secepat kilat juga. Oh tuhan, penuh cerita memang perjalanan kali ini.

Setibanya di Sariwangi, aku dan Mba Dee disambut oleh Mami Evie, Teh Yani, dan Ines. Sementara Ayu katanya sedang bobo cantik. Aku putuskan untuk segera mencuci muka dan sikat gigi, tiba-tiba Kang Renza menawarkan untuk membuatkan mie goreng untukku dan mba dee. Bahagia sesederhana itu ditambah segelas susu segar leci dari Ines. Astaga ini mau sahur atau gimana sih. Tak terasa udah pukul tiga saja, dan kami siap-siap berangkat mengarungi jalan yang berkulak kelok berkabut! Hahahaha kosa kata baru tuh di Kombis

15 derajat di Sunrise Point Cukul

Tepat pukul 05.20, kami tiba di area Sunrise Point Cukul, dan udara dingin langsung menusuk persendian. Ku lihat di ponselku suhu menunjukkan angka 15 derajat. Brrr dingin sekali. Dua jam penuh aku tidur di mobil, dan alhamdulilah mata agak-agak perih gitu ketika dibuka karena kurang tidur. Setelah wudhu dengan air yang rasanya sedingin es, dan salat subuh, kami berjalan kaki tidak jauh ke area banyak orang berkumpul.

Langit subuh berwarna oranye, biru, dan merah bercampur memanjakan netra. Lama kelamaan langit dan matahari muncul perlahan-lahan. Ini adalah salah satu yang kami syukuri karena menurut ramalan cuaca yang diinfokan Kang Renza, dari subuh hingga sore cuaca Pangalengan akan diguyur hujan. Ya allah nikmat tuhan manalagi yang kamu dustakan.

Core Tim KOMBISA
Formasi Lengkap 

Kalau soal Cukul aku lebih senang menceritakannya lewat poto-poto saja ya, karena hamparan kebun teh nan hijau berpadu dengan cahaya langit pagi itu sangat indah. Terkadang sulit kuungkapkan lewat kata-kata dalam tulisan ini. Segala gaya, dan area photo kami jajah pagi itu untuk mendapatkan moment terbaik, dan terkece. Aku begitu mencintai kebuh teh dari dulu, sehingga datang ke Cukul lagi setelah kunjungan terakhir tahun 2018, betul-betul membuat hatiku riang, tenang, damai, dan bersyukur.

Villa Jerman yang sangat instagenic
Villa Jerman yang sangat instagenic

Merasa perut ini keroncongan, kami bertujuh langsung menghampir warung yang menyediakan aneka menu sarapan pagi seperti mie rebus, gorengan, teh, kopi dan makanan ringan lainnya. Kami memesan mie rebus kembali pemirsaaaa, padahal baru jam 2.00 dini hari tadi makan mie. Gak dosa lah ya, mie rebus kari ayam dengan topping telur, sukro, dan cabe rawit pagi itu begitu menggiurkan.

Sarapan dengan pemandangan kece
Sarapan dengan pemandangan kece

Tea Walk hingga Situ Cukul

Karena perut terisi mie rebus dan dahaga telah terlepaskan, kami memutukan untuk tea walk di area Kebun Teh Cukul ini. Tea walk tidak lengkap tanpa berpose kan ya. Jadilah banyak tempat yang kami pakai sebagai tempat berpose. Tujuan utama kami yaitu menjelajah Situ Cukul dengan lanskap menarik dan instagenic. Berpoto di area situ ini sangat cantik, karena ada latar belakang Villa Jerman yang sangat terkenal itu. Pantulan sinar matahari di air situ, langit biru, Villa Jerman nan iconic tentu saja membuat poto-poto yang dihasilkan mendapatkan decak kagum.

17 derajat dipagi hari yang cerah
17 derajat dipagi hari yang cerah


Tempat ini begitu magis, menawan hati, dan selalu mengajak untuk terus-terus mengunjunginya lagi dari belasan tahun lalu aku menjejakkan kaki di sini. Tak terasa hari beranjak siang dan sudah pukul 09.00 saja, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata berikutnya yang tak kalah menarik. Situ Cileunca adalah tujuan kami selanjutnya. Nah cerita tentang Situ Cileunca dan tempat lainnya bersambung ya.

 

Bersama ines milkines
Bersama ines milkines

You Might Also Like

0 comments

Berkomentarlah sebelum komentar itu ditarif...